A K U B A H A G I A

19 4 1
                                        

Oooo pagi yang membosankan,berat sebenarnya mata ini terbuka namun bagaimana lagi ada rutinitas buruk yang harus aku jalankan dan wajib aku laksanakan. Malas sebenarnya,bangun pagi lanjut mandi pergi ke meja makan untuk sarapan lalu berangkat kadang pula bertemu banyak orang-orang menyebalkan.

Ya, sekolah. Tempat mana lagi yang paling digerutui oleh manusia-manusia pemalas-ya sepertiku. Namun rasa sebal itu akan berganti dengan bahagia ketika sudah bertemu dengan mereka yang gila. Jika bukan sahabat-dan DIA siapa lagi yang kita bahagiakan saat mencapai gerbang siapa lagi yang akan kita senyum lebarkan selain mereka para penggila dan pembahagia suasana.

"Enak nya bolos sih ke mall," Ucap Ien sambil mengutak-atik handphonenya.

Manusia yang aku rasa sarafnya agak terganggu bagaimana tidak setiap hari pasti saja ada ajakan bolosnya entah nongkrong ke cafe cafe atau mall mall tapi yang jelas ia hanya berani mengajak tapi tidak benar-benar beranjak sebab dia tahu resiko apa yang akan dia tanggung jika melakukan hal bodoh seperti itu.

Flauren grabiel-Ien,begitulah aku memanggilnya. Manusia  yang tak pernah meninggalkanku-bahkan saat dunia membenciku. Yang bertahan dengan segala tingkahku,yang slalu menggenggam erat raga ini,yang slalu merangkul aku dengan candanya. Senyumannya slalu aku nantikan dan manusia paling gila yang pernah aku temui namun seburuk-buruknya Ien hanya Ienlah yang mampu menghapuskan banyak duka,mengobati banyak luka.

Oh iya, hampir lupa aku memperkenalkan siapa diriku. Namaku R a r a. Jika kalian tanya siapa nama panjangnya mungkin aku hanya bisa jawab Raraaaaaaaaaaaa ya kalian tahu pastinya kenapa aku menjawab itu. Tapi teman-teman memanggil ku dengan sebutan Rara Gomez ntah apa motivasi mereka memanggilku seperti itu dan ntah apa yang merasuki aku hingga aku mau saja dipanggil seperti itu. Haha

"Ko diam?" Tanya Ien padaku,tapi aku tetap diam.

''LAH BOCAH NGAPA YAKKK???!"

Lanjutnya dengan nada sebal,aku tahu jika aku tak menjawab pertanyaannya pasti dia akan kembali bertanya dengan nada yang jelas lebih tinggi sudah paham aku bagaimana kelakuan tak jelas manusia purba ini.

"Mengapa tak ada ucapan selamat pagi darinya?" Ucapku,

lalu Ien kembali menyemprot ku,

"YAWLO LO TEH DARI TADI DIEM MIKIRIN ITU DOANGGG? GILA KALI YA," aku diam.

"Ya ampun neng! gak ada ucapan selamat pagi juga gak bakal buat mati kaliiii,makanya pagi-pagi itu awali dengan sarapan bukannya harapan!!"

Ya aku paham sebenernya,namun terasa hambar saja gitu jika tak ada ucapan selamat paginya atau sapaan hangat darinya-yang selalu buat tentang batin ini.

"Yaudah iya,tapi kan kalau gak ada sapaan darinya seengganya pengen liat dia gitu biar aku bisa memastikan bahwa dia masih berada di bumi," Sahutku.

"Aduh aduhh lagaan kek Dilan segala, jijayyy!" Ledek Ien sambil mengacak-acak rambutku.

TRINGGG... TRINGGG...

Bell sekolah berkumandang, waktu sudah menunjukan pukul 08.00 dan sudah saatnya untuk menatap tv besar yang akan diisi oleh angka-angka-ya pelajaran pertama matematika.

Mantap sekali bukan sarapan pagi dengan rumus rumus,sudah langsung matang pasti otak ini. Aku membuka tas,memilah buku yang akan aku keluarkan serta buku catatan untuk mencatat angka-angka bernuansa sangat indah itu-tapi boong.

Aku pikir pak Beni yang akan datang,namun tiba tiba

"Selamat pagi,Tuan Putriku," sapanya dengan senyum hangat itu.

Astaga Bram!! Aku senang melihatnya datang.

"Jangan marah yaa,gue terlambat bangun jadi agak kesiangan dehh maaf bangetttt nih sarapan rotinya,Tuan Putri." Kata Bram sambil menyodorkan sekotak bekal berisikan roti serta gula manis di pipinya yang selalu ia pamerkan padaku-mungkin pada semesta juga.

"Ya ampun! Gue gak marah kok,gapapa kali."

"Btw , makasih bekalnya." Timpalku sebari mengambil kotak bekal yang disodorkan Bram.

Entah kenapa,aku tersipu untung kulitku tak seputih Ien jika iya mungkin sudah terlihat pipiku memerah.


"Serius??" Tanya Bram dengan sok khawatirnya.

"Bohong Bram! Sejak pagi aja wajahnya udah ditekuk" sahut Ien ikut-ikutan membuatku tambah malu saja.

"Haha,serius? maaf ya Re," Ucap Bram setengah gelisah.

"Tak apa,itu kan tadi,bukan sekarang yang penting lo udah dateng kesini aja udah cukup buat kepala gue kembali bergerak." Lalu Bram tersenyum,dan izin kembali ke kelas sebab pak Beni sudah memasuki kelas.

Saat dia pergi bahkan bayangnya pun sudah tak tampak namun senyum ini terus mengembang.

Oh semesta pagi ini sangat indah. Terimakasih,
A K U B A H A G I A!!!.

Giver of a SmileStories to obsess over. Discover now