Hitam seketika memenuhi pemandangan, suasananya menjadi dingin serta pilu. Ada sesuatu hal yang membuat dada terasa sesak. Disini, ada sepasang mata yang menatap dengan penuh kesedihan. Katanya, tempat ini tidak seharusnya ia datangi, tidak sekarang. Entah sejak kapan bayangan seperti ini mendatangi pikiran, lengkap dengan suasana berkabung atas perpisahan Panjang serta bau khas tanah pemakaman cukup mengingatkan dirinya kepada mimpi buruk yang selama ini berusaha ia hilangkan, sayangnya, semua ini menjadi kenyataan. Mimpi buruk itu datang.
"sekarang bagaimana? Hiks." Suara pilunya terlalu lemah untuk di dengar orang-orang yang mulai berlalu pergi. Beberapa kali ia menyeka air mata sambil berjongkok dan mengusap sebuah nisan yang sedari tadi ia pandang. Berat rasanya.
Hari ini, langit menyaksikan separuh hati yang kehilangan bagiannya. Cukup sulit. Penatiannya sudah terbayar dengan kecewa. Bukan kepastian ini yang di harapkan, mana mungkin mengharapkan sesuatu jika balasannya hanyalah luka. begitu sulitkah untuk bisa berjumpa dalam keadaan baik-baik saja?
"bahagia lah, aku akan baik-baik saja disini." Pesannya kepada seseorang yang sudah terbujur kaku di bawah sana. Tangis ini untuk semua hal yang pernah mereka lalui, tentunya dengan penuh canda dan tawa. Akan selalu ada tangis dalam setiap kenangan indah, sebab rindu akan selalu berjalan berdampingan, tidak peduli seberapa sulitnya menggapai sebuah angan yang entah pergi kemana. cukup Balaslah rindu ini selagi kau bisa, karena dengan begitu akan selalu ada harapan, Tuhan selalu membantu seorang hamba yang memiliki harapan besar, cukup percaya dan selalu tabah, semoga kali ini Tuhan mau merubah takdirnya terhadap kita. Semoga.
YOU ARE READING
RISTELLA
Fantasykau bisa menjuluki Ristel sebagai seorang putri yang di perbudak. coba baca dulu... Happy readings!!
