Langit sedikit berawan, matahari berada di arah yang tepat sejajar lurus dengan kepala, panas menyengat di musim kemarau yang penuh debu.
Dengan langkah santai Saras menghampiri Ibunya yang menunggu roti siap dari oven. Dapat ia lihat peluh di kening Ibunya, sedikit membahasi kerudung bagian depan Ibu tercinta. Saras menyayangkan diri tidak bisa sepenuh hari menemani Ibunya berjaga di toko roti kecil milik keluarga mereka. Ia harus ke kampus untuk belajar, karena salah satu harapan terbesar Ibunya adalah ingin melihat Saras mengenakan toga wisuda. “Tidak usah terburu-buru, Ibu akan menunggumu mengenakan toga wisuda jika memang waktunya sudah tiba.” Begitu kata Ibunya kala Saras mengutarakan niat ingin mengambil Semester Pendek (SP) untuk mempercepat kuliahnya.
Padahal ia sangat ingin sepanjang hari menemani Ibunya di toko roti, menggantikan Ibunya memanggang roti, dan biar Ibunya beristirahat saja. Tetapi, Ibunya kerasan membuat Saras menanggung amanah di pundaknya, bahwa Ibunya tidak pernah letih bekerja di toko milik mereka jika pada akhirnya akan melihat putri semata wayangnya mengenakan toga wisuda.
“Ibu tak apa bekerja seharian, toh itu kewajiban Ibu untuk memberikan pendidikan terbaik padamu, Ras. Ibu hanya ingin melihat putri Ibu mengenakan toga wisuda.” Ibunya sangat sering mengatakan itu. “Tapi selalu utamakan pengetahuan agamamu, Nak. Karena kita manusia tidak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita pulang.”
Benar. Tidak pernah kita bisa menebak di mana batas akhir usia kita. Bisa jadi satu menit, atau bahkan di detik berikutnya. Seperti Ayah Saras, telat sepersekian detik mendapat pertolongan dokter, Ayahnya meninggalkan Saras di usia 17 tahun. Dua tahun yang lalu. Meninggalkan Saras hidup tinggal berdua dengan Ibunya. Keluarga terdalam yang dimilikinya. Yang akan selalu Saras bahagiakan semampunya.
“Sudah lama, Ras?” Ibunya bertanya setelah lama Saras bergelut dengan pikirannya sendiri di kursi yang terletak agak jauh dari Ibunya.
Saras mengangguk, “Lumayan, Bu.” Bangkit dari duduknya untuk mendekat pada Ibu. “Ibu istirahat saja, biar Saras yang lanjutin,” katanya tak begitu suka melihat peluh semakin lancar saja mengalir keluar dari pori-pori kulit kening Ibunya.
Alih-alih mengindahkan ucapan putrinya, Ibu Saras, Lani, malah meminta putrinya untuk memakan roti cokelat yang telah disediakan di meja biasa.
Saras memegang pundak Ibu Lani, menatap dalam mata Ibunya yang nampak kelelahan tetapi masih begitu semangat. “Ibu, Saras bisa menunggu roti yang ada di pemanggangan sambil makan roti. Dan Saras sedang tidak punya tugas dari kampus, sudah Saras kerjakan di perpustakaan saat jam kosong tadi.”
“Ibu bisa kembali ke rumah. Apa Ibu tidak ingin melihat perkembangan bunga mawar yang kita tanam pekan lalu? Kurasa bunga itu menunggu ditengok Ibu sore ini,” lanjut Saras. “Saras akan langsung balik setelah toko tutup. Ibu pulang sekarang, ya?” pinta Saras.
Ibu Lani mengangguk pasrah. Jika dirinya kerasan tetap meminta putrinya untuk melanjutkan kuliah, maka Saras pun kerasan agar Ibunya pulang saja ke rumah saat Saras sampai toko roti, setelah menyelesaikan tugas kuliahnya.
Saras tersenyum penuh arti. Melihat Ibunya melepas apron yang sejak tadi dipakainya. Bergegas mencuci tangan, merapikan kerudungnya yang sedikit melorot menutup ke bagian dahi.
“Segeralah kembali setelah menutup toko. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu untuk makan malam kita nanti,” terang Ibunya sebelum meninggalkan Saras dan toko roti.
