Your Words

50 4 9
                                        

Aku mengisap rokok terakhirku selagi berlindung dari guyuran hujan malam ini. 

Sekarang pukul 11.12 dan aku teringat padamu, untuk yang ke sekian kalinya.

Permen karet yang telah hambar, dan ciuman rasa permen karet malam itu.

Meskipun berkali kali aku berusaha, berkali-kali itu juga kau menolak ku. Alasan mu selalu sama, aku bukan wanita baik, katamu.

Sebenarnya tidak pernah ku permasalah kan, meskipun beberapa kali aku melihatmu bersama pria lain di tempatmu bekerja, ku pikir itu bukan masalah. Itu pekerjaan yang kau pilih. Mereka bilang kau wanita panggilan, tapi kau menyebutnya penyejuk dunia. Waktu itu aku hanya tertawa mendengarnya, sambil memainkan rambut panjang mu.

Kau juga selalu bilang kepadaku, ini bukanlah cinta. Aku tahu. Tapi meskipun ini bukan cinta, aku selalu ingin melihat manik hitam matamu, seperti candu yang sulit di lepas, seluruh tubuhmu adalah candu.

Hujan sudah tinggal rintiknya, aku menginjak puntung rokok ku dan membuangnya di tong sampah. 

Ah iya, waktu itu. Pertama kali kita bertemu, di belakang tempatmu bekerja, rambut mu basah, atasanmu meneriakimu, beberapa kali kau ditampar. Hampir aku meninju atasanmu kalau saja kau tidak mencegahku, aku benar-benar ingat kata kata yang kau ucapkan ketika itu, rasanya seperti baru kemarin aku mendengarnya. Sambil menarik lenganku kau berbisik

Sudahlah, makhluk sepertiku tidak pantas mendapat pembelaan.

Katamu. Lalu masuk kembali ke tempat mu bekerja. Aku begitu kesal sampai sampai menendang tong sampah yang ada di situ. Aku tidak terima kau menganggap dirimu seperti itu. Seperti kerasukan aku masuk ke klub tempat mu bekerja, itu adalah pertama kalinya aku menginjakan kaki ke klub, aku nyalang mencarimu. Kau disana bersama atasanmu dan beberapa pelanggan, kau membungkuk dalam. Sungguh ketika itu aku sama sekali tidak mengenalmu, tapi jiwaku seperti terbakar melihatmu diperlakukan seperti itu.

Aku menarik tanganmu ketika itu, dingin. Semua orang disana kaget. Detik selanjutnya sebuah suara yang ku kenali sebagai suaraku sendiri, dengan lantangnya berkata. Aku ingin menyewa wanita ini. Begitu kataku. Itu adalah satu hal gila, tidak pernah terbayang akan aku laku kan. 

Aku membawamu keluar klub, duduk di pinggiran jalan. Kita hanya diam disana lama. Kau dengan rokok mu dan aku dengan pikiran ku.

Kau bertanya berapa uang yang ku keluarkan. Aku menjawab nominal yang ku keluarkan.

Bodoh, katamu. Lalu kau mengisap dalam rokok mu seakan seluruh hidup mu hanya bisa diselamatkan sebatang rokok itu. 

Kau punya sisa 2 jam lagi. 

Aku hanya bergumam lalu memberikan jaketku untuk menutupi kakimu. Kau melihatku aneh sekilas lalu kembali ke pandangan tidak peduli mu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, aku terus bertemu dengan mu. Kau dengan sifat masa bodoh mu dan aku dengan diriku. Seperti sesuatu yang benar. Tapi sepertinya hanya aku yang merasa seperti itu. 

Jalanan malam ini lebih sepi dari kemarin, mungkin karena ini hampir tengah malam, lagi pula ini sehabis hujan. Aku merapatkan jaketku, bunyi kecipak air terdengar karena sepatuku menginjak genangan air. Aku mengunyah permen karet, stroberi mint. Rasa kesukaanmu.
Manisnya telah hilang, tapi aku tetap mengunyahnya, kau bilang disitulah esensi makan permen karet. Aku mencibirmu ketika itu, untuk apa makan permen karet kalau sudah tidak ada rasanya, bukan kah yang tersisa hanya rasa hambar.

Lalu kau menjawab. Karena itulah kau suka permen karet, ketika manisnya sudah hilang, tinggal rasa mint yang tertinggal. Dingin, tapi nanti juga hilang, lalu yang ada tinggal rasa hambar sampai kita membuangnya. Aku yang tidak mengerti hanya menggeleng heran, kau tersenyum ringan lalu menciumku dalam.

