Membunuh Fajar

47 2 1
                                        


Membunuh Fajar

“Sudah, di sini saja kita berhenti.” Bunga sedikit berteriak agar Fajar yang mengemudikan motor mampu mendengar suaranya.
Fajar, menghentikan motor. Posisi mereka berada di tengah hutan jati. Sebagai polisi hutan, ia sangat mengenal lokasi itu.
“Memangnya, kamu mau ngomong apa?” tanya Fajar sambil meluruskan standar motornya.
Bunga segera turun dari boncengan dan berdiri tegak di depan Fajar yang masih duduk di atas jok motor bebek itu. Suasana sekeliling agak sedikit sepi karena mereka berada agak jauh di tengah lokasi tersebut. Bahkan dua meter dari tempat Fajar menghentikan motornya terbentang jurang yang cukup dalam. Dan Bunga sengaja meminta untuk berhenti di tempat itu.
“Langsung sajalah. Benar, kamu berniat menikahi perempuan pilihan orang tuamu itu? Karena dia, kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita?” berondong Bunga dengan napas memburu.
Fajar berusaha tenang.
“Bunga, kita memang tidak bisa meneruskan hubungan kita. Banyak hal yang memicu ketidak cocokan dan berakhir dengan pertikaian, jika diteruskan ... kita akan gagal di tengah jalan, bahkan sebelum memulai,” jawab Fajar.
Rona merah menjalari wajah Bunga. Gadis cantik itu merasa jawaban Fajar mengada-ada untuk meyakinkan dirinya.
“Aku tahu, Gayatri lebih cantik dari aku. Tapi kau harus ingat, kau sudah merusakku!” sambarnya ketus.
“Apa yang kulakukan?” tanya Fajar kebingungan.
“Diam! Kau laki-laki pertama yang menyentuhku! Dan kau tidak boleh meninggalkanku!” balas Bunga berapi-api.
“Bunga, sudah biasa muda-mudi yang kasmaran itu saling bercumbu, aku toh tidak berbuat terlalu jauh,” Fajar membentangkan kedua tangannya.
Darah Bunga menggelegak oleh amarah yang membakar jiwa. Ia tidak rela Fajar menikahi wanita lain, jika ia tidak bisa memiliki Fajar, maka Gayatri juga tidak. Matanya memandang ke arah jurang di samping Fajar. Ia meraba sesuatu di balik jaket.
“Jadi ... kau tetap tidak mau membatalkan rencana perkawinan kalian?” kejarnya.
Fajar turun dari motor dan berdiri di depan Bunga sambil memegangi kedua pundak gadis itu. Wajahnya yang tampan memancarkan keteduhan dan rasa nyaman yang tidak dirasakan Bunga dari lelaki lain, karenanya, gadis itu sedikit berdebar.
“Bunga ... aku tidak bisa membatalkannya begitu saja dan menciptakan rasa malu bagi keluarga besarku dan Gayatri.”
Bunga menggedikkan bahu untuk melepaskan kedua tangan Fajar. Matanya nanar memancarkan luka dan kebencian yang dalam.
“Kau hanya peduli pada orang tuamu! Tidak memikirkan perasaan dan luka serta rasa malu yang harus ku tanggung, karena kau menikahi perempuan lain!” napasnya kembali memburu.
Fajar hendak menyentuh pundaknya sekali lagi dan ditepiskan Bunga dengan kasar.
“Bunga, dengar ... kau cantik, baik dan banyak pria yang mengejarmu,” hibur Fajar.
“Dan kau mencampakkanku seperti sampah!”
“Tidak Bunga, bukan begitu maksudku ....”
“Aku tak berharga bagimu, tidak cukup layak jadi mantu ibumu, begitu?” sambar Bunga cepat tanpa menunggu Fajar menyelesaikan kalimatnya.
Gadis itu gelap mata, tangannya bergerak secepat kilat menarik benda dari balik jaket dan menikam dada kanan Fajar kemudian menarik belati itu kembali. Pemuda itu terhuyung hendak menangkapnya dengan sebelah tangan dan tangan yang lain menutup dadanya yang terluka sambil meringis kesakitan. Bunga menghindari tangan Fajar dan membiarkan lelaki itu jatuh tertelungkup tanpa suara.
