Suara klakson motor dan mobil bersahutan, suara saling mengumpat terdengar jelas dari beberapa pengendara di sepanjang jalan, belum lagi beberapa kendaraan memaksa menerobos menggunakan bahu jalan dan ruas jalan untuk pengguna dari arah lain.
Sudah lebih dari 2 minggu keadaan jalan di kota ini macet, bagaimana tidak satu-satunya jembatan akses penghubung di kota kami sedang mengalami renovasi, dan entah hingga kapan pengerjaannya selesai.
Aku bekerja menjadi Resepsionis di salah satu hotel di kota ini, tepat dipinggir pantai, akses jalan yang harus dilewati dari rumah menuju tempat kerja ialah jembatan tersebut. Ada rasa gemas tiap kali harus terjebak macet saat akan berangkat bekerja, belum lagi jika waktunya bertepatan dengan anak-anak sekolah yang masuk dan pulang sekolah, jam-jam tersebut benar-benar membuat penat luarbiasa, pernah sekali aku mendapat teguran dari atasan karena telat absen, karena di finger print menunjukan waktu 07.03, padahal aku berangkat dari pukul 06.30 (biasanya dari rumah ke tempat kerja hanya membutuhkan waktu 5 menit berkendara) yahh.. memang telat sih, tapi kan tidak sampai berpuluh-puluh menit, dan bukan kemauanku juga, pikirku.
Orang tua ku mengatakan untuk melewati jalan pintas lain saja, ya meskipun memang hanya jalan setapak, masih bebatuan putih (belum diaspal), dan melewati pinggir sawah, dan disana terdapat 1 jembatan kecil yang harus dilewati. Sebenarnya aku tahu jalan tersebut, hanya jika dengan posisiku yang menggunakan high heels rasanya sedikit menyusahkan, alhasil aku pun harus membawa sepatu ganti dari rumah, dan menggantinya ketika sampai hotel.
Akhirnya sudah beberapa hari berlalu dari saat aku memutuskan untuk melewati jalan itu, sekedar informasi, pekerjaanku menggunakan sistem shift, dan mau tidak mau aku terkadang mendapat shift sore juga (masuk pukul 15.00, keluar pukul 23.00)
Hari itu aku mendapat giliran shift sore, dari rumah aku berangkat pukul 14.30, saat itu belum waktunya anak-anak sekolah pulang, dan selama diperjalanan hanya sesekali aku melihat beberapa pengendara yang bersimpangan, akhirnya sampai lah aku dijalan pinggir sawah, tepat beberapa meter sebelum jembatan kecil, aku melihat ada sesosok laki-laki berpostur tinggi menjuntai, kulitnya hitam legam mengkilap, disalah satu tangannya menggenggam sebuah balok kayu dengan ujung yang runcing disatu sisi, sedang menengadah melihat sebuah pohon kelapa, entah kenapa aku dengan refleks ikut menengadah kearah atas pohon kelapa itu, dan betapa terkejutnya aku melihat sesosok wanita berpakaian serba putih, sedang saling melempar pandang dengan sosok "laki-laki" dibawahnya itu. Bulu kudukku meremang, aku yakin ada yang tak beres disana, dan apa yang mereka lakukan disiang hari begini? (Sudah mendekati sore sih sebenarnya). Aku menarik stir motorku lebih kencang, ku kebut sekuat tenaga, sembari membaca doa dalam hati, ku klakson berulang-ulang (menurut warga sekitar jika melewati jembatan tersebut memang harus membunyikan klakson, ya itu semacam permisi), saking ngebutnya aku hampir menabrak ternak warga (hahaha.. bagian ini aku langsung tertawa karena saking shocknya, tapi aku pun tak mengerti kenapa aku malah tertawa, seakan ada yang ikut tertawa melihat kejadian tersebut), dan warga yang melihat berlari dari kejauhan menghampiriku, menanyakan apa aku baik-baik saja, and yass im fine..
Shift sore hari itu banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan, dan malam itu pekerjaanku baru selesai sekitar pukul 23.15, aku mencuci piring bekas makan tadi sore di kantor, sekitar pukul 23.30 aku baru keluar dari pelataran parkir hotel, biasanya jika shift sore aku selalu dijemput oleh Mpah (Papah) *Dibarengi menggunakan motor*, namun karena hari itu beliau sedang sakit, maka aku pun pulang sendiri. Sebelumnya mamah berpesan untuk minta dijemput dirumah nenek karena tadi sore ban motornya bocor (FYI : rumah nenek ku terlewati dari jalan menuju pulang), aku pun memutuskan mampir dahulu, di dekat rumah nenekku terdapat sebuah gedung tua peninggalan belanda yang sudah dibeli oleh salah satu menteri, dan sudah direnovasi disana-sini, disampingnya terdapat gang besar menuju komplek rumah nenek.
Karena jika malam jalan raya sudah mulai sepi, aku pun memutuskan untuk lewat jalan raya saja, lagi pula jika melewati jalan pinggir sawah malam-malam begini akan sedikit terasa horor, apalagi dengan hanya penerangan seadanya yang mengandalkan listrik dari rumah-rumah warga.. Duh tak terbayang
Setelah beberapa menit berkendara sampailah aku di gang tersebut, ternyata ada bapak-bapak (tetangga) yang aku kenali, beliau sedang berjalan menuju gang bagian depan, beliau pun menyapa ku (aku memperlambat kecepatan)
YOU ARE READING
Sosok "Mereka" yang tak jauh berbeda
HorrorTerkadang sosok mereka benar-benar tak ada bedanya dengan manusia, maka selalu berhati-hatilah
