1

262 4 0
                                        

Malam semakin larut, namun hujan deras diluar sana tak kunjung berhenti, mengiringi rasa kalut di hati seorang gadis. Ia duduk di teras kamarnya, hanya diam membisu, matanya menerawang jauh ke luar, memandangi tetesan air hujan yang jatuh dari atap genteng tanah liat dan menghujam batu-batu di halaman, kemudian perlahan menggerus permukaannya hingga berlubang.

"Siapa di sana?" gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar ditelan suara hujan.

"Hamba Yagyuu Kyubei, yang mulia." sahut suara gadis lain dari balik pintu geser.

Soyo menengok ke arah pintu. "Jangan berdiri didepan pintu, masuklah."

Kyubei melangkahkan kakinya ke dalam kamar Putri Soyo. Persahabatan mereka telah terjalin sejak lama, namun rasa canggung tak kunjung sirna. Beban status sebagai bawahan Shogun meredam kelincahan lidah yang dulu begitu terasa bebas saat mereka masih bersahabat di masa kanak-kanak. Dahulu, tawa dan teriakan riang mengisi hari-hari mereka, tanpa sekat dan penuh kehangatan. Kini, setiap gerak-geriknya diukur dengan cermat, terikat oleh norma dan etiket ketat kaum bangsawan. Memaksanya berhati-hati agar tak dicap sebagai manusia yang tak beradab.

Di atas tatami yang terhampar hangat di bawah sinar rembulan, Kyubei berlutut dan bersila sempurna di samping Soyo. Gerakannya mengalir bagaikan air, penuh keheningan dan ketenangan yang memancarkan aura kesatria sejati. Pedangnya, sebilah katana berkilau, dibaringkan dengan hormat di atas tatami di sisi kanannya. Rambut panjangnya dikuncir kuda, menunjukkan dengan jelas bekas luka yang disembunyikan oleh penutup mata. Semua itu memancarkan aura kesatrianya yang jelas jauh lebih kental daripada citranya sebagai seorang gadis ningrat.

"Kenapa Putri Soyo belum juga istirahat?" ujarnya membuka pembicaraan.

"Aku belum mengantuk."

"Anda harus segera beristirahat dan mempersiapkan diri, karena besok hari istimewa untuk anda."

Soyo meraih kimono merah yang terlipat rapi, sebuah tusuk rambut dengan hiasan bunga warna-warni terpatri diatasnya. Perpaduan warna merah menyala dan corak bunga yang semarak memancarkan aura kecantikan yang tak tertandingi bernuansa magis yang siap menyelimuti Soyo saat ia mengenakannya. Namun, hatinya berkata lain. Ia tak ingin terikat dalam keindahan semu itu, dan memilih untuk menunda pesona kimono merah itu untuk lain waktu.

"Kyubei." Gumam Soyo.

"Ya, tuan putri?"

"Tunjukkan jalan rahasia, agar aku bisa kabur dari sini." Pinta Soyo, suaranya bergetar.

Kyubei terdiam sejenak, jiwanya terjebak dalam pertempuran batin. Di satu sisi, ia terikat sumpah kesetiaan kepada sang tuan, di sisi lain, ia melihat keputusasaan di mata sahabatnya, seorang wanita yang dipaksa masuk ke dalam pernikahan tanpa cinta.

Kyubei menundukkan kepala. "Maaf yang mulia, jika saya melakukannya, maka besok kepala saya pasti akan dipenggal."

Soyo mengepalkan tangannya erat, matanya berbinar dengan tekad. Belati kecil terhunus dari sarungnya, ujungnya berkilau di bawah cahaya remang-remang. "Jika aku memaksa?"

Kyubei menggelengkan kepalanya, matanya dipenuhi kesedihan. "Akan lebih baik jika Yang Mulia menikamkan belati itu kepada saya, karena orang-orang akan melihat pengorbanan saya sebagai bawahan setia, yang sudah menjaga si mempelai wanita agar tidak kabur dari pernikahannya."

Kata-kata Kyubei berbalik menusuk hati Soyo dengan rasa bersalah. Di satu sisi, ia tidak ingin mengorbankan Kyubei, namun di sisi lain, ia tidak rela terjebak dalam pernikahan yang tidak ia inginkan. Soyo terdiam, merenungkan pilihannya. Di matanya, bayangan masa depan yang suram terbentang, di mana ia terikat pada pria yang tidak ia cintai, terkungkung dalam sangkar emas yang berkilau namun menyiksa.

*
*
*

Embun pagi masih menyapa rerumputan kala Kyubei dan Sa-chan melangkahkan kaki di halaman istana. Kedua sosok itu berjalan dengan tempo santai, mengisi paru-paru mereka dengan udara segar di pagi yang masih sunyi, sembari memperhatikan pelayan sibuk lalu lalang mempersiapkan pesta besar untuk nanti malam. 

