Sinar matahari sore itu terasa lebih bersahabat daripada biasanya. Tidak sepanas hari-hari kemarin. Angin yang berembus juga memberikan efek menenangkan.
Taman bermain tampak sedikit sepi, hanya ada beberapa anak saja. Mereka bersama teman-temannya, bercanda ataupun sekedar duduk sambil makan.
Disana, seorang gadis kecil sedang duduk di sebuah ayunan, ditemani seseorang yang lebih tua darinya. Rambutnya sesekali tertiup angin dan itu mengganggunya, diekspresikannya dengan gurat wajahnya yang terlihat kesal.
"Kenapa tadi rambutmu tidak diikat saja?" Ucap gadis yang lebih tua.
"Tante Rina bilang aku lebih cantik saat rambut panjangku diurai. Apa Kak Lynn juga berpikir begitu?"
Gadis yang lebih tua itu—Lynn—hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis kecil itu, gadis yang sudah beberapa tahun ini dekat dengannya. Lynn sudah menganggapnya seperti seorang adik.
"Icha ... Icha nanti kalau sudah besar mau jadi apa?" Lynn membuka tasnya untuk mengambil sebuah ikat rambut, lalu merapikan rambut Navisha dan mengikatnya.
Icha menerima perlakuan Lynn tersebut dengan sedikit tidak suka. Seperti yang Tante Rina katakan, bahwa dia akan lebih cantik saat rambutnya diurai. Dengan begitu, otak kecilnya merangsangnya untuk dapat tampil cantik menurut standar orang dewasa.
Lynn yang memahami Navisha lalu tersenyum, "Kamu cantik, tidak peduli rambutmu diikat atau digerai."
Icha sedikit terkejut. Apa benar dia secantik itu? Kak Lynn yang sangat cantik itu memuji bahwa dirinya cantik?
Dengan kedua pipi yang merona, Icha tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih.
"Kalau sudah besar nanti, Icha pengen jadi seperti Kak Lynn," jawabnya sambil tersenyum dengan menunjukkan lesung pipi pada pipi kirinya yang membuatnya terlihat menggemaskan.
"Kak Lynn? Kenapa pengen jadi seperti Kak Lynn?"
"Karena Kak Lynn cantik. Hidungnya bagus."
Lynn yang mendengarnya langsung saja tertawa. Navisha memang selalu membuatnya tertawa. Gadis kecil yang sedikit pemalu itu mengingatkannya pada adiknya yang ada di rumah.
Lynn memang tidak tinggal di rumah. Namun beberapa minggu sekali dia akan pulang untuk bertemu dengan keluarganya. Dia tinggal di sebuah indekos dengan alasan lebih dekat dengan kampusnya serta ingin belajar mandiri. Lynn bertemu dengan Navisha saat dia dan teman-temannya mampir di sebuah kedai es krim. Dia melihat Navisha dan seorang bocah seusia Navisha yang sedang bertengkar. Jadi, Lynn berusaha melerainya. Sejak itulah dia menyukai Navisha.
Gadis kecil yang bertengkar dengan Navisha itu dia ketahui merupakan sepupu Navisha. Kalau tidak salah namanya Nana. Navisha yang memberitahunya. Nana dan Navisha bertengkar karena Nana tidak suka Navisa dekat dengan ibunya. Perasaan cemburu ketika seorang ibu yang kau sayangi lebih memperhatikan anak lain itu wajar. Jadi, Lynn memaklumi perbuatan Nana. Bukan membenarkan. Hanya saja Lynn tahu perasaan gadis itu ketika ibunya terasa lebih perhatian pada Navisha.
Namun, untuk Navisha, gadis itu lebih membuat Lynn ingin menangis untuknya. Orang tua Navisha meninggal dalam kecelakaan sekitar tiga tahun yang lalu dan meninggalkan Navisha yang saat itu usianya mungkin baru menginjak delapan tahun. Tante Rina yang merupakan adik dari ayah Navisha yang merawatnya, mengajaknya tinggal bersama Om Bayu dan Nana.
Sebenarnya hubungan Nana dan Navisha itu baik. Nana juga merasa sangat senang saat tau bahwa Navisha akan tinggal di rumahnya. Namun, semakin hari, Nana merasa iri pada Navisha yang diperlakukan dengan manis oleh ibunya. Bukan karena Nana tidak diperlakukan dengan baik, namun lebih seperti tidak terima. Anak-anak memang begitu.
Lynn menghentikan tawanya dan menatap Navisha, "Tentu saja Kak Lynn cantik. Kamu tahu kenapa?"
Navisha menatapnya penasaran. Apa yang membuat Lynn cantik? Apa Navisha bisa mengikutinya agar Navisha juga menjadi cantik?
"Karena Kak Lynn memiliki nenek yang sangat cantik. Ibu dari ayahnya Kak Lynn. Kamu tahu? Hidungnya mancung, kulitnya putih, dan dia tidak berbicara menggunakan bahasa Indonesia."
