First time huh?

0 0 0
                                        

Langit cerah berhiaskan awan yang putih, tidak tampak tanda akan turun hujan. Angin berhembus dengan damai. Bersamaan dengan itu, berjalan seorang gadis dengan rok abu-abu dan tas hitamnya di lorong sekolah, dia sibuk memainkan ponselnya. Berjalan menuju kelasnya. Dan akhirnya sampai di depan pintu yang bertuliskan 11 mipa 4.

Suasana kelas sudah ramai, jam menunjukan pukul 6.56.

'Pantas saja sudah ramai' batin Hanin

"Assalamualaikum" katanya sambil memasuki kelas menuju ke tempat duduknya.

Semua tampak sibuk dengan kegiatan, Hanin berhenti di tengah kelas

"Astaga tadi gue bilang salam loh, ga jawab dosa hey" katanya nyaring.

"Wa alaikum salam" ucap beberapa orang.

"Nah gitu dong" kata Hanin

"Harus bangeeet gitu ya" Zenya berkata sambil sibuk memasukan buku ke kolong meja.

"Ya kalo lu mau dosa yaudah diem aja gausah jawab" Hanin malas menanggapi lebih perkataan Zenya yang bisa membuat moodnya di pagi hari menjadi buruk.

Jam menunjukan pukul 7.05 jadwal mengharuskan semua siswa siswi membaca Al-Qur'an, tetapi karena kurang pengawasan, akhirnya hanya beberapa orang yang memiliki kesadaran itu yang memutuskan untuk membaca Al-Quran sesuai jadwal. Sisanya hanya bermain ponsel atau mengobrol. Lebih parah lagi ada yang membeli bubur Mas Yatno dan membawanya ke kelas. Waktu literasi quran diubah menjadi waktu sarapan oleh beberapa oknum, termasuk Hanin yang pernah ngalamin itu.

Pelajaran pertama hari ini adalah matematika minat. Bu Wardah. Guru yang mengajar dengan singkat, padat, jelas. Jarang tersenyum di kelas. Sungguh sebenarnya bu wardah receh,  mudah tertawa terhadap candaan. Hanin pernah melihatnya tertawa lepas di kantor. Namun kesannya di kelas sudah menjadi guru killer. Jadi semua murid tidak berani menyampaikan candaan pada bu Wardah.

"Nilai ulangan harian gue kemaren gimana yaaaa?? Astaga takut banget gue" ucap Erin sambil memasang wajah cemas.

"Menurut lu, lu bakal dapet berapa?" Kata Hanin.

"Tanda tanya?" Dela menjawab sambil memandang kosong papan tulis, memikirkan nasib nilai ulangannya.

"Jangan gitu elah, di pilihan ganda kemaren lu belajar cuy, mana ada dapet tanda tanya" Hanin meyakinkan Dela.

"Iyasihhh tapi kan cara gue belum tentu bener tau nin" Dela masih tidak percaya diri

"Makanya belajar, udah tau bego, malah main pubg" tiba tiba daffa datang dan ikut mengobrol

"Emang ngapa sih sombong amat gue juga belajar!" kata Dela emosi

"Gua kemaren bener semua dong, dan emang sesuai dugaan gua juga sih gua pasti bisa ngerjain, kan gua belajar." Kata Daffa.

"Sombong najis, jauh jauh dari gua, alergi sama orang kayak gituan, cih belum tentu juga bener semua" Dela emosi mendengar ucapan Daffa.

"Kita liat aja nanti" Daffa pergi sambil tersenyum licik.

Hanin hanya tertawa di bangkunya, sudah terbiasa dengan sifat sombong Daffa, memang dia pintar, hanya saja Daffa menyombongkan kepintarannya. Tidak epik memang.

"Assalamualaikum" bu Wardah datang tanpa aba aba masuk ke kelas.

"Wa alaikum salam" jawab kami semua. Mendadak hening

"Mampuuus deg degan gueeee" kata Dela berbisik

"Siaap!" Pak KM menyiapkan untuk berdoa.

