BAB 1. KEBERUNTUNGAN

829 51 7
                                    

Impian besar butuh perjuangan dan pengorbanan. Aku sangat memahami hal itu.

Karenanya, demi mewujudkan mimpi memiliki usaha sendiri, aku berhemat sebisa mungkin.

Meski gajiku sebagai tenaga mahir di sebuah butik gaun pengantin cukup lumayan, aku sangat jarang berkumpul dengan teman sebaya untuk bèrsenang-senang di waktu senggang.  Menonton bioskop, belanja di mall atau sekedar nongkrong di kafe misalnya.

Sesekali aku memang pergi rekreasi, tapi bersama bunda Wuri dan adik-adik. Aku tidak bisa menikmati rezeki sendiri. Adik-adik juga harus ikut menikmati.

“Masa muda itu hanya sekali, Nay. Kau harus menikmatinya! Jangan sampai kelak kau menyesal!" Bunda Wuri berkali-kali menasehatiku.

"Bunda ingin kau tumbuh seperti gadis lainnya. Jangan terlalu memikirkan adik-adikmu. Itu tugas bunda."

Ah, wanita ini. Dia bahkan melupakan kebahagiaannya sendiri. Yang dia pikirkan hanya kami, anak-anaknya. Seluruh waktunya hanya untuk merawat kami, anak-anak kurang beruntung, tak diinginkan dan terbuang.

Melihat ketulusan bunda Wuri, bisakah aku egois?

Tidak! Aku tidak bisa! Aku pikir, sudah saatnya untuk membantu meringankan beban beliau.

Jadi sebagian gajiku selalu aku berikan kepada bunda untuk biaya hidup kami sehari-hari. Sebagian lagi masuk tabungan.

Soal biaya pendidikan adik-adik, kami tidak terlalu pusing. Sekolah mereka gratis, karena kebanyakan sekolah di sekolah negeri. Yang di swasta pun juga dibiayai oleh yayasan.  Sementara untuk keperluan yang lain seperti buku, tas sekolah, sepatu, selalu ada saja donatur yang berbaik hati mengirim ke rumah.

“Rezeki yang kalian dapatkan ini harus betul-betul disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalian harus berprestasi, agar mereka yang telah membantu ikut bangga,” begitu nasehat bunda.

Ya, Tuhan maha adil. Meski kami tidak seberuntung anak-anak yang memiliki keluarga lengkap, banyak sekali kemudahan dalam hidup kami.

Adik-adik selalu masuk peringkat lima besar. Bahkan Mega lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri dan berhasil mendapat beasiswa di tahun keduanya.
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang bisa kami dustakan?

Keberuntungan lain yang tak terduga kembali terjadi. Dinda, sahabatku sejak SMA, mengabarkan tentang sebuah rumah yang dijual murah. Bahkan menurutku teramat murah untuk rumah berukuran seluas 8 × 10m yang letaknya cukup strategis meski agak di pinggiran kota.

"Halaman depan cukuplah buat parkir 2 mobil dan beberapa motor, Nay. Cocok untuk butik barumu." Dinda makin gencar melaksanakan aksi promosinya.

"Hmm, kamu sudah mulai jadi agen properti, nih? Komisimu pasti lumayan, ya?" candaku. Siang ini kami sedang ngopi di sebuah kafe di dekat tempat kerjaku.

Aku mengiyakan ajakan Dinda semalam, setelah menggantung jawaban selama satu minggu. Aku pikir dia hanya ingin sekedar makan siang dan berbincang seperti biasa tanpa ada hal penting yang perlu dibicarakan.

"Hahahha!" gadis itu tergelak. "Aku nggak dapat apa-apa kok dari pemiliknya. Aku cuma berharap dijadikan menantu aja sih, habis anaknya cakep!" Kali ini matanya mengerling nakal.

Gadis ini. Aku mengenalnya saat masuk SMA. Lincah, supel dan otaknya cukup cemerlang. Satu hal yang agak tidak aku suka, dia sering ganti-ganti pacar. Tapi kebiasaan buruknya itu tidak memengaruhi persahabatan kami.  Hingga kami lulus, dia satu-satunya teman dekat yang menerima keadaanku apa adanya.

"Otak kamu dari dulu isinya laki-laki melulu!" dengusku pura-pura kesal.

"Hahahhahaha!" Tawa Dinda makin keras.  Dia tak peduli meski beberapa pasang mata melihat ke arah kami.

Misteri Sebuah GaunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang