Email Lamaran... [1]

42 7 3
                                        

“Setiap orang punya cintanya masing-masing. Kalau memang kamu masih bisa dan mampu menjalani prinsip itu, kamu lanjutkan. Tapi, jika kamu ingin merasakan cinta, ya kamu akhiri saja. Karena setiap orang itu pasti punya cinta. Ingin disayang dan diperhatikan. Dan jika itu bisa membuat kamu senang, kenapa tidak?”

Kalimat Riska yang terus berputar-putar dalam ingatan itu sekali lagi membuatku tertegun. Apa yang diucapkan oleh Riska itu ada benarnya juga. Saat ini aku benar-benar dilema. Beberapa hari yang lalu, seorang pria melamarku via email. Pria jangkung berkulit kuning langsat kecokelatan bernama Randi Krisyanto. Aku mengenalnya belum lama ini, ketika datang ke kantor Risma dan bertemu dengan manager executive itu.

Sesi dilema ini bermula karena sebuah prinsip. Prinsip yang aku yakini. Prinsip yang menemaniku selama aku bernapas sampai detik ini. Prinsip yang melindungiku. Bukannya aku merasa tidak cocok. Bukannya aku merasa tidak suka. Bukan. Tapi karena aku masih ingin mempertahankan prinsipku. Dan jika prinsip yang selalu aku bangga-banggakan itu―

“Sudah lama? Sorry telat.” Seorang gadis yang akan segera berulang tahun ke-dua puluh datang tiba-tiba dan menarik kursi di seberangku.

Aku mendesah panjang. Bukan karena keterlambatan Riska. Tapi karena kedatangannya yang mengejutkan itulah spekulasi atas prinsipku jadi terhenti.

Aku menatap galau pada Riska yang kini sudah duduk di depanku. Tak lama kemudian, seorang pramusaji datang membawakan pesanan Riska.

“Aku tidak tahu bagaimana mengatasi Risma.” Aku memulai, setelah pramusaji itu pergi.

Suasana di Cannella Resto malam ini cukup ramai. Meja-meja, baik di koridor maupun di taman, dipenuhi para remaja seusiaku yang entah lagi membahas apa, atau hanya sekedar hangout bareng teman-teman. Seperti apa yang aku lakukan bersama Riska malam ini.

“Kamu tahu sendiri kan, bagaimana sifat Risma? Dalam waktu dekat dia pasti akan kembali seperti semula lagi.” Riska berucap di sela-sela makannya. Sepiring mie goreng itu sudah sebagian dilahapnya.

“Tapi, sepertinya kali ini dia benar-benar marah.”

“Jujur padaku, bagaimana hubunganmu dengan Randi saat ini?”

“Baik. Dari dulu juga selalu baik. Hanya saja kami sempat lose contact selama beberapa pekan sebelum akhirnya dia kembali dengan email itu.”

“Aku jadi heran. Kenapa dia memilih untuk melamarmu melalui email?” tanya Riska dengan jenaka, yang saat ini sedang sibuk dengan lemon tea-nya.

Aku tertawa sembari melirik piring mie goreng Riska yang telah bersih. Sebenarnya aku juga mempertanyakan hal yang sama.

“Katakan padaku, apakah surat lamarannya seformal proposal pengajuan kerja sama?”

Aku tergelak mendengar pertanyaan Riska.

“Nah gitu, dong! Senyum. Ketawa. Have fun enjoy. Jadi rileks kan?”

Aku berhenti tertawa. Aneh juga karena rasanya aku cukup kesulitan untuk menghentikan tawaku. Dengan linglung aku menyedot peppermint-ku, dan menerima sensasi segar yang menyenangkan dalam kerongkongan.

“Jadi, gini. Sebelumnya sorry banget karena aku nggak bisa lama-lama di sini. Rojak udah nungguin aku di kafe sebelah.” Riska nyengir saat mengucapkan kalimat terakhirnya. “So, menurutku lebih baik kamu benar-benar tenangin pikiran kamu dulu. Kalau memang menurutmu dengan menerima lamaran Randi, persahabatan antara kamu dengan Risma dapat terselamatkan, ya itu bagus. Tapi, sebelumnya kamu tanyai hati kamu dulu. Kalau emang kamu rasa gak bisa, ya udah. Jangan dipaksain. Mungkin emang udah takdirnya persahabatan kamu dengan Risma akan seperti ini.” Sambung Riska, kemudian dia mengeluarkan dua lembar pecahan uang lima puluh ribu dari dompet ungunya.

“Eh, nanti bayarnya pakai ini aja.” Riska menunjuk lembaran uang kertas yang baru saja diletakkannya di atas permukaan meja. “Itung-itung sebagai syukuran karena aku lagi happyyyy banget sama Rojak.” Lanjutnya sembari berkemas.

Aku melongo.

Diam dan memperhatikan Riska dengan saksama. Aura bahagia benar-benar terpancar dari wajah ayunya.

“O ya, satu lagi. Kalau kau mau, aku sarankan jangan dulu memberi keputusan. Kita kan masih bisa bicara nanti.” Imbuh Riska sebelum pergi sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

Seharusnya aku tahu dia akan cepat-cepat kabur sebelum aku marah besar. Tapi, kali ini aku benar-benar sedang tidak berselera buat marah. Konflik antara diriku dengan Risma dan Randi telah menguras seluruh pikiran dan tenagaku.

Buktinya?

Event berantakan. Deadline hanya benar-benar tinggal deadline. Naskah berserakan di mana-mana.  Dan aku ... aku hanya bisa diam melewati semuanya dengan sia-sia. Punya kekuatan magic apa sampai Randi benar-benar menarikku ke pusat lingkaranku sendiri? Punya kekuatan sihir apa sampai kemarahan Risma benar-benar mengoyak pikiranku?

__________

TBC
(づ ̄ ³ ̄)づ

Email LamaranHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora