Play on Spotify
Rumpang – Nadin Amizah
Pagi tadi aku masih menangis
Ada rasa yang tak kunjung mati
Ada seseorang di atasku
Menahan semua rasa malu
Sempat ku berpikir masih bermimpi
24/7 tanpa henti
Matahari dan bulan saksinya
Ada rasa yang tak mau hilang
Aku takut sepi tapi yang lain tak berarti
Katanya mimpiku kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata 'Maaf, sayang aku harus pergi"
Sudah ku ucap semua pinta
Sebelum ku memejamkan mata
Tapi slalu saja kamu tetap harus pergi
Sempat ku berpikir masih bermimpi
Bertahun berlanjut tanpa henti
Kulitmu yang memudar saksinya
Tetap rasaku tak pernah hilang
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu tak kembali
Katanya mimpiku akan terwujud
Mereka berbohong, mimpiku tetap semu
Nadin Amizah, begitu piawai dalam menyajikan kata-kata yang berpadu dengan melodi yang sangat merdu. Tiap kata dalam liriknya mengandung makna yang begitu berarti, begitupun bagiku. Namun bukan hanya memang lagunya yang mampu membuat orang jatuh hati, melainkan pesan yang disampaikan didalamnya dapat menyampaikan semua perasaanku saat ini.
Lagu ini tentang perpisahan dari berbagai dimensi – cinta, kehilangan, ataupun kematian. Ia mampu menyuarakan setiap kata yang selama ini terpenjara dan tak berani untuk aku ungkapkan.
Bukan, bukan maksudku untuk me-review lagu yang sangat indah ini.
Banyak orang berkata seseorang akan kehilangan binarnya ketika Ia telah kehilangan satu sosok yang mampu membuatnya berarti selama ini. Semuanya terasa begitu berbeda disaat sosok itu memilih untuk menjadikanku bahagia tanpanya. Bahagia yang seperti apa yang akan kudapatkan? Disaat justru bahagiaku adalah dirinya.
Berulang kali Ia meminta agar aku dapat baik-baik saja tanpanya. Aku tak bisa bahkan ketika aku belum memulai untuk mencoba. Dari awal aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa tanpanya. Ia yang selama ini rela mengejar jarak untuk dapat menemuiku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Ia yang selama ini rela menjagaku tanpa memikirkan bagaimana keadaannya. juga rela menahan waktu untuk tetap bersamaku.
Setahun berselang, rasa ini masih kukuh menginap dan tak mau pergi. Rasa yang berulang kali kucoba bunuh namun aku selalu kalah dan tak mampu untuk menghilangkannya. Berbagai upaya telah kulalui. Berbagai keadaan berbeda telah kujalani. Tetap saja ia menahanku untuk tetap berada dirasa yang sama, meski tak langsung.
Berulang kali aku berfikir bahwa keadaan baik tidak terjadi kepadaku, atau mungkin belum?
Berulang kali aku memintanya agar tetap tinggal, namun yang kudapat hanyalah jawaban yang sama – "aku harus pergi."
Berulang kali aku mencoba, namun sia-sia.
Memang salahku dari awal, yang selalu menganggap bahwa dia akan tetap tinggal.
Memang, memang rasa begitu sulit untuk dihilangkan.
___
Pukul 1 Pagi
Aku Masih menggerakkan jariku diatas keyboard laptop, menulis kata-kata so puitis yang hanya aku simpan untuk diriku saja. "Sebagai kenangan", pikirku begitu. Ah entahlah, sudah seminggu belakangan ini aku rajin menuangkan cerita dan pengalamanku kedalam lembaran halaman di Ms.Word. Mungkin sebagai penghilang kebosanan saja karena tidak memiliki kegiatan lain selain kuliah-pulang kuliah pulang atau yang sering biasa disebut sebagai mahasiswa kupu-kupu.
Aku beranjak dari atas kasurku, tempat dimana aku bisa melakukan segala hal termasuk menulis seperti yang aku lakukan sekarang. Bergegas pergi kedapur untuk menyeduh segelas kopi sebagai rutinitasku setiap hari. Biar kuhitung... mungkin ini kopiku ke tiga kali yang sudah aku minum hari ini. Memang benar aku sudah candu terhadap minum kopi semenjak 5 tahun lalu, disaat aku masih berusia 13 tahun. Sejak saat itu aku merasa bahwa dengan minum kopi dapat menjadikanku lebih relax dalam melakukan segala rutinitas.
Aku menuangkan se-perempat gelas air panas kedalam gelas plastik yang biasa aku gunakan untuk menyeduh kopi, disusul dengan satu sachet mocchacino favoritku. Lalu kutambahkan air dingin dan es. Dan... ya aku memang lebih suka kopi dingin seperti ini, meskipun dimalam hari. Dan selain itu juga aku lebih suka kopi sachet. Selain harganya yang murah, rasanya pun tak kalah enak dari kopi yang biasa dijual di café-café diluaran sana.
Aku kembali lagi ke kamar, meneguk sedikit kopiku dan mencoba untuk kembali fokus ke layar laptop. Aku mencoba membaca kalimat terakhir dari tulisanku.
"Memang, memang rasa begitu sulit untuk dihilangkan"
Aku menulis pengalaman asmaraku yang berakhir setahun lalu, yang kini sudah tidak terjadi lagi dikehidupanku. Aku kembali mengingat dengan detail setiap hal yang terjadi saat itu. Mulai dari hal-hal kecil yang Ia lakukan, sampai kejadian luar biasa yang mengantarkanku sampai ada dititik saat ini. Semuanya akan aku tuangkan dalam bentuk tulisan sebagai media pengingat disuatu hari nanti. Sekarang aku masih sering menangis setiap mengingat kejadian-kejadian pada saat itu, tapi suatu saat nanti, ketika kubaca lagi tulisan ini, mungkin apa yang akan dirasakan nanti akan berbeda. Aku akan jauh lebih baik dari ini. Dan itu pasti.
Aku mulai melanjutkan untuk menulis. Baru kutulis beberapa kalimat, aku sudah menguap dan merasakan ngantuk. Aku melihat kearah jam dinding di kamar dan waktu sudah menunjukan pukul 1.38 pagi. Baiklah, mungkin saatnya untuk tidur karena aku harus masuk kelas pagi nanti. Aku mematikan laptop kemudian menghabiskan sisa kopi yang belum kuminum tadi dan segera mencari posisi yang tepat untuk tidur.
YOU ARE READING
RIVAL
Teen FictionPatah hati yang dialami Kayra setahun lalu membuatnya tidak pernah lagi mempercayai persoalan hubungan asmara dengan seseorang. Bahkan sampai saat ini, hal itu terus membuatnya terluka. Ia selalu menganggap bahwa hubungan asmara hanyalah sebuah hal...
