Dalam keheningan yang teramat, tergeletak di tempat yang belum pernah kutemui di manapun. Aku sendirian dengan seluruh anggota tubuhku yang tidak mau bergerak sesuai kehendakku, hingga perlahan-lahan mulai mati rasa.
"Aku... di mana?"
Gelap, tidak ada satupun cahaya di sini. Aku ketakutan, pandanganku kosong, tidak ada yang bisa kulakukan selain berharap.
"Seseorang, tolonglah aku! Aku sungguh ketakutan. Siapapun... siapapun itu, kumohon... tolong aku."
Di dalam keheningan dan gelapnya sekitar, aku mendengar suara, tidak begitu jelas. Namun suara itu terdengar seperti memanggilku. Aku tidak tahu di mana asal suara itu, dan itu terus terdengar melalui telinga.
Perlahan-lahan suara itu mulai terdengar jelas.
"—oi... Aoi... AOI!"
Aku membuka mataku perlahan dan melihat wajah seorang perempuan berambut ungu kemudaan pendek, berjongkok membangunkanku dengan mengacak-ngacak badanku.
"Akhirnya bangun juga, ternyata kamu tidur dan bermalas-malasan di sini."
"Emh~ Oh... Koyomi, Selamat pagi—hawnnw."
"Jangan malah ngomong Selamat pagi, bangunlah!"
"Hey! Celana dalammu kelihatan lho!"
"Kyaa!!!"
Seketika karena ucapanku tadi, wajahnya memerah dan dia menutupi bawah roknya yang pendek itu lalu menjatuhkan kedua kakinya ke lantai.
"Bohong~!"
Aku kemudian bangkit dari tidurku lalu duduk sejenak dengan menekuk kaki kiri dan menumpukan tangan kiriku di atas lutut.
"Duh~~ Apa-apaan itu tadi!? Jangan menjahiliku!"
"Ahaha, soalnya wajahmu saat malu begitu lucu!"
Aku lalu mendongakkan kepalaku ke atas, menatap Langit yang begitu Luas berwarna Jingga. Angin yang berhembusan dari arah Timur begitu membuatku merasa nyaman. Lalu aku memejamkan mata dan menarik nafas. Aku membatin dalam hati memikirkan hal yang kurasakan tadi sebelum terbangun.
(Ternyata hanya mimpi kah?)
"Jadi, kenapa kamu tahu kalau aku ada di sini?"
Tanyaku padanya setelah itu.
"Hanya menebak, selain itu... ayo kita harus segera pergi! bukankah hari ini kita ada pertemuan penting di Klub?"
"Oh ya, aku lupa, maaf-maaf."
Aku lalu berdiri dan mendorong kedua tanganku ke langit, meregangkan otot. Kemudian berkacak pinggang dan melihat ke arah langit-langit. Setelah itu aku menyapu bagian belakang celanaku dari sisa debu kotoran, dan dia juga ikut berdiri setelahku.
"Ah~ padahal aku baru saja ingin menikmati udara siang dari sini."
"Jangan mengeluh! Kirin-senpai bisa marah lho!"
"Ya-ya"
Aku berjalan pelan sambil melihat ke langit-langit menuju pintu Rooftop mendahuluinya yang sedang menyapu rok belakangnya.
"Hari ini juga putih ya, bagus sekali."
Ucapku dengan nada lega melihat bulan berwarna putih berada di antara birunya langit.
"Hnh!?"
Seketika aku langsung menoleh ke belakang karena mendengar dia mengeluarkan suara yang terdengar imut. Wajahnya memerah, dia terlihat malu.
YOU ARE READING
Shirotsuki Aoi wa Yuusha de Aru (?)
FantasyFanfic story dari "Yuuki yuuna wa Yuusha de Aru" Mengambil latar waktu di tahun 299 Ilahi. Cerita sebelum Yuuki Yuuna wa Yuusha de Aru / Sesudah Washio sumi wa Yuusha de Aru