Setelah itu berminggu aku tidak mendengar kabar darimu, atasanmu bilang kau cuti. Tapi aku juga tidak menemukan mu di flat. Ketika minggu berganti bulan aku semakin gila karena tak menemukanmu. Hampir setiap malam aku ke tempatmu bekerja dan berakhir bangun di kasur flatmu. Dua bulan itu kegiatan ku adalah bekerja dari pagi hingga petang, lalu menghabiskan malam di meja bar tempatmu bekerja. Atasan dan bartender tempatmu bekerja sampai melihatku dengan tatapan iba. 

Lalu tanggal 21 November malam, ketika gelas keempat ku tenggak habis, bartender mengangsurkan sebuah amplop putih kusut ke hadapanku. Aku mengangkat sebelah alis, setengah mabuk aku membacanya. Kau menulis alasan alasanmu yang sama sekali tidak bisa ku mengerti, permintaan maafmu, dan terakhir harapanmu untuk ku. Persetan dengan surat mu. Aku menarik kerah bartender mu. Bertanya dimana kau, dia bilang dia tidak tahu. Aku melepasnya kasar, aku tahu itu salah tapi otak ku sudah tidak bisa berpikir jernih. Aku berlari kearah pintu belakang tempat kerja mu, menerobos orang orang yang protes karena ku tabrak, aku tidak peduli. Firasatku kau berada tidak jauh dari ku, tapi tidak ada. Kau tidak ada. 

Aku meremas kasar rambutku, meneriakkan frustrasi ku. Aku meremas suratmu, ingin ku buang. Tapi lalu ku urungkan, aku memasukan kembali kertas yang kini semakin kusut itu ke saku jaketku, salah satu jaket favorit mu juga. Setelah sedikit tenang, aku menyulut rokok, menghabiskan beberapa batang lalu masuk kembali ke dalam, membereskan kekacauan yang ku buat.

Seminggu setelahnya, tanggal 28 November malam ketika cuaca sedang bagus, seseorang menekan bel rumahku. kebetulan aku sedang mengambil persediaan baju. Perempuan yang tidak ku kenal, wajahnya sembab sepertinya terlalu banyak menangis. Dia mengatakan hal yang tidak masuk akal, sama sekali tidak masuk akal.

Dia bilang kau bunuh diri. Dia bilang dia tahu alamatku dari catatan yang kau tulis dalam ponsel mu. Perempuan itu bilang pemakamanmu akan diadakan besok. Aku tertawa aneh, tidak percaya. Besok paginya aku pergi ke tempat yang perempuan itu sebutkan, tidak aku tidak mengenakan jas seperti yang atasanmu atau bertender tempatmu bekerja kenakan, Aku hanya memakai pakaian ku sehari hari. Kaos putih kusut, jeans belel robek yang sering kau pinjam dan jaket parka hijau gelap favoritmu.

Anehnya aku sama sekali tidak menangis ketika itu. Aku juga heran. Aku hanya datang, melihat wajahmu lalu meletakkan sebungkus permen karet kesukaan mu dan sekotak rokok yang biasa kau hirup.

Sejak hari itu aku berhenti mengunjungi tempat kerja dan flat mu. Aku kembali ke rumahku menjalani hari seperti biasa, yang berbeda hanyalah aku jadi sering lembur mendesain mebel di studioku. Hampir setiap hari selama dua tahun. 

Lalu surat dari perempuan yang belakangan ku ketahui sebagai sepupumu datang. Katanya polisi menemukan siapa pembunuhmu. Ya, setahun lalu polisi menyatakan kalau kau tidak bunuh diri, tapi di bunuh. Setelah pembunuhmu ditemukan, aku keluar dari sangkar yang ku buat untuk diriku. Aku mengikhlaskanmu.

Terhitung sudah tiga tahun setengah sejak aku tidak melihatmu. Sekarang bulan Juli, udara sudah mulai dingin, lagi pula ini sudah malam. Aku bergegas pulang ke rumah, menyalakan penghangat ruangan lalu mulai lanjut melukis, salah satu kegiatan yang mulai aku geluti setahun yang lalu selain selain usaha gagal ku untuk berhenti merokok.

Besoknya aku kembali melanjutkan hidup seperti biasa. Suratmu masih sering ku kantongi ketika aku merasa membutuhkannya, tapi sedikit demi sedikit aku akan mencoba melepaskanmu. Seperti harapanmu di kertas kusut ini.
Yah, meskipun untuk benar benar melepasmu akan butuh waktu yang sangat lama.

ー終わったー

Your WordsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang