Prolog

43 12 6
                                        

Karya : FniliyawAww

***

Kehilangan, tak ada yang ingin merasakannya.
Ironisnya, tak ada yang tidak akan merasakannya.

***

Gaun panjang wanita itu berkibar ke sana kemari. Mengikuti sang empunya yang berlari tanpa tau arah dan tujuan. Nafasnya memburu menyatu dengan teriak histeris manusia lain, keadaan yang sangat kacau membuatnya kesulitan bergerak. Beberapa kali terjatuh karena bertabrakan dengan yang lain.

Ribuan manusia berlari panik sambil berteriak minta tolong, padahal tak satupun dari mereka dapat menolong. Ratusan burung terbang tanpa arah tetapi ada satu burung yang terbang pasti di samping wanita bergaun panjang.

"Akhh!" Wanita itu berteriak histeris kala seorang pria menarik lengannya. Adakah pria mesum ketika dunia mereka akan menjadi batu?

"Leo!" terkejut wanita itu melihat pria yang ia kenal lah yang menariknya entah ke mana.

Mereka terus berlari, namun kali ini dengan tujuan yang pasti. Pria bernama Leo menarik lengan wanita bergaun panjang lebih kencang namun tidak menyakiti, hingga akhirnya wanita itu masuk ke dalam sebuah rumah tanpa jendela dan celah untuk sinar matahari. "Masuk!" Perintah Leo kepada puluhan manusia yang berlarian. Sisanya telah menjadi batu.

"Masuk! Cepat!"

Leo menatap ke arah timur, sinar matahari semakin mendekat. Itu artinya mereka tidak memiliki waktu banyak. Jika sinar matahari itu menyentuh mereka sedikit saja, maka mereka akan berubah menjadi batu secara perlahan.

Wanita bergaun panjang menatap khawatir ke arah Leo yang menginterupsi orang-orang untuk masuk ke dalam rumah. Ia tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi. Tetapi, dari keadaan yang ia amati, terlihat jelas jika mereka menghindari sinar matahari.

Wanita itu mengalihkan pandangannya keluar melalui pintu yang terbuka di mana ada orang-orang yang berlarian masuk. Sinar matahari semakin mendekat. Panik, menyerangnya tiba-tiba.

"Leo! Masuk!" Ia berteriak panik.

Tak mampu bersabar ia mengahampiri Leo dan menariknya masuk ke dalam. Mereka bergegas menutup pintu menghiraukan orang-orang yang berteriak dari luar. Tiba-tiba orang-orang dari luar menahan pintu agar tidak tertutup dan memberikan mereka kesempatan untuk masuk. Tetapi, ruangan sudah penuh lagipula sinar matahari sudah mencapai halaman rumah, sedikit lagi saja akan menyentuh pintu.

Leo dan wanita terus mendorong agar pintu tertutup. Tetapi, si wanita tiba-tiba berhenti. "Ayah," lirih si wanita sambil menangis melihat ayahnya termasuk ke dalam orang-orang luar yang mendorong pintu.

"Izinkan ayah masuk, Nak," pinta sang ayah memohon dengan raut panik dan lelah bercampur menjadi satu.

Sesak, ingin rasanya memeluk sang ayah. Mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.

Sambil menangis wanita itu mencoba membuka pintu menghiraukan protes Leo. Dia semakin panik ketika matanya tak sengaja melihat orang-orang yang berada di belakang ayahnya mulai menjadi batu. Dan, tepat ketika matahari mencapai pintu ....

The Silence Of The DayStories to obsess over. Discover now