prolog

1.4K 50 0
                                        


       DENGAN terburu - buru gadis berambut hitam sebahu itu menghampirinya, seorang cowok tinggi dengan raut wajah yang datar.


       Dentuman musik dari dalam rumah, suara percakapan, dan tawa bagaikan teredam baginya saat ia melihat manik mata cowok itu. Cemas? Mungkin, cowok itu kadar kecemasannya memang tinggi. Marah? Sudah jelas, setiap kali ia berulah pasti berujung dengan kemarahan cowok itu. Takut? Nah, itu adalah hal baru. Memang apa yang perlu ditakutkan dari rutinitas biasa gadis itu?


       "Pierre marah?" Meski seratus persen yakin dengan jawaban cowok itu, Pierre, gadis itu tetap bertanya.


       Tetapi dia tidak pernah menunjukan amarahnya di depan gadis itu. Pierre hanya mengulurkan tangannya dan berkata "ayo pulang, Infila"


       Gadis itu, Infila, menyambut uluran tangan Pierre.

TARUNIStories to obsess over. Discover now