Entah dari mana datangnya, Ridwan sudah berada di tempat itu dan mendekat ke arah Bunga. Di belakangnya tergantung tas punggung yang cukup besar.
“Bagaimana? Sudah mati dia?” tanya Ridwan, matanya melirik tangan kanan Bunga yang memegang belati. Ada bercak darah Fajar yang membuat perutnya sedikit mual.
“Aku tidak tahu, coba kamu lihat!” perintah Bunga yang diikuti Ridwan, pandangannya kosong.
Pemuda berbadan kekar itu berjongkok dan membalikkan tubuh Fajar, darah yang masih mengucur dari luka tusuk itu membuat rumput yang berada di bawah luka itu ternoda cairan merah yang menggenang. Ridwan memeriksa nadi di leher Fajar.
“Masih berdenyut, lemah,” jawab Ridwan.
Bunga mendekat dan ikut berjongkok, tanpa ragu ia kembali menikam dada Fajar. Sekali, dua kali, lagi, dan lagi. Wajah cantiknya berubah bengis, tanpa belas kasih. Ridwan bergidik ngeri menyaksikan pemandangan itu. Namun lelaki muda itu memaksakan diri membantu Bunga --gadis yang ia cintai—untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bunga berjanji akan menikah dengannya bila bersedia membantu melenyapkan Fajar.
Setelah yakin jika Fajar telah tewas, Ridwan mendorong motor pemuda tersebut ke jurang dan menyeret jenazahnya ketepi ngarai serta melempar tubuhnya ke sana setelah memenggal kepala Fajar.
Bau anyir darah yang menguar ke udara di sekitar mereka membuat Ridwan semakin mual, ia memuntahkan isi perutnya sebelum membungkus kepala Fajar dengan kantong plastik hitam, memasukkannya ke dalam goni, lalu kembali menyimpan kepala itu ke kantong plastik lain dengan ukuran lebih besar.
Bunga memandangi pakaian mereka yang terpercik darah korbannya. Ada kecemasan terpancar dari mata gadis itu.
“Bagaimana pakaian kita?” tanya Bunga.
Ridwan menurunkan tasnya, “Aku membawa pakaian ganti dan tisu basah, setelah itu, bakar saja pakaian kita untuk menghilangkan jejak.”
Bunga mengangguk. Ia tidak menyangka jika Riwan mengantisipasi semuanya dengan cermat. Mereka berpindah tempat untuk menukar pakaian sambil menenteng plastik hitam berisi kepala Fajar.
Tidak jauh dari tempat itu mengalir sungai yang cukup deras. Mereka mandi dan membersihkan darah yang tersisa di sana. Melihat kemolekan tubuh Bunga dari belakang, Ridwan menelan ludah.
Saat berbalik arah, Bunga memergoki pemuda itu sedang memperhatikannya. Jakun Ridwan naik turun, tercekik air liurnya sendiri.
“Kita harus bergegas, jangan sampai ada orang yang memergoki perbutan kita.” Bunga segera mengenakan pakaian karena merasa risih dengan pandangan Ridwan.
Ridwan mengikuti perintah Bunga dan meneruskan rencana untuk membakar seluruh pakaian yang telah mereka kenakan. Sebelum menguburkan kepala Fajar, Bunga kembali mengeluarkannya dari plastik. Ia sempat menangis dan meratapi nasip malangnya.
“Seharusnya ini tidak terjadi, aku tak rela kau menikah dan hidup bahagia dengan perempuan lain.” Bunga kembali memasukkan kepala Fajar dan menyerahkan kembali pada Ridwan.
Pemuda itu segera menggali tanah dengan alat yang ia simpan dalam ransel dan setelah dirasa cukup dalam, ia meletakkan bungkusan itu serta menimbunnya, kemudian kembali ke rumah masing-masing, seperti tidak terjadi sesuatu.
*_*

Hari berlalu tanpa menunggu. Baik Bunga dan Ridwan berpura-pura tidak melakukan sesuatu yang buruk, juga tidak membicarakan masalah itu.
Malam Jum'at, Bunga terbangun karena mendengar seseorang yang memanggil di tengah malam buta. Ia berpikir sedang bermimpi karena suara itu begitu jauh, namun ternyata ... makin lama suara itu semakin kuat, bernada seperti erangan panjang.
“Bungaaa ... bangunlah! Kembalikan tubuhkuuu ... jangan buang kepalakuuuu ....”
Bunga duduk tegak di tempat tidur dan menajamkan pendengaran. Keringat membasahi kening dan tubuhnya dengan seluruh bulu di tengkuk yang meremang. Ada aura mistis yang membuat tengkuknya terasa dingin.
Tidak terdengar apapun. Tetapi, saat ia kembali terlentang di tempat tidur, suara itu kembali terdengar, bahkan lebih dekat.
“Kembalikan badanku, Bunga ... sakit sekali rasanya ....”
Bunga membalikkan tubuh menghadap ke pintu dan terlonjak bangkit.
Fajar melayang di samping lemari dengan wajah pucat, darah kehitaman menetes ke lantai keramik putih kamarnya, tanpa tubuh! Seketika ia menjerit-jerit memanggil ibunya sambil menutup wajah.
Mendengar jeritan Bunga, ibu tergopoh-gopoh ke kamarnya diikuti bapak di belakang. Begitu pintu terbuka, ibu langsung memeluk Bunga yang sedang duduk di ranjang sambil menutupi wajahnya dengan tubuh basah kuyup oleh keringat.
“Kenapa, Bunga? Ssshh ...,” ibu menyeka keringatnya. “Kau pasti bermimpi buruk, sudah tenang dulu, tolong ambilkan minum, Pak,” perintah Ibu ke Bapak.
“Iya, Bu.” Bapak bergegas keluar dan sesaat kemudian membawa air dalam gelas.
Bunga masih menutupi wajahnya.
“Bunga, ayo minum dulu. Buka wajahmu, jangan tutupi, ini Ibu.”
Ibu menyodorkan gelas ke arahnya dan menarik tangan Bunga. Tubuh gadis cantik itu bergetar hebat. Setelah meneguk habis isi gelas itu, ia memeluk ibu dengan erat dan menangis tanpa henti.
“Sudah tenang, itu cuma mimpi.” Ibu mengelus punggung Bunga, mencoba membuatnya tenang.
“Jangan tinggalkan Bunga, Bu. Bunga takut.”
“Iyaa ... Ibu di sini.”
“Iya, Bu. Sebaiknya temani saja Bunga tidur di sini. Biar Bapak ke kamar,” usul Bapak.
Ibu mengangguk sambil membaringkan Bunga kembali. Gadis itu melirik ke arah lemari, tidak ada setetes darahpun di sana. Degup jantungnya belum beraturan karena peristiwa tersebut. Hanya saja, ia merasa lebih tenang setelah ibu berbaring di sampingnya.
*_*

