Mentari pagi menampakkan senyumnya. Sorot demi sorot cahaya menusuk kaca jendela sebuah ruangan bernuansa Tosca yang memiliki makna "Calm".
Mata itu beberapa kali terkejap akibat tusukan sorot cahaya Mentari
"Astaga jam berapa ini YaTuhan?!" Ia beranjak dari tempat istirahatnya,
sekilas Ia terfokus pada jam beker di atas nakas samping tempat tidurnya.
(Pukul 06.00 WIB)
Tentu saja Ia sangat terburu-buru, bodoh baginya jika Ia hanya tumpang badan di atas Sofa kamarnya.
Ia terlihat anggun dengan seragam putih abu abu yang tertanggal di tubuhnya, ditambah rambut nya yang hitam pekat bergelombang dibiarkan terurai begitu saja.
"Awali pagimu, dengan semangat letta:)"
Ia berbicara sambil menatap dirinya sendiri, tak salah lagi Ia sedang berbenah penampilan, hanya sekedar lipsgloss filter natural saja kecantikannya bertambah berkali kali lipat. Ia tersenyum kepada dirinya sendiri.
Aletta Sabrilyane Dominoque, gadis berparas cantik, bermata bak berlian nan indah. Gadis dengan semangat yang tinggi yang menjadikannya alasan bahwa Ia adalah orang yang tidak kenal putus asa, apapun keinginannya harus Ia kejar dengan semangat nya.
"Letta! Waktumu berharga! Jam berapa ini ha?! Bisakah kau cepat sedikit?! YaTuhan, manusia seperti apa kau ini?!"
Teriakan Tarissa Dominoque yang tak lain adalah bunda dari sang Alletta, ruang makan menjadi tujuan letta beranjak dari kamarnya
"Selamat pagi bunda!:)" Dengan pijakan semangat Ia menuruni anak tangga tak lupa Ia selalu tersenyum
"Apa kau tidak waras? Ha?! Jam berapa ini? Jika kau terlambat, apa yang harus kau lakukan?"
Bentakan Tarissa membuat hati letta bagaikan tertusuk ribuan jarum. Memang begitu Sang Bunda, entah mengapa, Letta pun masih bertanya tanya. Mengapa sang Bundanya bersikap seperti ini kepadanya, dari dulu Letta harus menahan segala sakit yang Ia rasakan. Apa yang membuat Sang bunda tidak bersahabat dengannya?.
"Be patient Letta:)" batinnya berusaha menenangkan hatinya.
"Maaf Bun... Semalam Letta menyelesaikan tugas hingga larut, Letta kira Letta akan mudah untuk bangun pagi ternyata kesiangan"
Letta tertunduk, Ia tak berani menatap bundanya, Bukan! Bukan! Bukan karena Ia takut dengan tatapan bundanya, Ia hanya akan membenci dirinya sendiri jika Bundanya melihat hanya setetes air matanya saja, baginya itu lebih menyakitkan dari bentakan Tarissa, sang bunda.
"Kau cerdas. Dalam hal beralasan"
Tarissa terlihat tenang namun perkataannya berhasil mencabik Kembali kepingan hati Alletta.
"Duduklah, kau harus sarapan sebelum berangkat ke sekolah"
Seketika hati Letta merasakan kehangatan, Ia tahu dibalik sikap Sang bunda yang acuh terhadap nya masih ada kepedulian di hati sang bunda.
----
"Papa, kali ini aja pa... Alletta mau diantar Papa" Alletta memelas kepada Ayahnya
"Nak... Maaf ya Alletta harus mandiri, mobil Letta kan ada nak... Berangkat sendiri ya. Papa lelah sekali, dan setelah ini Papa juga harus kembali ke kantor"
Wijaya Dominique berusaha membujuk Putri kesayangan nya agar nantinya Ia tidak sedih, Ia tahu apa yang dirasakan putrinya Alletta, itu yang membuat nya merasa sangat bersalah. Ia bergelimang harta, kebutuhan putrinya Selalu Ia utamakan, mampu Ia penuhi, bahkan jika Ia dimintai untuk membeli berlian untuk putrinya Ia mampu tetapi pahit, kasih sayang untuk putrinya hanya setipis benang.
"Papa minta maaf Letta, papa janji kapan kapan Papa anterin kemana aja yang Letta mau" Ia berusaha menyemangati Putrinya
"Terimakasih Papa:)" Ia tersenyum, senyuman yang membungkus kekecewaan.
"Selalu saja begini...:)" Letta meratapi kepedihannya yang hanya bisa Ia pendam.
••••••
Tinggalkan vote mu:)
Vote mu adalah semangat ku untuk part selanjutnya:)
Dikit dulu gapapa ya hehe
YOU ARE READING
Changes
Teen Fiction-Alletta sabrilyane Dominoque Gadis ceria berparas bak bidadari namun kisah kehidupannya tak seindah parasnya. Pedih, sakit, sepi, hancur yang Ia rasakan Namun keajaiban datang, bertemu seseorang yang mampu membuatnya bangkit kembali. Aka...
