Dengan lesu kupandangi genangan air danau didepanku. Dengan pantulan sinar senja matahari, danau itu terlihat sangat indah. Tapi keindahan itu tidak cukup untuk membuatku terkesan.
Sampai sebuah pita tiba-tiba melintas dihadapanku lalu mendarat tepat di tiang penyangga di sebelahku.
Aku mengambilnya dan melihatnya dengan teliti. Sebuah pita berwarna merah cerah yang bagus.
"Anuu permisi."
Mendengar panggilan tersebut aku membalikkan badanku dan melihat sumber dari suara tersebut.
"Terima kasih sudah mengambilkannya, itu pitaku." suaranya sangatlah lembut, rambutnya yang berwarna coklat teruirai indah kebawah, dan iris matanya yang berwarna aqua menatap lekat diriku.
Tak salah lagi, orang yang berdiri dihadapanku adalah seorang gadis yang menjadi perpaduan luar biasa antara cantik dan imut.
Saking cantiknya aku bahkan tidak bisa berekspresi dengan benar.
Hingga akhirnya dia mendekatiku dan memandangiku dengan heran.
"Anuu kamu tidak apa-apa?"
Wajahnya sangat dekat, sampai-sampai membuyarkan lamunanku dan membuatku mundur selangkah.
"Ahh ti-tidak apa-apa."
"Khh."
Melihat kegagapanku dia, tertawa dengan manis, disusul dengan wajahku yang sepertinya sudah memerah seperti kepiting yang direbus.
"Kamu lucu ya."
"Ehh ti-tidak juga."
Dia menunjuk pitanya yang sedari tadi kupegang.
"Bolehkah aku mengambilnya?"
"Ahh i-iya ini."
Seraya mengambil kembali pitanya, gadis itu lalu mengikatkannya kerambutnya.
Padahal hanya tambahan sebuah pita, tapi entah kenapa kesan cantik dan imutnya bertambah besar.
"Terima kasih ya."
Dia memberiku senyumannya yang mematikan.
"S-sama-sama."
Dia membalikan badannya dan memandang pemandangan danau layaknya yang kulakukan sebelumnya.
"Bukankah ini indah? Sinar senja yang terpantulkan genangan air danau."
"Iya, ini adalah tempat yang bagus untuk menjernihkan pikiran."
"Ahh aku juga sependapat denganmu, ehh ngomong-ngomong...."
Dia kembali memandangku lalu mengulurkan tangannya padaku.
"Namaku Katsuragi Misaki...Kalau kamu?"
"Ahh namaku Kirigaya Ryuga, salam kenal Katsuragi."
Dengan ragu kujabat tangannya.
"Panggil saja Misaki."
"Baiklah, Misaki."
"Bolehkah kupanggil Ryuga?"
"Tentu."
"Kalau begitu, salam kenal Ryuga."
Itulah pertemuan pertamaku dengan Misaki, orang yang akan menjadi tokoh penting dalam kisahku kedepan.
Setelah kejadian itu kami selalu bertemu dan mengobrol. Perlahan demi perlahan kami semakin dekat dan perasaan kagum dan takjubku akan dirinya telah berkembang menjadi sesuatu yang baru pertama kali kurasakan.
Setelah hampir sebulan berlalu, tiba-tiba terjadi sebuah kejadian. Kejadian yang membuat jarak diantara kami semakin kecil.
Hari itu aku mendapat info kalau dikelas kami akan ada murid pindahan baru.
Dan mengejutkannya lagi dialah si murid pindahan itu, gadis yang akhir-akhir ini dekat denganku, Katsuragi Misaki.
Tak butuh waktu lama untuk Misaki mengakrabkan diri dengan teman sekelasnya yang baru, dalam sekejap saja dia bukan hanya akrab, bahkan telah menjadi idola kelas.
Terkadang aku mendapat tatapan iri dari banyak lelaki dikelasku karena keakrabanku dengan Misaki.
Kudengar dalam sehari selalu ada orang yang mencoba untuk menyatakan perasaannya pada Misaki, tapi Misaki selalu menolaknya dengan alasan belum ingin menjalin hubungan tertentu dengan siapapun.
Hal itu entah kenapa selalu membuatku tenang tapi terkadang juga membuatku resah. Untuk pertama kalinya, aku tidak mengerti dengan yang hatiku inginkan.
Beberapa hari kemudian
Bel pulang sekolah berbunyi, hujan turun dengan lebatnya dan bodohnya lagi aku tidak membawa payungku.
Aku berpikir dengan keras 'apa aku harus berlari menerjang hujan dan berakhir sakit keesokannya? Atau aku harus menunggu sampai reda tapi pulang terlalu larut?'
Untungnya aku tak perlu memilih keduanya, karena seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang lalu berkata "Kalau tidak bawa payung, kita pulang barengan saja."
Dari suara lembutnya aku sudah bisa menebak siapa dia.
Aku berbalik dan memandang sosok Misaki yang sedang memegang payung sambil tersenyum manis.
"Tapi kan payungnya hanya satu?"
"Ohh tidak apa-apa, payungku cukup besar untuk dua orang kok."
"Hmm bagaimana ya...."
"Ayolah, sekali-kali kita pulang barengan lagi."
Aku tidak tahan saat melihat wajah memelas Misaki, dan akhirnya aku menyetujuinya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Aishteiru Misaki
ContoSebuah kisah cinta kecil yang berawal dari sebuah pertemuan tak disengaja antara sang MC dan Heroinnya