🌻🌻🌻
Waktu seperti berputar pada poros yang membosankan, begitu pemikiran Aksa. Bagaimana tidak, setiap harinya dia hanya berada di balik meja kerja, menandatangani berkas yang dibawa sekretarisnya, mengecek yang perlu dicek sebelum membubuhi tanda tangan.
Hidup membosankan setiap harinya membuatnya selalu ingin pulang dan bertemu Quinsha. Gadis kecil itu selalu membawa rasa bahagia dan tenang menghampiri Aksa.
Menjadi pengusaha muda bukan keinginan Aksa yang sebenarnya. Ia terpaksa, dan tak ada jalan keluar selain menuruti keinginan Papanya. Aksa harapan satu-satunya saat Sirena—kakak perempuannya—sudah pasti tidak bisa menjadi pimpinan perusahaan karena memilih ikut suaminya yang tinggal di luar negeri. Ah, mengerikan. Merasa tak terima, tapi untuk mengecewakan orang tuanya, Aksa juga tak tega. Terpaksa ia harus melepas pergi harapan untuk menikmati masa muda dengan hidup bebas, suka-suka.
“Bagaimana dengan acara ulang tahun perusahaan bulan depan, Aksa?”
Suara itu membuat Aksa terpaksa mengangkat kepala yang sedari menatap kosong ke layar komputer di depannya. Dan benar saja, Papanya sudah berdiri di depan meja kerjanya. Fokus menatap ke arah Aksa.
“Semua sudah diurus Andara, Pa,” kata Aksa.
“Menu untuk makanan, Mama ingin ada roti dari toko langganan Mama.” Rupanya bukan hanya Papanya yang datang, tapi Mamanya juga ikut sore ini.
Aksa mengangguk. “Mama bisa meminta Andara memesan roti dari toko langganan Mama.”
Mamanya, Karlita, duduk di sofa yang berada di sudut ruangan. Diikuti Papanya, Winanta.
“Mama bisa memesannya sendiri.” Tampak berpikir sebentar sebelum Karlita lanjut mengatakan, “Kamu antar Mama akhir pekan ke toko itu,” putus Mamanya.
Aksa mengerutkan kening. Sedikit mendengus karena sepertinya akhir pekan yang dipikirnya akan tenang, akan sedikit terganggu kali ini. Ralat. Sangat terganggu.
“Ma...”
Karlita menggeleng cepat. “Enggak, Aksa. Mama enggak bisa diantar sopir, enggak sedang ingin menyetir sendiri, dan Papamu ada urusan penting akhir pekan nanti. Jadi, kamu yang satu-satunya Mama harapkan untuk mengantar Mama.”
“Bagaimana kalau menelepon ke toko roti itu saja?”
“Maksudmu, Mama akan meminta diantarkan roti begitu saja tanpa melihat-lihat dulu mana yang sepertinya akan disukai tamu undangan kita? Yang benar saja!”
Karlita memang tak pernah bisa dibantah. Dan Aksa, ia tidak pernah ingin melihat Mamanya kecewa. Pada akhirnya ia hanya bisa mendesah pasrah sebelum mengiyakan keinginan Karlita.
Perbincangan terkait Karlita, Mama Aksa, yang kerasan ingin memesan roti ke toko langganannya selesai. Kini di ruangan hanya terdengar suara Aksa dan Papanya yang mendominasi, membahas tentang perusahaan yang mereka miliki, perusahaan yang namanya melejit tinggi belakangan ini.
Meski tipikal tertutup, meski dipaksa memimpin perusahaan, Aksa tidak pernah menyalahkan orang tuanya. Pun, ketika Papanya membuka diskusi dengannya, ia akan meladeni. Bukannya ini untuk kelangsungan hidup keluarga mereka nanti? Banyak karyawan bergantung nasib pada mereka saat ini.
Namun, meski memikirkan nasib karyawan yang saat ini dipimpinnya, Aksa bukanlah sosok pemimpin yang bisa beramah tamah pada karyawannya. Ia sosok dingin di hadapan dunia, kecuali di lingkaran keluarganya.
____________
Jangan lupa baca Al-Kahfi🌹
YOU ARE READING
AKSARA
SpiritualAksa Argasatya, sosok yang terkenal dingin di mata dunia, kecuali di lingkaran keluarganya. Terlebih pada gadis kecil bernama Quinsha, Aksa sangat menyayangi gadis kecil itu. Saras Permata. Gadis sederhana, putri satu-satunya dari keluarga sederhana...
