12 Januari 2012
📍Incheon Airport
"Kamu jaga diri disana, Makan jangan sampe telat, jangan suka bergadang juga, aku dukung kamu darisini" Ucapku pelan sambil menatap iris hazelnya.
Taehyung tersenyum kecil. Tangannya naik perlahan mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Mungkin aku akan merindukan sentuhannya.
"Jika tuhan berkehendak, Aku akan segera kembali, See you soon." Taehyung memelukku lama lalu mengangkat kopernya segera berangkat menuju Amerika karena urusan penting yang mau tidak mau Taehyung harus meninggalkan Orang orang terdekatnya.
Perlahan punggungnya Mulai menghilang dari netra ku. Akupun segera membalikkan badan. Rumah, Itu tujuanku sekarang.
---
24 Maret 2014
1 Tahun setelah keberangkatan Taehyung ke Amerika, Aku tidak lagi berkomunikasi dengannya sampai sekarang. Nomornya tidak bisa dihubungi, semua sosial media Taehyung yang kupunya sudah tidak aktif. Kemana hilangnya orang itu? Bahkan tak satu orang pun memberi tahuku tentang ini. Hingga banyak pikiran negatif yang hinggap dikepalaku tentang Taehyung. Apakah dia sudah memiliki teman hidup yang baru disana sehingga aku terlupakan? Atau ia memang sengaja memutuskan kontak denganku karena sudah memiliki sebuah kehidupan baru disana? Entahlah, semenjak itu aku perlahan terbiasa tanpa adanya sosok Taehyung dan seseorang mulai masuk menggantikannya dikehidupanku yang sekarang, Aku perlahan mulai melupakan Taehyung.
---
2 Agustus 2016
Disebuah gedung mewah yang sudah berhiaskan dengan berbagai macam bunga dan hiasan lainnya yang bertema Hitam dan Putih, seorang lelaki berdiri diatas Altar dengan gagahnya mengenakan tuxedo hitam dengan dasi kupu kupu dikerah kemejanya membuat ia semakin menawan.
Hanbin tersenyum lembut ke arahku yang sedang berjalan menghampirinya bersama ayahku. Aku berkali kali meremat gaun hitamku sendiri saat jarak antara aku dan Hanbin sudah dekat. Ya, aku gugup sekarang.
Langkah demi langkah, Akhirnya aku sampai di ujung Altar pernikahan jantungku berdetak sangat cepat saat Hanbin melihatku.
"Kupercayakan anakku padamu Hanbin" itu pesan ayahku sebelum ia turun dari altar. Hanbin hanya tersenyum lebar dan mengangguk guna meyakinkan Ayahku.
Ayah turun dari altar hingga tersisa 3 orang diatas altar tersebut. Suasana hening, semua orang yang ada digedung tersebut tidak bersuara, Mereka menunggu Kami berdua mengucapkan janji sakral dengan ekspresi bahagia.
—
Setelah mengucapkan janji sakral itu, Aku tersentak kaget ketika Hanbin meraih tangan kanan ku lalu menyematkan sebuah cincin emas yang didalamnya terukir sebuah nama 'Kim Hanbin'. Aku menatap iris hitam Hanbin dalam, Lalu menyematkan cincin emas yang sama di jari manis seseorang yang sekarang sudah sah menjadi suamiku.
"Mempelai pria dipersilahkan untuk mencium mempelai wanita." Seketika aku membeku, Hanbin perlahan memajukan kepalanya, Aku hanya mampu menutup mataku menikmati ciuman yang Hanbin berikan. Oh God, ini ciuman pertamaku.
—
9 September 2018
Aku sedang duduk santai didepan TV sambil menyesap coklat hangat yang Hanbin buat untukku sebelum ia pergi berangkat ke kantor.
TingTong!
Bel rumah tiba tiba berbunyi, aku meletakkan gelas keramikku dimeja lalu segera berjalan membukakan pintu.
"Park Jimin?"
Park Jimin adalah sahabat Taehyung dari kecil, yang juga memperkenalkan Taehyung padaku waktu itu.
"Selamat pagi Jennie-ssi, Aku kemari untuk memberikan ini" Jimin memberiku sebuah DVD. "Dari siapa Jim? Ayo masuk dulu".
"Dari seseorang, Ah- maaf aku tidak bisa mampir, Aku masih ada jadwal untuk rekaman, Terimakasih tawarannya." Jimin melenggang pergi setelahnya. Aku menutup pintu lalu kembali duduk disofa dan memperhatikan DVD tadi lalu menyetel DVD itu di TV.
Muncul sesosok orang yang selama ini menghilang, Orang yang aku rindukan, Orang yang juga selama ini meninggalkanku tanpa jejak. Aku memperhatikannya, ia masih sama dengan senyum kotaknya, kulit tan yang bersinar dan surai dark chocolate yang menawan, Tapi, tunggu dulu. Kenapa dia mengenakan pakaian rumah sakit? Dan juga, Alat apa itu? Kenapa banyak sekali menempel ditubuhnya? Entahlah, aku hanya ingin mengetahui apa maksud tujuan dia memberiku rekaman ini.
"Hai Jennie,
Ini aku, Taehyung. Apa kau masih ingat?" Taehyung tersenyum lembut. "Maaf Jen, aku tidak bisa bersamamu lebih lama. Penyakit ini terus menggerogoti ku. Aku sengaja menghilang dan pergi dari kehidupanmu karena aku tau aku tak sanggup untuk bertahan, aku hanya ingin kau melupakanku dan memulai lembaran baru bersama orang lain. Aku harap kau tidak membenciku setelah ini karena aku telah memilih jalan yang salah. Mungkin saat kau melihat rekaman ini, aku sudah tidak ada lagi didunia. Aku harap kau selalu bahagia dengan orang pilihanmu. Aku akan tetap bersamamu. Aku akan memantaumu setiap hari dari atas langit." Taehyung mengakhiri rekamannya dengan senyum kotak yang manis.
Aku terdiam, membeku, Air mataku mengalir begitu saja. Aku baru tau alasannya pergi ke Amerika bukan untuk pekerjaan, melainkan untuk penyakitnya. Aku paham mengapa dia lakukan ini. Maafkan aku Taehyung-ah, Aku telah berpikir yang tidak tidak tentang dirimu, ternyata selama ini aku salah. Hari ini, kebenaran sebenarnya telah terungkap.
End.
Halo manteman! Udah selesai baca? Hehe maaf kalo feel nya gak dapet,dan ada pemilihan kata yang kurang tepat. Makasih buat kalian yang udah mampir di book pertama aku💕Jangan lupa VOTE biar aku semangat ngetik dan bikin fanfic baru lagi!^^
—taera
YOU ARE READING
The Truth Untold
Fanfiction-Oneshoot Main Cast : - Jennie Kim [Blackpink] - Kim Taehyung [BTS] - Kim Hanbin [iKON] othercast : - Park Jimin [BTS] 20190912
