i. 15 Juni
.
Selalu, akhir pekan selalu jadi yang paling ditunggu. Aku yakin kebanyakan orang menjadikannya primadona sepanjang tahun. Sebab -diakhir pekan, orang orang selalu bisa bersantai, bermain sepuasnya, menghabiskan waktu dengan keluarga,
Menjadi dirinya sendiri.
Ya, kupikir begitu. Sebelum akhirnya, seorang pria yang kukira sebayaku itu menarik perhatianku. Maksudku -aku tau sebagian orang tak bisa menikmati waktunya dengan baik. Ada kalanya pekerjaan terlalu mendesak hingga tak sempat untuk beristirahat.
Akan kuberitau, dia tampan. Sangat tampan. Aku tak bisa mendeskripsikan bagaimana garis wajahnya nampak begitu tegas namun itu cocok dengannya. Tatapannya teduh, meski ada gelinyar lelah yang kentara. Hidungnya bangir dan bibirnya penuh. Oh, jangan lupakan kulitnya yang sedikit kecoklatan, itu membuatnya terlihat sedikit 'panas'.
Kala itu, dahinya dipenuhi peluh. Rambutnya yang cepak agak lembab. Aku tak yakin apa yang sebelumnya ia kerjakan, namun bagian punggung kemejanya cukup basah meski ia terlihat menggunakan kaos dalam. Ia membawa sebuah jas, yang ia sampirkan dilengan kirinya yang tak membawa tas. Tangan kirinya mengetik sesuatu diponsel, mungkin sedang mengirim sesuatu yang penting karena ia nampak mengerutkan dahi tampannya. Oh -oke, aku tak bermaksud menjadi penguntit, ia hanya tampan dan menarik. Tak peduli seberapa banyak ia berkeringat, ia tampan.
Aku tak bisa berhenti memujinya tampan.
Aku tak tau berapa lama, namun menit setelahnya ia menaiki kereta yang datang pukul 5 sore, 15 menit lebih awal dari kereta yang akan kunaiki nanti.
.
ii. 22 Juni
.
Lagi, aku menemukan siluet pria tampan itu di peron keenam. Persis seperti minggu lalu.
Ah, aku akan menambahkan deskripsi tentangnya.
Dia tinggi, bahkan posturnya nampak begitu jelas diantara kerumunan banyak orang distasiun. Kakinya begitu jenjang, kukira siapapun bisa iri padanya. Dadanya bidang -sangat. Itu pasti sangat amat nyaman untuk disandari. Dia juga tidak gemuk, namun tidak pula kurus. Sempurna.
Bila melihat dari pakaiannya -saat ini dia menggunakan pakaian yang persis seperti minggu lalu, tapi aku yakin dia bekerja di tempat yang bagus. Ia hanya menggunakan kemeja polos berwarna biru muda dengan seutas dasi navy bergaris miring namun nampak begitu mahal. Apa semua yang dipakai orang tampan selalu terlihat mahal? Cara ia membawa tas kerjanya pun begitu elegan.
Ia mungkin orang yang merakyat hingga mau berdesakan menaiki kereta.
Dan kemudian, kami harus -lagi terpisah oleh kereta yang berbeda.
.
iii. 6 Juli
.
Ini akhir pekan paling melelahkan tahun ini, kurasa. Ada daftar menu baru di toko kue tempatku bekerja, dan semua orang begitu antusias untuknya. Aku lumayan bangga karena bisa bekerja di toko kue yang terkenal dikota apalagi dengan gaji yang sedikit diatas UMR, namun juga harus siap dengan keadaan seperti sore ini.
Pukul setengah 6, aku duduk disekitar pilar karena kakiku terlalu lelah untuk berdiri lama saat ini.
Dan terperangah karena pria itu pun nampaknya sama lelahnya dan duduk di bangku lain yang jaraknya 5 meter.
Kali ini ia tak sendiri, ia bersama pria lain yang nampak lebih kecil darinya. Mungkin temannya. Keduanya tertawa saat salah satu melempar guyonan. Oh -aku mungkin terdengar begitu berlebihan bila mengatakan ini, tapi tawanya terdengar indah dengan suaranya yang tak kusangka cukup dalam namun juga nadanya begitu lembut.
ESTÁS LEYENDO
Peron ke enam ceritaku di mulai
Historia CortaAku bertemu dengannya di peron ke enam -pria tampan dibalik balutan kemeja biru muda setiap akhir pekan