Bapak dan ibu sedang mengikuti rapat di balai desa sejak lepas magrib. Ini sudah hampir jam 9 dan ia belum menunaikan salat isya'. Tidak ada seorang pun di rumah karena Adi dan Romi, kedua adiknya, sedang keluar.
Dengan malas ia beranjak dari ruang tengah menuju kamar mandi. Belum sempat ia berwudu, ia dikejutkan oleh kehadiran kepala Fajar yang melayang di atas bak mandi. Darah kental kehitaman menetes mengotori air di bak yang segera berubah warna dan menebarkan bau busuk.
“Bunga ... kenapa kau pisahkan kepalaku?”
Bunga mundur selangkah ke belakang, tubuhnya membentur dinding.
“Maafkan aku, Fajar. Jangan ganggu aku!” Air mata segera mengalir deras.
Ia menggigil, waktu seakan berhenti berputar.
“Sakit, Bunga ... panas sekali di sini. Kembalikan badanku ....”
Fajar menatap tanpa ekspresi, meneror Bunga yang kini menutup wajahnya.
“Tidaaaakk ... Ibuuu ... Bapaaakk ....” Bunga menjerit-jerit ketakutan hingga celana pendeknya basah oleh urinenya sendiri.
Gadis itu jatuh terduduk, menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Bunga, satukan kembali kepala dan tubuhku ... jangan menyiksaku Bunga.”
Suara Fajar menggema di kepala Bunga. Seluruh tubuhnya bergetar hebat sementara pakaiannya telah basah kuyup oleh keringat dan urine. Ketakutan luar biasa membuat Bunga hilang kesadaran tanpa ada yang mengetahuinya.
Sampai di rumah, ibu terkejut melihat Bunga berada di kamar mandi dalam keadaan seperti itu.
Wanita itu segera meminta suaminya untuk mengangkat Bunga ke kamar dan mengganti pakaiannya. Ibu membalurkan minyak gosok ke dada, tangan dan kaki gadis itu dan memijat jemarinya. Sesaat setelah siuman, Bunga memandang ke sekeliling dengan wajah kebingungan.
“Kenapa kau, Nak?” ibu menyeka wajah Bunga dan menyingkirkan anak-anak rambutnya.
“Bu, Bunga takut.”
Ibu tersenyum, “Tidak ada apa-apa, Nak. Ibu di sini. Istirahatlah. Kau seperti tidak sehat.” Wanita itu hendak pergi saat Bunga menangkap lengannya.
“Jangan tinggalkan Bunga, Bu.” Matanya sembab dan air mata masih menggenang di sana.
“Tidak ada apa-apa, Ibu akan segera kembali, belum salat isya'.” Ibu tersenyum.
“Bu, apakah ... orang yang sudah mati bisa mengganggu manusia?” tanya Bunga ragu, ia mengambil posisi duduk.
Ibu membaringkan Bunga kembali dan duduk di tepi ranjang anak gadisnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bunga? Belakangan ini, Ibu melihatmu gelisah, mengigau dalam tidur dan sering berteriak tanpa sebab.” Ibu memperhatikan wajahnya.
“Tadi, di balai desa kami membahas keamanan hutan jati, banyak kayu yang dicuri karena kurangnya petugas,” ibu menghela napas, “Ada selentingan jika Fajar menghilang, saat itu Ibu baru menyadari jika kalian berhubungan baik. Belakangan ini Ibu tidak pernah melihatnya berkunjung kemari.” Wanita itu menatap Bunga.
Jantung gadis cantik itu berdetak lebih kuat, menghadirkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh wajah dan telinganya.
“Bu, tolong temani Bunga di sini. Saya takut,” Bunga merasa seseorang sedang mengawasinya.
“Tidak ada apa-apa di sini, berdoalah sebelum tidur, jauhkan semua pikiran burukmu, besok kita bicara lagi.”
“Bu, setidaknya berjanjilah Ibu akan keluar kamar setelah Bunga tertidur.” Rasa cemas itu memuncak menggetarkan seluruh nadinya.
Apa yang akan terjadi jika Ibu pergi dari sini? Apakah Fajar akan mencekikku? Pikiran Bunga melayang-layang.
“Bapak belum makan, Bunga. Ibu harus menyiapkannya, sudahlah. Jangan mengada-ada,” putus Ibu. Beliau merapikan selimut dan bersiap pergi ketika Bunga menangkap lengannya.
“Berjanjilah Ibu akan berada di sini saat Bunga menjerit, Bu,” pinta Bunga sekali lagi.
Ibu hanya mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu.
Malam telah larut, namun Bunga tidak mampu memejamkan mata. Ibu tidak menjawab pertanyaannya mengenai orang yang telah mati. Hatinya diliputi kegelisahan, apakah Fajar akan kembali mengganggu malam ini? Diam-diam penyesalan menggerogoti hati kecilnya. Andai saja ia tidak terbakar amarah, tentu hal ini tidak akan terjadi. Mengingat itu, Bunga merasa terjerembab dalam lembah tak berdasar.
Gadis itu hampir terlelap saat suara rintihan itu kembali.
“Bungaaa ... kembalikan tubuhku. Kenapa kau begitu kejam padaku, Bunga? Apa salahku?”
Wajah Fajar terlihat pucat, darah yang terlihat masih menetes itu menebarkan aroma yang menusuk hidung, menyebabkan sakit di belakang kepala Bunga. Namun, tubuh gadis itu seperti kaku, selain itu ... ia juga tidak mampu bersuara.
Fajar tidak lagi melayang di samping lemari, tetapi di atas ranjangnya. Cairan kental hitam itu mengotori seprei dan selimut Bunga.
“Aku tak rela, dunia akhirat kau bunuh dengan cara seperti ini, Bunga.” Fajar melayang di atas kaki Bunga yang ditutupi selimut.
Tetesan darahnya seperti menembus selimut dan membasahi kulitnya, terasa dingin dan lengket. Gadis itu hanya bisa mengerang sementara deraian air matanya sudah menganak sungai.
“Hidupmu tidak akan berakhir dengan kemuliaan, kau dan temanmu itu akan terus menderita jika tidak kalian satukan kepala dan tubuhku .... “
Fajar menyeringai, gigi geliginya terlihat kotor oleh tanah. Wajahnya beku, menebarkan ketakutan bagi Bunga.
Ya Allah, tolonglah aku. Ampuni aku ya Allah ....
Tubuh Bunga terguncang hebat. Saat ia membuka mata, ibu dan Bapak sudah berada di sana.
“Bangun, Bunga. Ayo kita ke ruang tamu.” Wajah ibu basah oleh air mata, demikian juga bapak yang memandangnya dengan tatapan yang berbeda.
Ia menuruti perintah ibu dan saat berada di ruang tamu, sudah ada Ridwan bersama 4 orang polisi berpakaian preman. Jantungnya kembali berdebar.
“Bunga, maafkan aku. Lebih baik aku dipenjara daripada harus mati dihantui oleh rohnya Fajar.”
Ucapan Ridwan menyentakkan jiwa dan raga Bunga. Gadis itu menangis meraung-raung meminta maaf pada kedua orang tuanya sekaligus meminta polisi untuk tidak membawanya pergi.
Namun hukum tetap garus ditegakkan, polisi-polisi itu membawa mereka pergi disertai tangisan kecewa ibu yang telah membesarkan seorang pembunuh. Demikian juga bapak yang merasa ditampari melihat anak gadisnya yang cantik dikeler polisi disaksikan beberapa warga yang terbangun mendengar raungan Bunga.
Hidup memang kejam, tetapi kita harus mampu bersabar agar tidak terjebak dalam perbuatan bodoh yang akan mendatangkan kesulitan kelak di kemudian hari.




Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Sep 19, 2019 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

TrillerHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora