#1.

4 1 0
                                        

Sebuah Mansion indah, Megah nan juga khas pada zaman saat itu. Kamar pribadi milik semua anggota keluarga, Ruang makan, Ruang Kelurga, Taman, Dapur, Ruang tamu, bahkan Kamar pembantu pun tak lebih jelek dari kamar sang Tuan Rumah.

14 - Desember 1955

*Saat Kaage berusia 9 tahun*.
Setting :  Kamar Kaage.

"Kaage, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?." Tanya Alcandor pada Kaage.

"Sudah jauh lebih baik, Kak. Kenapa kakak datang kesini? Apa kakak tidak sedang berlatih dengan Ayah?." Tanya sang Adik.

"Aku sudah meminta izin untuk istirahat lebih awal pada Ayah, dan Ayah mengzinkannya. Lalu aku menemui Adik kecilku."Jawab sang Kakak sambil menggoda Kaage.

Tak berapa lama kemudian, Dari luar kamar terdengar suara teriakan yang berat, dan juga serak, namun, Kaage merindukan suara itu. Suara membuat Kaage rindu. Sang Ayah berteriak.

"Alcandor .... Segera keluar dari kamar "anak itu" dan segera turun lanjutkan latihanmu hari ini sampai selesai. Jika tidak kau akan tau akibatnya." Seru sang Ayah sambil berteriak.

"Baik, Ayah. Aku akan segera turun." Jawab Alcandor.

"Nah, Sekarang istirahatlah, istirahat yang banyak sampai kau sembuh total. Jika kau sudah benar - benar sembuh, nanti kau kuajak jalan - jalan keluar mansion, Jadi, Bagaimana? Setuju? Adikku yang manis?😄." Rayu Alcandor pada Kaage supaya Kaage mendengarkan dan patuh pada kata - kata sang kakak, karena Kaage suka di puji sang kakak

"Uhmm... Sudahlah tak usah menggodaku lagi, Kak. Aku sudah besar, aku janji akan segera sembuh." Jawab Kaage dengan tersipu malu.

Alcandor berjalan melangkah keluar, dengan kakinya yang panjang, bahunya yang lebar, punggungnya yang tegap. Perlahan - lahan Alcandor mulai melangkah  keluar dari kamar Kaage. Kaage mulai merenungkan tentang dirinya. Kenapa dirinya terlahir di dunia jika tidak diinginkan?. Kenapa diumur yang terbilang masih kecil dia harus merasakan rasanya diacuhkan?.

Beberapa saat setelah kepergian Alcandor dari ruangan Kaage. Kaage mendengar prajurit berteriak.

"PENYUSUP, PENYUSUP. KELUARKAN TUAN MUDA DAN RATU DARI MANSION SECEPATNYA."  tak lama setelah prajurit tersebut berteriak, 2 buah anak panah menancap dengan tepatnya di jantung dan dadanya. Seketika itu si prajurit pun tewas dan dengan diiringi keributan di dalam mansion.

Sedangkan Kaage yang tengah tertidur pulas pun terbangun, ia mendengar suara teriakan sang prajurit sebelum tewas. Kaage dengan langsungnya berlalu menuju kamar ibunda Ratu, namun, apa yang di lihat Kaage tak seharusnya dilihat oleh anak seusianya.

"AH... Uhmm .. " dengan kagetnya Kaage langsung menutup mulut dan juga menahan nafasnya serta berlari kabur kembali menuju ke kamarnya.

********

"Tidak, tidak.. itu bukan Ibunda, dan itu juga bukan dia, juga bukan Kakak. Aku tidak melihat apapun, aku tidak tau kejadian apapun, maafkan aku, jangan kutuk aku." Kaage bergumam.

Saat Kaage bergumam Kaage tak menyadari ada seseorang yang datang menghampirinya secara perlahan. Kaage spontan dan dengan refleknya yang bagus, Kaage langsung mengambil pisau yang ada di dekatnya dan menodongkannya ke orang tersebut.

"Tenang Tuan muda, ini saya Lili. Tuan muda tak perlu takut, Tuan muda sebaiknya segera pergi dari tempat ini, mansion ini sudah tidak aman lagi bagi tuan muda. Para PENYUSUP itu tak hanya ada 1 atau 2 orang saja. Orang yang diincarnya adalah Anda Tuan Muda Kaage." Lili berbicara panjang lebar pada Kaage sambil merapikan barang - barang Kaage.

"Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri Kak, Lili?." Tanya Kaage.

"Saya? Apa Tuan Muda mencemaskan saya?." Tanya Lili sambil menggoda Kaage.

"Tidak, aku tidak bertanya padamu, Siapa juga yang bertanya padamu." Jawab Kaage sambil malu - malu.

"Sudahlah, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Lebih baik anda segera pergi, jika saya masih sempat, saya akan menyusul Anda."

Suara langkah kaki mulai terdengar dengan jelas, Lili mulai mengeluarkan Kaage dari jalan rahasia yang ada di bawah tempat tidur Kaage. Yang bahkan Kaage sendiri tidak tau. Sebelum berpisah dengan Kaage, Lili berkata "Jadilah diri Anda sendiri Tuan Muda Almeric Kaage. Nama anda memiliki 2 arti yang bertolak belakang namun bisa juga menjadi kekuatan jika anda benar - benar menginginkan melindungi seseorang." Setelah itu Lili menutup pintu bawah tanah dan penyusup tersebut berhasil menemukan Lili. Tak segan, sang Penyusup langsung menghunuskan pedang tepat pada jantung Lili, yang mengakibatkan hilangnya nafas Lili.

Kaage yang merasa tidak enak, dia berhenti tepat di bawah tanah kamar Ibunda Ratu, Kaage memberanikan diri untuk melihat kondisi Ibunda Ratu, Namun, yang di lihat Kaage saat itu ialah.

Sang kakak yang terluka parah, Sang Ayah yang membawa pedang yang berlumuran darah, dan sang Ibunda mati terkapar di lantai yang dingin. Kaage memberanikan diri keluar dari bawah tanah dan langsung menghampiri sang kakak.

Tap....tap..tap.. (suara langkah kaki Kaage)

"Kak, kak, apa kau mendengarkan ku?, Aku sudah sembuh. Kapan kau mengajakku jalan - jalan keluar mansion yang membosankan ini? Kapan aku bisa melihat bintang - bintang di langit malam yang indah yang dulu pernah kau janjikan padaku? Apa aku tidak bisa bermain denganmu lagi? Tidak bisa berlatih diam - diam denganmu lagi?. Apa kau sudah lupa janji kita? Kau begitu jahat padaku." Isak tangis Kaage meluap - luap, ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi hingga sampai beberapa menit yang lalu ia baru saja bertemu dan berbincang dengan sang kakak.

*Saat ini giliran sang Ibunda.*

"Ibunda...apa ibunda bisa mendengarku? Dulu aku selalu ingin melihat bagaimana rupa ibuku? Apakah ia cantik? Apa ia akan menyayangiku? Apa ia akan bersikap lemah lembut kepadaku? Semua pertanyaan bodoh itu terus berputar - putar di kepalaku. Jika aku lahir hanya untuk membawa kesialan, lantas mengapa Tuhan menciptakan ku? Aku awalnya marah pada Tuhan, karena dari lahir hingga sekarang yang baru aku temui hanya kakak ku seorang dan aku bertemu dengan Ayah hanya sekali. Apa ibu tau bagaimana rasanya diacuhkan?." Emosi Kaage pada sang Ibunda mulai menjadi - jadi. Kaage menggenggam erat - erat tangan sedingin ia dan seputih mayat itu.

Suara sang Ayah membuat Kaage tersentak kaget.

"Almeric, ma-maafkan Ayah. Ke-kelu-keluarga Gu, se-semua Gu Jian." Kata - kata terakhir dari sang ayah untuk Kaage.

Jawab Kaage "Apa ini ulah kelurga Gu? Dan dibawah perintah kakak Gu Jian? Aku memang baru sekali melihatnya, namun ia termasuk sahabat karib sang Kakak. Apa ini semua benar ulah kak Gu Jian ?." Kaage sedikit ragu dengan kesimpulannya sendiri.

Hingga akhirnya Kaage memutuskan untuk meninggalkan mansion dan jadi lebih kuat, supaya apa yang terjadi di hari ini bisa ia balas suatu hari nanti.

14 - Desember - 1955.

❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️
❣️





10 THN kemudian

"Kaage, Kaagee ,oi Kaage, Almeric Kaage." Sapa dia sambil melambai - lambaikan tangganya di depan Kaage.

"Tuan, apa tuan baik - baik saja?." Tanya dia

"Sudah aku katakan, jangan panggil aku Tuan, panggil saja namaku." Jawab Kaage.

"Dari tadi aku juga sudah memanggil namamu 3x, nama lengkapmupun sudah ku sebutkan, kau masih tak mau mendengarkan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa akhir - akhir ini kau sering melamun?." Tanya di lagi

"Ah... Tidak, tidak apa. Mungkin aku hanya kelelahan, aku akan kembali ke kamar dan beristirahat, sampai nanti Joy." Salam Kaage.

"Ah, baiklah kalau begitu. Aku akan meneruskan latihanmu yang tadi." Jawab Joy.

*Kaage POV
Sudah 10 thn kenapa ingatan ini selalu muncul dengan jelas dan tak pernah mengabur sedikitpun?. Kak maafkan aku yang dulu meninggalkanmu sendirian di mansion yang menjijikan, membosankan dan mengerikan itu. Aku janji aku akan kembali ke mansion itu lagi di waktu dekat ini. Aku kan kembali mengecek semuanya, mencari petunjuk dan mengambil beberapa barang yang masih tertinggal. Semoga semuanya masih sama, dan semoga saja tak ada yang berani membongkarnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 17, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PyschoWhere stories live. Discover now