U

2 0 0
                                        

Berdiam diri diatas gedung merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Bagaimana tidak, disini tidak ada sekumpulan manusia yang sibuk panjat sosial, gibah dan sebagainya. Dilihat dari atas sini, keadaan kota terlihat begitu indah dan estetik hehe. Ya meskipun aku masih bisa mendengar sura klakson yang bersahutan tapi disini semua lebih baik.

Aku sudah terbiasa disini sendiri, ya tidak bisa dibilang sendiri juga sih, soalnya masih ada bapak satpam dan bapak cleaning service yang mundar-mandir. Aku biasa disini setelah pulang kuliah dan sedang ada fikiran mengangguku seperti saat ini. Aku rindu keluargaku yang jauh itu huhu.

Hanya berdiam diri tanpa berbica, namun aku sesekali membuah nafas dan meleguh. Aku mulai merasa bosan dan lelah dengan hidup ini. Namun, aku selalu memikirkan tujuanku memilih berpisah dari keluarga adalah cita-citaku. Untung orang tuaku selalu perhatian dan mendorongku untuk tetap semangat menjalani semua.

Aku rasa ini sudah sore, langitnya berubah menjadi jingga. Sebelum aku pulang, aku mengeluarkan catatan kecilku, ini berisi curhatanku. Tidak ada yang boleh membaca buku ini. Karena ini isinya memalukan.

“tuhan, jauhkan aku dari tindakan yang mempu membuat penyesalan untukku dan orang yang menyayanggiku. Aku percaya semua akan indah pada waktunya, kalau begitu tolong rangkul aku agar aku tidak terjatuh di tempat yang salah”

Aku memutuskan untuk pulang, karena aku harus bekerja partime di salah satu cafe. Aku bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Sebenernya uang kiriman orang tuaku cukup, namun aku ingin bisa menabung dan membeli segala keperluanku juga. Jadinya aku bekerja partime di salah satu cafe yang dekat dengan kostku. Karena hari ini aku kuliah dari pagi sampai sore, aku bagian kerja dari jam enam sampai dengan tengah malam.

Perkenalkan namaku lurisa samudera. Aku lahir dari keluarga yang lumayan berkecukupan. Aku lahir di desa di pulau jawa. Ayahku seorang petani dan peternak. Ibuku seorang penjahit dan aku punya adik perempuan yang berumur 10 tahun. Keluarga kami begitu sempurna menurutku. Aduh aku jadi semakin rindu rumahku.

Saat ini aku sudah berada di cafe tempatku bekerja. Aku langsung menuju loker untuk menyimpan barang-barang dan mengganti bajuku dengan seragam. Cafe sedang tidak terlalu ramai jadi beberapa pelayan sedang berbicara di tempat loker. Akupun mendekat untuk menyapa mereka

“selamat malam semuanya, lagi pada ngomongin apa nih? Ga ngajak-ngajak ah gaseru nih” aku menjadi pegawai termuda disini. Senang rasanya jadi adik bungsu yang disayangi oleh yang lainnya.

“kepo kamu uni, anak kicik kaga bole tau obrolan orang dewasa tar kamu dewasa sebelum waktunya bahaya” demi rumah nanas spongsebob aku kan sudah 18 tahun, sudah legal umur di indonesia.

"Mbak mia apaan sih ngeselin. Aku kan udah gede kak udah kuliah tingkat dua. Bukan anak kecil lg ih" aku merengut kesal kepada semuanya. Mereka malah menertawakanku ih

Kemudian tidak lama dari itu seseorang penepuk pundaku. Aku spontan menoleh dan melihat pak wahyu, dia manager cafe ini. Dia baik sekali terhadap semuanya termasuk aku juga.

"uni ayok ke ruangan bapak, ada yang mau bapak bicarakan" setelah berbicara dan pamit pergi dari tempat kami akupun menyusul dan pamit juga.

Aku sudah berada di ruangan pak wahyu. Aku duduk di depan mejanya. Dia seperti mengambil sesuatu di dalam laci meja.

