First Day (안녕)

162 1 0
                                        

07/04 (Annyeong)

.....

Cahaya matahari pagi bergerak pelan, menyisir setiap celah gelap dengan sinar lembut yang hangat. Udara segar menyapa apapun yang di temuinya. Burung berkicau merdu, mengambil perannya memberi tanda untuk memulai hari.

Kain yang menggantung menutupi kaca melambai ketika angin menyentuhnya. Cahaya jingga yang samar mulai mengisi sebagian ruangan. Di dalamnya seorang remaja masih bergelut dengan sesuatu yang di sebut mimpi.

Dahi berkerut dan berkeringat, nafasnya tersendat bahkan kedua tangannya mulai mengepal, sampai suara benda yang jatuh sontak membuat matanya terbuka lebar. Terbangun dan lagi-lagi menemukan dirinya bergetar kelelahan.

Jeongin menarik dirinya untuk duduk, mengusap keringat dingin di dahi. Segelas air meluncur ke tenggorokannya tapi haus masih tertinggal di ujung lidahnya. Hampa, suasana kamarnya abu-abu selaras dengan apa yang di rasakannya.

Jeongin berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan melihat sambutan pagi di rumahnya. Dejavu, bukan, lebih tepatnya hal yang biasa. Pemandangan yang membuatnya hilang kata.

Di ruang tengah, sang ayah terkapar dengan banyak botol minuman keras yang sebagian sudah kosong dan pecah. Ibunya berada di meja makan, duduk tanpa ekspresi dan hanya menyuapkan nasi dingin dan kimchi minggu lalu.

Jeongin mengumpulkan pecahan beling yang berserakan namun berakhir dengan jarinya tertusuk. Tidak ada ekspresi yang berarti di wajahnya, ia hanya berlalu membersihkan diri dan kembali ke kamar untuk bersiap ke sekolah.

Mengenakan Seragamnya, meraih ransel dan berangkat tanpa mengisi perut. Jeongin tergesa menaiki bis terakhir. Duduk di belakang menghadap kaca dimana wajahnya terlihat kacau dengan kantong mata yang entah sejak kapan ada di sana. Seingatnya ia selalu tidur nyenyak namun ketika terbangun, rasanya seperti sudah berlari belasan kilometer.

Bis tiba-tiba terhenti setelah melaju pelan. Sopir turun dan menemukan ban depan bermasalah. Penumpang diminta menunggu bis lain dan uang mereka di kembalikan, namun Jeongin memilih berlari karena tidak bisa menunggu lebih lama. Sayangnya, langkahnya terasa lambat dan berat.

Jeongin masih berlari di seberang jalan ketika bel terakhir berbunyi. Gerbang sekolah mulai di tutup, Jeongin yang hampir sampai, tiba-tiba tersungkur karena seseorang menabraknya. Lututnya cukup keras beradu ke atas tanah.

"Aduh, Maaf! Kamu gak papa? Sini aku bantu" Ucap seseorang itu

Tangannya terulur, membantu Jeongin berdiri. Ia yakin lututnya berdarah tapi tidak ada rasa perih di kakinya. Jeongin melirik lawan bicaranya, dan ternyata mereka memakai seragam yang sama. Anak laki-laki dengan bintik hitam kecil di bawah matanya itu masih menatap cemas padanya. Tatapan cemas yang pertama kali Jeongin dapat.

"Gak papa. Ayo masuk, nanti telat"

Lawan bicaranya hanya mengangguk, canggung karena membuat orang asing terluka. Mereka berjalan berlawanan arah. Jeongin memasuki kelasnya yang riuh, ia menemukan celana seragamnya sobek dan luka di lututnya berdarah.

Jeongin merapikan sobekan itu, acuh pada luka yang menurutnya hanya goresan kecil. Ia akan membiarkannya, setidaknya sampai kelas berakhir karena sungguh, ia sudah sangat lelah mengejar waktu agar tidak datang terlambat.

7 DaysWhere stories live. Discover now