"Udah diem" kata Hanin pada Dela.

Setelah selesai berdoa dan bu Wardah mengabsen murid murid kelas 11 mipa 4, bu Wardah mulai memanggil nama nama untuk dibagikan kertas.

Hanya ada dua kemungkinan ketika kita maju ke depan, di berikan kertasnya dan mendapat remedial atau kalian hanya di perlihatkan nilai di kertas kalian yang berarti tidak mendapat remedial.

"Adel" bu Wardah memegang kertas, Adel mengambilnya dan duduk kembali di bangkunya. Remedial.

" Faruz" Faruz maju, hanya melihat kertas lalu kembali ke tempat duduk. Di atas kkm.

Ribut anak lain memanggil manggil nama Faruz menanyakan nilainya. Faruz menjawab "80"

Yang lain menjawab dengan beragam, ada yang melotot ada yang ber ohh saja.

"Dela" bu wardah memanggil Dela

"Mampusss" Dela panik maju ke depan.

Mukanya lesu menerima kertas, dia kembali ke tempat duduk bersama kertas ulangannya itu.

"Berapa nilainya?" Hanin bertanya

Dela mendudukan dirinya di kursi lalu memberikan kertas ulangan pada Hanin.

"Huh untung kali ini ngga tanda tanya Del" ucap fela.

"Iya tapi ngga 20 juga nin" kata Dela tersenyum miris.

"Yaudah nanti benerin lagi di ulangan selanjutnya" Hanin menyemangati.

"Hanin" bu Wardah memanggil nama Hanin .

"Hayolo Hanin " Dela menakut nakuti.

Fela berjalan dengan tenang menuju meja guru.

"Tuh kan tu anak lagi lagi ngga ngebawa balik kertasnya" Dela mendengus iri melihat Hanin kembali dengan tangan kosong.

Hanin kembali ke kursinya.

"Berapa nilai lu?" Tanya Dela penasaran

"75" muka Hanin sedih.

"Heh gausah masang muka cemberut gitu napa, gue aja pengen nilai kayak lu, lu malah ga bersyukur lagi" Dela marah dengan ekspresi Hanin yang dianggapnya tidak tahu diri dan berkesan menghina Dela . Tapi Dela memarahi Hanin tidak sungguh sungguh. Kalian tahu pertemanan akrab seperti apa.

"Iya iya alhamdulillah" Hanin tersenyum memperlihatkan giginya.

"Ajarin gue sih yang mana ini yang salah" Dela menggeser kertas remedialnya ke dekat Hanin

"Daffa " bu Wardah memanggil Daffa . Di kelas dia memang terkenal selalu mendapat nilai di atas 90 dalam ulangan, kecuali saat kelas 10 semester dua, ulangan terakhir dia mendapat nilai 70.

Daffa berjalan dengan bangga menuju meja guru.

Dia dan semua anak kelas terkejut ketika kertas Daffa di kembalikan oleh bu Wardah. Anak sombong itu akhirnya harus remedial.

"Akhirnya tu anak sombong kena getah, mampus" Dela emosi dan merasa puas

"Jangan gitu elah karma itu dateng suka ngga di sangka Del" Hanin mengingatkan supaya temannya tidak terlalu mencemooh Daffa.

"Sumpah demi apa gua di remed?" Ucap Daffa sambil menuju ke mejanya. Matanya masih terbelalak tidak percaya.

"Berapa nilai lu?" Tanya Dela

Afgan tidak menjawab tapi amir di sebelahnya memperlihatkan kertas ulangan

"Tanda tanyaaa?" Ucap dela sengaja kencang sehingga yang lain ikut mendengar

"Ha anjir padahal gua udah ngerasa bener astagaaa" Daffa mengacak rambutnya

"First time, huh?" Dela dengan sombong mengatakan itu.

Bu Wardah memukul meja 3 kali, tidak kencang tapi sukses membuat semua diam.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 04, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Draft Stories to obsess over. Discover now