"uni bapak minta maaf sebelumnya. Kamu di berhentikan mulai hari ini atas permintaan pemilik cafe. Kata beliau mulai besok akan datang koki baru dan memutuskan memberhentikan satu pegawai. Jadi kamu yang beliau pilih" pak wahyu menyerahkan amplop berisikan gaji aku

Kenapa mendadak sekali padahal aku belum mendapatkan pekerjaan yang lainnya. Aku ingin menangis tapi tidak berani jika di depan pak wahyu.

"baik pak kalau begitu. Maaf ya pak selama ini uni sering bikin bapak kesal, mengantarkan uni pulang, perhatian sama uni dan udah mau direpotin sama segala hal. Uni berasa punya bapak disini" aku mau nangis, air mata aku udah numpuk di pelupuk mata. Sebentar lagi pasti turun ini

"maafin bapak ya, bapak ga bisa mertahanin kamu. Soalnya sudah jadi keputusan mutlak. Bapak juga anggap kamu kaya anak gadis bapak" pak wahyu ngedeket dan meluk. Akhirnya air mata ini bisa keluar.

Aku terisak dan meluk pak wahyu dengan erat. Bayangan-bayangan saat aku kerja disini mulai bermunculan. Aku cukup lama kerja disini. Ya kudang lebih selama dua caturwulan.

"jangan dulu pulang ya nak, makan dulu disini sama yang lain. Bapak yang teraktir. Gaboleh nolak rezeky, gabaik ya" lagi nangis ditawain makanan ya aku auto seneng dan ngangguk sambil usap ingus dan air mata yang belepotan

Aku dan pak wahyu jalan keluar ruangan dan aku disuruh duduk di meja khusus yang berkapasitas banyak. Kayanya si bapak mau traktir banyakan nih. Yaampun terharu aku dia bikin perpisahan yang berkesan buat aku.

Ga lama dari itu temen2 pekerja yang lain dateng dan ngumpul di meja bareng aku. Mereka memilih makanan dan pesan juga. Aku jadi sedih lagi mesti jauh dari mereka yang baik sama aku.

"Mau pesen apa kamu dek? Nasi goreng kambing aja ya jangan pedes, minumnya es jeruk sama capucino dingin" yaampun mbak mia sampe inget kesukaan aku. Mama mau nangis sekebon

"udah gausah sedih gitu ngapa. Kita cuma ga satu tempat kerja lagi, bukan ga satu alam lagi dek. Kamu kalo libur kuliah, gabut, gaada temen kesini aja. Yang lain juga ada kok"

"Makasih ya mbak-mbak dan mas-mas kesayangan uni yang lucu ini. Uni seneng dapet keluarga kaya kalian. Uni sayang sama kalian semua hiks" aku terlalu sedih huhu

Pada akhirnya aku, pak wahyu dan teman-teman yang lain makan dengan seksama. Penuh canda tawa meskipun ini judulnya kaya perpisahan. Aku seneng ya tuhan punya keluarga kaya mereka.

Aku pingin nangis lagi, maka dari itu aku jalan ke toilet dengan agak nunduk tapi aku tiba-tiba tabrakan sm dada orang. Huhuhu baunya maskulin banget, eh maksud aku pala aku sakit. Tapi dadanya keras cocok buat dipeluk huhuhu.

Aku ngehapus air mata dan ngomong minta maaf tapi pas aku mau jalan lagi bapak ini malah ngomong supaya aku ngeliatin wajah aku. Ngomongnya agak ngebentak kaya orang marah. Aku berusaha ngeliatin muka aku yang sembab ini

"Kenapa? Di pecat? Nih dateng kesini bawa surat lamarannya. Awas kalo dateng dengan keadaan ingus belepotan gitu" si bapaknya ngasih aku kartu nama, aku kira duid gais.

Aku kekamar mandi, terus pamit pulang buat istirahat. Aku ga kerja tapi badan aku capek banget perasaan. Aku mesti istirahat karna besok ada kuliah pagi dengan dosen killer.

To be continue

Du hast das Ende der veröffentlichten Teile erreicht.

⏰ Letzte Aktualisierung: Jul 12, 2021 ⏰

Füge diese Geschichte zu deiner Bibliothek hinzu, um über neue Kapitel informiert zu werden!

Uniqcorn GurlGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt