1. Minder

2 0 0
                                        

Tiga wanita yang duduk melingkari meja bundar itu saling pandang. Saat ini mereka berada di kafe milik keluarga Kinar. Kafe besar dan luas dengan gaya ala musim gugur.

"Jadi apa nih yang mau lo kasih tahu." Isyana, wanita yang sedang hamil muda itu bertanya.

Maurin, tersenyum lebar dengan kedua matanya yang berbinar. Menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.

Wanita yang duduk di samping kirinya--Isyana--menganga tak percaya.
Sedangkan wanita di samping kanannya--Kinar--tertegun dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jangan bilang sama ... Rengga?" tanya Kinar terdengar ragu.

"Ya emang sama dia. Pacarannya kan sama dia." Maurin, wanita itu menggeram.

Kinar dan Isyana saling pandang. "Yang jadi masalah itu, lo beneran cinta nggak sama dia?" tanya Kinar lagi, wanita cantik itu bertanya dengan tampang galak. Maurin mengangguk antusias menanggapi.

"Lo dipelet ya?" Isyana masih bingung, atau mungkin syok. Lalu melihat Maurin menggeleng dan melotot padanya, ia hanya menghela napas.

Benar-benar sebuah keajaiban.
Dulu Maurin seringkali mengejek Rengga sebagai cowok cupu, dan semacamnya, tapi lihatlah sekarang?
Sesuatu yang tak pernah terpikirkan, malah menjadi kenyataan.

Namun tak dapat dipungkiri, Rengga yang sekarang memang bukan Rengga yang dulu. Kalau dulu Maurin sering mengatakan Rengga 'nggak banget' sekarang ia harus merevisinya menjadi Rengga 'wow banget'.

"Gue sebenarnya nggak percaya, tapi..." Isyana tiba-tiba bangkit lalu memeluk Maurin."Congratulations, Maurin Sayang! sumpah, gue terharu!" Isyana yang memang melankolis, menitikan air mata bahagia.

"Pokoknya kalian harus saling percaya. Karena yang paling penting dalam suatu hubungan itu buat gue, ya, kepercayaan." Isyana menasihati, mengingat ia memang sudah lebih dulu menikah daripada kedua sahabatnya.

Kinar duduk dalam diam melihat adegan kedua sahabatnya yang kini saling berpelukan. Satu sisi, ia merasa senang sahabatnya itu sudah dilamar. Tapi sisi lain, logikanya merasa ini tidak benar.
Kenapa ia yang sudah pacaran lama belum dilamar juga?

Maurin mengurai pelukannya. "Gue juga terharu banget waktu itu. Dan gue rasa kondisi terjelek gue itu ya, waktu Rengga lamar gue," Maurin mengulum senyum, "mana dia romantis banget. Baper gue." Ia terkekeh mengingat momen itu.

"Dan untung Rengga nggak berubah pikiran," sambung Isyana, tertawa. Ia bisa membayangkan seperti apa kondisi Maurin saat itu. "Ceritain dong gimana si Rengga lamar lo." Isyana penasaran.

Lalu Maurin dengan senang hati menceritakan lamaran romantis itu. Kinar juga ikut menyimak.
Dari cerita Maurin, jelas Rengga tipikal pria romantis. Ia melamar Maurin di restoran yang tengah ramai pada suatu malam, dan sudah pasti banyak pasang mata yang melihat.
Romantis yang klasik. Tidak terlalu kreatif menurut Kinar, tapi wanita manapun tetap akan luluh juga.

"Tapi, Rin, bukannya kalian baru jadian beberapa bulan?" Kinar meminta pembenaran.

Maurin mengangguk dan menoleh pada sahabatnya itu. "Yup. Baru lima bulan."

"Kok bisa tiba-tiba mau married?" tanya Kinar memicing curiga.

Isyana ikut memandang Maurin.
Maurin memandang keduanya bergantian. "Nggak ada kata tiba-tiba di dunia ini, Kinar. Semuanya udah ada yang ngatur," jawabnya santai.

"Benar juga." Isyana menanggapi.

Kinar tersenyum samar mendengarnya. "Rin, lo nggak---"

"Nggak Kinar. Gue nggak hamil." Maurin memotong ucapan Kinar dengan cepat. Saat melihat tatapan Kinar mengarah ke perutnya.

Kebelet Married Where stories live. Discover now