Navisha terkejut mendengarnya. Dia baru mengetahui kalau Lynn memiliki nenek yang seperti itu. Bukankah itu disebut dengan 'bule'? Nenek Lynn merupakan bule? Pantas saja Lynn memiliki paras yang begitu cantik.
"Tapi kenapa wajah Kak Lynn tidak seperti kebanyakan bule?"
"Karena suami nenekku orang Indonesia."
Lynn memang memiliki wajah yang cantik. Kulit putih, hidung mancung, bibir mungil, serta mata yang indah. Bagi gadis seusia Navisha, ingin sekali dia menjadi seperti Lynn yang cantik. Pantas saja. Neneknya bule. Apa mungkin jika nenek Navisha bule, Navisha akan secantik Lynn?
"Apakah ibunya Kak Lynn juga bule?"
Navisha mendadak sangat penasaran tentang Lynn.
"Bukan. Ibu sama seperti kakek, orang Indonesia. Hanya nenekku saja yang bule."
Navisha mengangguk paham. Setahun lebih dia mengenal Lynn, baru hari ini dia tahu bahwa neneknya Lynn merupakan seorang bule, bahwa Lynn merupakan seseorang yang memiliki garis keturunan bule. Selama ini mereka hanya mengobrol biasa. Lebih banyak Lynn yang berbicara. Karena pada dasarnya Navisha memang sedikit pendiam.
Lynn tahu banyak tentang Navisha. Namun Navisha, bisa dibilang gadis itu tidak tahu apa-apa tentang Lynn. Navisha hanya tahu bahwa itu Lynn, kakak perempuan cantik baik hati yang sering mengobrol dengannya. Tidak tahu banyak selain itu. Navisha bahkan tidak tahu bahwa selama ini Lynn sangat menyayanginya.
Navisha hanya merasa bahwa Lynn sudah seperti seorang kakak baginya. Sering memberikan saran, menasihati, membelikan cokelat dan masih banyak hal yang seringkali Lynn lakukan untuk Navisha.
Angin berembus lagi. Berusaha membuat berantakan rambut Navisha yang tadi sudah diikat rapi oleh Lynn. Lynn menatap gadis kecil disampingnya itu. Memperhatikan Navisha yang sedang memandang kosong ke depan. Lynn memahaminya. Gadis itu, terlalu banyak kekosongan di hatinya. Tinggal bersama bibinya tidak semudah itu. Navisha sering merasa rindu pada ayah dan ibunya. Navisha sering menangis karena dia sangat merindukan orang tuanya. Dia menangis sendirian. Tidak ingin Om Bayu atau Tante Rina mendengarnya. Meskipun 3 tahun hidup bersama, akan tetapi bagi Navisha mereka tetaplah orang asing.
Navisha merindukan keluarganya. Merindukan ciuman ibunya sebelum dia tertidur. Semuanya semakin parah saat Navisha tahu dia tak akan bisa mengatakan betapa ia sangat merindukan orang tuanya. Bukan tak bisa mengatakan, dia hanya tak tahu harus mengatakannya pada siapa.
"Cha, kalau Icha kesepian, Icha bisa kok main ke tempat Kakak. Tapi kalau kakak di rumah, ya." Lynn menatap sendu pada gadis kecil yang sangat ingin dia peluk itu.
Navisha menoleh dan mendapati Lynn tengah tersenyum tulus untuknya. Navisha balas tersenyum.
Ya. Setidaknya Lynn mampu membuat Navisha merasa nyaman.
"Nanti kalau Icha main ke tempat kakak, Icha mau dong dikasih lihat poto eneknya Kak Lynn." Lagi. Icha teringat pada bule yang membuat Lynn secantik itu.
Lynn tersenyum hangat, "Boleh. Nanti kakak kasih lihat. Nenek Rose itu sangat cantik kalau Icha mau tahu."
"Nenek Rose?"
"Namanya Rose. Nenekku. Dia sangat cantik. Tapi sedikit galak."
Jadi Nenek Rose. Secantik apa dia sampai Lynn mengatakan bahwa dia sangat cantik? Navisha ingin melihatnya, tetapi mungkin tidak untuk sekarang. Dia harus pulang, karena mungkin saat ini Tante Rina sedang mencarinya.
Navisha berdiri lalu menatap Lynn, "Kurasa aku harus pulang sekarang."
"Baiklah, mari kita pulang! Mau ke kedai Tante Rina atau langsung ke rumah?"
"Langsung pulang saja," balas Icha sembari tersenyum manis pada Lynn.
***
YOU ARE READING
MY DAWN
Teen Fiction"Bukan sebuah kebetulan apabila aku mampu menemukannya dalam wujud yang berbeda." "Aku tak mengerti." "Kamu memang tak perlu mengerti. Hanya biarkan saja aku yang mengerti. Karena kenangan itu, hanya aku yang memilikinya." Terkadang, jalan terbaik y...
