Kala senja di Kota tercinta,
Di sini aku menemukan hidup,
Dengan surya yang masih menempel di bibirku, memanggul tas yang berisi makanan ringan dan beberapa uang.
Aku melihat warna-warni lampu jalanan, dan melihat sebuah kedai di pinggir jalan, aku sempatkan mampir sejenak untuk melepas peluh.
Aku ingat pesan ibu yang sudah terpahat di dalam otak, ibu slalu bilang: kalau uang sudah habis pulanglah ..
Ibu tak usah khawatir ..
Aku di sini masih ada banyak uang,
Ibu tak usah cerewet lagi ..
Aku di sini hanya untuk memahami hidup yang di nilai buruk.
Bukan aku melawan perintah ibu,
Maafkan aku ibu ..
Aku belum ada nasib baik untuk membanggakan ibu.
Tiap malam aku slalu menghampiri kedai, warung kopi, atau duduk sendiri dipinggir pantai,
Mendengarkan oceh pikiran yang beradu dengan asap surya,
Rasanya mulut ini susah untuk melerai.
Aku belum bisa menemukan jawaban,
Tapi aku rindu pintu rahim,
Pintu yang membebaskan aku dari belenggu pusar,
Melihat cahaya, wajah-wajah asing, mendengar ocehan tak waras.
Aku hanya bisa menangis kala itu,
Maaf ibu ..
Aku akan pulang, dan menunggu waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Bulan
PoetryKita baru pulang setelah menemukan jati diri. Baca dan jangan lupa follow agar penulis lebih giat lagi menulis.
