We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Ayo Sini! Adu Bacot Kita!

645 64 15
                                        

Siang itu tepatnya di sebuah sawah yang sedang menguningnya, terlihat seorang anak berambut kuning yang mengenakan haori jingga sedang duduk di pinggir sawah tersebut. Entah kesekian kalinya ia mengelah nafas, yup. Duo temannya yang biasa menemaninya kali ini tidak ada, bukannya hilang atau sakit hanya saja mereka berdua punya kesibukan sendiri.

Kamado Tanjiro, temannya yang selalu ramah dan always positif thinking kepada siapapun pada hari ini harus berlatih dengan Tomioka Giyuu, sang pemegang jabatan pillar air. Tidak terduganya ajakan ini dari Giyuu sendiri, bukan Tanjiro. Tentu saja menolak permintaan sang pillar cukup lancang dan memang si Tanjiro-nya sendiri merupakan orang yang keukuh untuk menekuni latihan apapun demi bisa melindungi siapapun dengan kekuatannya.

...Halah, bilangnya aja latihan padahal maunya itu modusan untuk PDKT dengan sahabatnya itu. Dasar muka papan tripleks.

Dan Inosuke, sang babi di grup mereka. Entahlah apa yang dilakukan sama Inosuke tetapi katanya sih dia lagi sibuk melatih kekuatanmya dengan bermeditasi dengan alam.

Sumpah, Zenitsu tidak percaya dengan itu, masalahnya orang berisik dan hiper seperti Inosuke memangnya bisa gitu diam hanya untuk lima menit saja?Apalagi meditasi? Zenitsu meragukan itu.

Tapi setidaknya mereka baik-baik saja, untuk sekarang. Dan Zenitsu dilanda kebosanan yg berkepanjangan. Inginnya sih ngebucin adiknya Tanjiro, tapi apalah daya Nezuko lagi bobo cantik di dalam kotak yang selalu ditempatinya saat siang hari.

Dia bersyukur untuk hari ini tidak ada tugas yang mengancam nyawanya, tetap saja kegabutan ini membuatnya jenuh dan bosan. Beberapa kali dia menguap karena itu.

"Huff.... aku bosannnnn... apa gak ada kegiatan lain yang bisa ku lalukan?" Serayan Zenitsu mengadah kepalanya keatas. Bukannya menemukan langit biru yang cerah, ia mendapati wajah yang dikenalnya. Wajah menyebalkan yang selalu buat dia stress dan kesal. Tengen Uzui, sang pilar suara, kini mereka berdua telah membuat kontak mata.

"Oi chibi, tumben sendiri." Uzui yang membuka suara saat mereka bertatap wajah. Bukannya membalas atau apa Zenitsu langsung menyelonsor pergi dari tempat dia duduk.

'NOPE, NOPE!!! Gak liat, gak kenal. Gak liat, gak kenallll.' Zenitsu merafalkan kata-kata itu di dalam hatinya. Seakan telah melihat sosok hantu, Zenitsu memilih untuk mengabaikannya dan pergi dari tempat itu secepatnya.

Uzui sempat teperangah, what?!!! Dia yang selalu menjadi sosok yang menjadi pusat perhatian, bisa diabaikan oleh bocah ingusan yang cebol seperti Zenitsu??? Harga dirinya di kemanain coba? Tentu saja Uzui langsung mengejar sosok kuning mungil itu.

"WOI BONCEL!!! Beraninya kau mengabaikan Dewa Flamboyan yang telah menyapamu ini! Oi! Jangan kabur kau!" Langsung saja Uzui meraih kerah haori Zenitsu dan yang tertangkap hanya bisa meronta-ronta.

"AAAAAA!!! TOLONGGGG!!! TOLONGGGG!!! ADA ORANG MESUM DAN NARSIS YANG MAU MEMPERKOSA AKU!!! HUEEEE TOLOOONGGG TOLONGGG!!!" Teriakan Zenitsu yang melengking dan keras itu mirip dengan gadis perawan desa yang mau di gauli preman jalanan. Langsung saja Uzui membekap mulut nyenyes Zenitsu dengan tangannya.

" Tolong,- Mpffhhhh??!!!mmmpf!!!"

"Hei! Tenanglah sedikit! Kau bisa mencoreng nama baikku bocah! Dan sekalipun aku memperkosa, selera ku itu bukannya bocah cebol, krempeng, butek kaya kamu!" Tentu saja Uzui kesal dengan Zenitsu, tapi ia tidak bisa menaboknya.

Gak boleh memukul orang lemah, itu bisa melukai harga dirinya.

Eh ternyata Zenitsu tidak berhenti memberi perlawanan, ia langsung saja mengigit jari-jari Uzui agar bisa bebas dari bekapan tangan dari orang menjengkelkan itu. Yang digigit tentu saja langsung refleks menarik tangannya kembali.

Secret Mission Kancil dan BuayaStories to obsess over. Discover now