penanuansa present
Nomin!AU
Jaemin x Jeno
⚠ yaoi content ⚠
───────────────────────────
Langit jingga sendu di senin sore, derap langkah putus asa menggiring seorang pemuda menuju tempat tertinggi. Bedegap diri dengan kepala menengadah keatas, barisan kata terakhirnya terucap untuk menyerahkan diri pada semesta, berharap curam dapat melenyapkan daksa, dengan sukma sebagai imbalan.
Pijakan kaki hanya tinggal satu langkah lagi, sebelum raga merasakan jatuh sedalam-dalamnya, untuk jatuh dan takkan pernah kembali.
Sang jubah hitam telah utuh mendekap, menulikan pendengarannya, membutakan penglihatannya, menutup pikirannya, bersorak kemenangan menyambut jiwa yang sumarah.
Seharusnya, delusi melayang itu terasa nyata.
Seharusnya, ia sudah tiada,
jika saja tidak ada sepasang tangan secara tiba-tiba; mendekap tanpa sedikitpun berucap. Siapa yang berani merantainya?
Langkahnya terkunci, saat sepasang tangan lain ikut mendekap kakinya dengan erat. Bahkan, tangan itu terasa semakin banyak.
Pertahanan pemuda itu meruntuh luruh, larut dalam isak tangis. Tubuh ringkihnya kaku untuk bergerak. Percobaan bunuh diri ketiga, tanpa diduga berakhir gagal oleh nuraga entah darimana.
Pemuda dua puluh dua tahun itu menyerahkan diri untuk beringsut melangkah mundur, seluruh pandangannya menghitam, kepalanya seolah dihantam benda berat yang membuatnya kehilangan kesadaran.
•••
Cahaya lampu kamar menusuk penglihatannya, kepalanya luar biasa pening saat kesadaran berusaha menariknya dari dunia hitam. Pemuda itu jelas ingat kejadian terakhir yang membawanya ke sebuah ruangan persegi, hanya saja tak sempat merekam sosok malaikat yang mendekapnya.
Pintu terbuka, menghadirkan seorang pemuda masuk ke dalam sembari membawakan teh hangat, berusaha membuat pergerakan setenang mungkin, dengan seulas senyum tulus yang terpatri di bibirnya.
Na Jaemin, dua puluh tahun. Mahasiswa jurusan Psikologi.
Sebenarnya, ia canggung luar biasa, takut-takut akan salah bicara. Padahal sebentar lagi, menghadapi kasus seperti ini akan menjadi rutinitasnya di kemudian hari.
“Katanya, teh hangat bisa menenangkan sekaligus menghangatkan badan. Aku bawa dua, siapatau kamu lebih suka untuk minum bersama.” sapanya memulai perbincangan.
Pemuda itu menerima segelas teh yang diberikan, hanya terdiam memperhatikan Jaemin meminum tehnya duluan. Jaemin dengan rasa payahnya dalam membujuk, berusaha memikirkan hal lain agar pemuda didepannya mau minum.
“Oh, butuh sedotan? sebentar ya—”
Tangannya ditahan saat hendak beranjak pergi, membuatnya kembali terduduk. Pemuda itu meminum tehnya setengah gelas, sebelum Jaemin menyimpan gelasnya di meja seraya berkata,
“Terimakasih.”
Jaemin membalasnya dengan anggukan dan senyuman se-ramah mungkin, satu langkah telah berhasil ditempuhnya.
“Ingin makan sesuatu?” tawarnya lagi.
“Tidak perlu, terimakasih.”
“Kalau begitu aku akan kembali menawarkanmu makanan lima belas menit lagi.”
Sebenarnya, pemuda itu bingung, mengapa pemuda bersurai coklat itu tiba-tiba baik padanya? apa niatnya?
“Oh, kenalkan. Na Jaemin. Panggil saja sesukamu, aku akan menyukainya.” ucapnya sembari mengulurkan tangan.
YOU ARE READING
Listen Before i go | nomin ✔
Fanfiction(AU) Na Jaemin ingin membuat Lee Jeno bertahan hidup lebih lama, membantunya bangkit menyambut kehidupan yang lebih baik, dan mengerti cara memaknai kehilangan dengan keikhlasan. © penanuansa