Sangat jarang keduanya terlihat berbincang satu sama lain, meski mereka rekan kerja yang solid. Kyubei dan Sa-chan nyatanya beda level, Kyubei merupakan gadis bangsawan keturunan samurai, yang bergaul akrab dengan pejabat istana, sementara Sa-chan, seorang kunoichi yang sehari-hari selalu bersembunyi dibalik markas dan akan keluar jika tugas negara menantinya. Mereka seakan saling melengkapi bagai dua sisi mata uang.

Percakapan di antara keduanya cukup jarang terdengar. Kyubei, dengan suaranya yang lembut dan penuh sopan santun, sesekali menyapa Sa-chan dengan pertanyaan ringan. Sa-chan, dengan nada yang penuh kehati-hatian, menanggapinya sesingkat mungkin. Meski jarang bertukar kata, mereka berdua memahami peran dan tanggung jawab masing-masing. 

"Bagaimana perasaan Putri Soyo melihat pemandangan ini ya?" ujar Sa-chan tiba-tiba. Pandangannya menyapu area sekeliling, menangkap kesibukan para pelayan. Ada yang dengan cekatan membereskan debu dan kotoran di sudut-sudut megah, sementara yang lain hilir mudik membawa berbagai perlengkapan untuk upacara pernikahan Putri Soyo yang tinggal hitungan jam lagi.

Di tengah hiruk pikuk persiapan, sesekali terdengar suara tawa dan canda riang dari para pelayan muda, mewarnai atmosfer pagi yang penuh semangat. Mengingat sang putri akan segera melangkah ke jenjang pernikahan. Kecantikannya yang menawan dan sikapnya yang mulia telah memikat hati rakyat, menjadikannya sosok yang amat dicintai dan dihormati. 

"Entahlah, nampaknya dia tidak bahagia sama sekali." Kyubei menoleh, matanya yang biasanya berbinar penuh semangat kini redup.

"Ada juga ya orang didunia ini yang tidak bisa bahagia meskipun sudah memiliki segalanya." Sa-chan membuka kipas lipatnya, sembari mengipasi wajahnya yang sama sekali tidak berkeringat.

"Memangnya siapa yang bisa bahagia jika seseorang menikah dengan orang yang sama sekali tidak disukainya?"

Sa-chan menoleh. "Selama dia kaya, kurasa tidak akan ada masalah." ujarnya dengan nada sarkasme.

"Dasar mata duitan." Kyubei menggeram kesal. "Semalam Putri Soyo hampir saja membunuhku."

"Ha? A-apa?" Sa-chan terkesiap dan nyaris terlonjak kaget, sampai-sampai ia menghentikan langkahnya.

"Dia ingin kabur dan mengancamku dengan sebuah belati."

Sa-chan mendengus. "Kalian berdua 'kan bersahabat sejak kecil, tidak mungkin dia sungguh-sungguh melakukan hal kejam itu padamu."

"Apa kau masih tidak percaya dengan ini?" Kyubei menarik kerah kimono biru tuanya agak turun, menampakkan segores luka dibagian lehernya.

"Astaga! Ini sungguhan!" Sa-chan menjerit penuh kekhawatiran, ia hendak menyentuh luka dileher Kyubei, namun gadis itu buru-buru membenarkan kerahnya ke posisi semula.

Kyubei menceritakan kembali peristiwa mengerikan yang dialaminya semalam. Bagaimana Putri Soyo, sang sahabat yang selalu ceria dan penuh tawa, tiba-tiba berubah menjadi sosok dingin dan penuh amarah, mengancamnya dengan belati, dan nyaris saja membunuhnya.

Sa-chan mendengarkan dengan saksama, hatinya diliputi rasa iba dan ketakutan. Dia tidak pernah menyangka bahwa Putri Soyo, gadis yang selalu dia kagumi dan hormati, bisa melakukan tindakan kejam seperti itu.

"Tapi serius ya, kau masih hidup." Sa-chan melipat tangan didepan dada sambil tertawa renyah. Gadis mata-mata itu tidak benar-benar menyindir, hanya salah satu caranya mensyukuri keadaan Kyubei yang masih diberi kesempatan untuk hidup.

"Aku ingin membantu, tapi itu tidak bisa kulakukan. Semoga saja ada keajaiban yang membuatnya keluar dari masalah ini." seulas senyum pahit terukir di bibirnya.

"Kuharap juga begitu." Sa-chan mengangguk pelan meski rasa pesimis menyelimuti hatinya.

***

Wild FlowerBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin