1

20 3 0
                                        

Suara hujan itu selalu damai. Walaupun terlihat berantakan namun mereka membuat suara-suara yang menenangkan. Entah sejak kapan aku mulai membenci hujan.  Ingin rasanya kucopot telingaku saat aku mendengar hujan. Aku sangat membencinya. Suaranya, aromanya, dan tekstur basahnya yang selalu merepotkanku.

Aku heran kenapa manusia itu peka sekali terhadap aroma. Kenapa hanya karena suatu aroma, manusia bisa mengingat sebuah peristiwa di masa lalu. Jujur saja aku punya pengalaman buruk di hari hujan. Hari itu hari yang bagaikan langit runtuh menimpaku. Aku benar-benar kehilangan segalanya. Yang tersisa hanya aku seorang.

***

Saat ini jam di tanganku menunjukkan pukul 07.00 dan jelas saja aku terlambat masuk sekolah. Aku menyusuri jalanan gang kecil dengan sepatu hitamku yang basah dan kotor karena genangan air hujan. Butuh sekitar 10 menit lagi untuk sampai di sekolahku. Aku tidak peduli, salahkan saja langit siapa yang menyuruhnya untuk menurunkan hujan.


Aku harus menunggu selama 1 jam lebih untuk menunggu hujan reda.
"Gila kenapa harus hujan sih, padahal kan sekarang musim kemarau" gerutuku.

Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki jangkung dengan jas hitam berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Aku tidak tahu siapa dia, karena di daerah tempatku tinggal tidak ada orang yang seperti itu. Oh ya, daerah tempatku tinggal sangat kecil dan jalanannya juga sempit jadi mudah untuk menghapal orang-orang yang tinggal di sini.

Sepertinya dia hanya salah satu kenalan tetanggaku. Aku meneruskan perjalananku ke sekolah dengan gerutu di setiap langkahku.

Setelah beberapa menit aku sampai di depan gerbang sekolahku. Tidak salah kalau suasananya sudah sepi dan gerbang tertutup rapat. Kulihat tidak ada satpam yang biasa kubujuk untuk membukakan gerbang agar aku bisa masuk ke sekolah tanpa ketahuan terlambat.

"REYNA ZAHRA PUTRI! SUDAH BERAPA KALI KAMU TERLAMBAT MINGGU INI?!" Bentak seorang guru, lebih tepatnya Bu Zena dari balik gerbang.

Gilaa! Kenapa harus Bu Zena, Bu Zena itu guru paling killer di sekolah.
"Ah maaf bu itu tadi turun hujan terus saya nunggu reda jadinya terlambat bu hehe" Jelasku sambil tersenyum berharap guru killer itu luluh dengan senyumanku.

"Gak usah banyak alasan. Ayo ikut ibu ke ruang kepsek!" Tegasnya sambil membuka gerbang sekolah.

Aku mengikuti Bu Zena ke ruang kepsek dan terus memikirkan alasan-alasan pembelaan diri saat di ruang kepsek nanti.

"Pagi Bu Zen, ada apa ini?" Tanya Pak kepsek saat melihat kami masuk ke ruangannya.

"Maaf mengganggu pak, saya ingin memberi tahu bahwa Reyna Zahra Putri dari kelas XI MIPA-1 terlambat lagi. Ini sudah yang ke empat kalinya dalam minggu ini dia terlambat." Jelas Bu Zena dengan tegas kepada pak Kepsek.

"Hmmm... begitu ya, Reyna apa alasanmu kali ini juga sama? Karena hujan turun?."

"Iya pak benar"

"Di sekolah ini ada ratusan murid yang merasakan hal yang sama denganmu. Mereka juga kehujanan saat berangkat ke sekolah, tapi kenapa hanya kamu yang terlambat setiap hari?"

"Maaf pak saya tidak bisa menjelaskannya. Saya.." tiba-tiba saja perkataanku dipotong oleh Bu Zena.

"Sudah pak, bukankah tidak perlu lagi alasan untuk hal ini. Apa hukuman yang pantas kita berikan adalah yang harus kita pikirkan saat ini pak."

"Hmmm..."

"Reyna juga memiliki banyak kekosongan  di absensi siswa." Tambah Bu Zena.

"Reyna bapak paham dengan kondisimu saat ini, namun bapak dan Bu Zena tidak ingin masalahmu menghadang masa depanmu. Ini peringatan terakhir, Jika kamu terlambat lagi terutama dalam bulan ini kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini."

DEG! apa-apaan? Mereka tidak tahu bagaimana masalahku. Aku hanya terdiam dan tidak memperdulikan apa yang mereka bicarakan

"Sekarang kamu bisa kembali ke kelasmu nanti ibu akan berikan surat peringatan di jam istirahat kedua."

"Baik bu" jawabku sambi menundukkan kepala dan keluar dari ruang kepsek. Aku langsung bergegas ke kelas dan melupakan kejadian tadi. Cuma ga terlambat kan.

DiaWhere stories live. Discover now