10/11/2018
Suara langkah kaki menggema di setiap lorong sekolah yang di lewatinya dengan langkah cepat, sesekali ia mempercepat langkahnya dan berlari sambil melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya.
Seketika sesampainya di depan pintu kelas yang sudah tertutup dengan rapat.
Menandakan bahwa mata pelajaran sudah dimulai.
Ia menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkanya pelan-pelan untuk menetralkan detakan jantung yang tadinya memompa dengan cepat.
Merapikan ujung bajunya yang keluar dari dalam rok yang tadi sudah ia rapikan sebelum berangkat kesekolah.
Merapikan rambut panjangnya yang sudah dikuncir kuda, serta merapikan posisi kaca matanya yang tebal yang digunakan untuk penerangan saat melihat.
Setelah merasa dirinya sudah rapi barulah ia mengetuk, membuka pintu dan tidak lupa mengucapakan salam.
"assalamualaikum"
Ucapnya lirih langakahnya terhenti tepat di depan guru yang sedang berdiri didepan papan tulis.
Kepalanya menunduk, tubuhnya sedikit bergetar saat ibu novi guru matematika yang terkenal dengan julukan guru killer disekolah menatapnya dengan wajah datar.
Suara langkah sepatunya saja sudah membuat jantungnya berdetak lebih cepat, seakan-akan ingin keluar dari sarangnya.
"Kenapa terlambat,,?" ucapnya dengan suara yg tegas
"Maaf, saya telat bangun,,!"
"Kali ini kamu dimaafkan, tapi jika diulangi lagi akan ada hukuman"
hanya menganggukan kepala sbagai jawaban.
Bruuukkk...
Tubuhnya terjatuh kelantai ditemani dengan buku-buku berserakan yang tadi dibawanya dari perpustakaan.
Mengadahkan kepalanya keatas, melihat seorang gadis yang tadi sengaja menyenggol kakinya hingga ia terjatuh.
Gadis itu trsenyum penuh kemenangan disaat melihat lututnya terluka dan mengeluarkan darah.
Hanya terdiam tak berani berkata, ini bukan yang pertama kalinya tapi yang kesekian kalinya ia dibully oleh teman sekelasnya yaitu Renata.
Gadis yang terkenal cantik, angkuh dan sombong dikelas, ia tak memiliki keberanian untuk melawan meski sebenarnya ia mampu, krna ia memiliki ilmu bela diri yaitu karate.
Rasa takutnya lebih besar dari rasa keberaniannya hingga ia memilih untuk terus diam.
Renata melempar wajahnya dengan buku tulis hingga kaca mata tebalnya jatuh kelantai.
"Lo kerjakan PR gue"
Perintahnya sambil tersenyum tipis, iapun mengangguk sebagai jawaban, cepat-cepat ia meraba lantai mencari letak kaca matanya berada.
Kreeeekkkk....
"Oh, no"
Renata menekan kaca matanya dengan sebelah kakinya, meski ia tidak bisa melihat tapi ia yakin suara retakan itu berasal dari kaca matanya.
Kini kaca matanya hancur menjadi beberapa bagian.
"Stupid"
ucap renata lalu pergi meninggalkannya sendiri yang masih terduduk lemas.
Mendesis perih saat lututnya yang terluka diobati oleh petugas UKS.
Terus terduduk menunggu ibu intan petugas UKS berbaik hati untuk membetulkan kaca matanya.
ESTÁS LEYENDO
CERMIN WAKTU
FantasíaSperti cerita dongeng putri salju, dimana memiliki seorang ibu tiri yg jahat dan memiliki sebuah cermin ajaib yang dapat berbicara dan melihat siapa yang paling tercantik dinegeri itu. tapi cerita ini berbeda, bukan cermin ajaib melainkan cermin wak...
