Tiga Serangkai

23 1 0
                                        

Awan mendung menghiasi langit pertanda akan hujan. Sudah aku persiapkan apa yang ingin aku bawa, melangkah dengan penuh keraguan dan berpikir "apa aku siap?", motor dengan keranjang sudah terparkir didepan rumah, menunggu yang harus ditunggu dan entah kapan tibanya, rasa bosan tertambat dihati seperti melihat demokrasi di negeri ini, tak terpikir apa yang terjadi namun hidup tetap harus dijalani. Aku melihat awan seakan tenang diatas sana melihat kekacauan yang terjadi, seperti aku yang masih tenang menunggu disini.

"Ayo Anas!" suara itu membuat lamunanku buyar seketika

"Lama sekali, aku sudah hampir berjamur menunggumu" kataku dengan nada kesal "Maaf nas, tadi aku isi angin ban motor dulu" jawab Bima

Bima adalah temanku sedari kecil, kami selalu bersama-sama jika pergi kemanapun, setiap sore kami selalu mengendarai kuda besi untuk mencari makan. Kami akan berpetualang demi mendapatkan makanan yang berkualitas. Seperti rutinitas setiap hari, kami akan menjemput kawan dari rumah ke rumah sebelum memulai petualangan kami.

"Agus.., ayok kita berangkat lagi!" sahut Bima

"Oke, aku pakai baju dulu" jawab Agus dengan nada teriak

Kami pun menunggu Agus memakai baju, ya Agus juga temanku juga dari kecil, dia temasuk temanku dalam berbeda argumen, kami selalu memperdebatkan hal-hal yang sepele, justru itulah yang membuat aku dan Agus sangat solid. Tak lama kemudian Aguspun keluar dengan memakai baju kaos oblong ciri khasnya.

"Ayo, kita berangkat!" seru Agus dengan nada yang sangat bersemangat "Ayoo..," Aku dan Bima menjawab bersama

Kami pun memulai perjalanan untuk mencari makanan yang berkualitas, 10 menit waktu yang sudah kami tempuh, akhirnya kami keluar dari pemukiman. Kamipun memasuki jalan setapak, seperti biasa Agus selalu didepan, aku ditengah dan Bima dibelakangku, susunan ini sengaja kami buat agar jika terjadi apa-apa kami dapat


mencegahnya. Agus sebagai pengawas di depan karena hanya Agus yang mengetahui seluk beluk jalanan yang akan kami lalui bukan berarti aku tidak mengetahuinya akan tetapi Agus lah orang yang lebih berpengalaman melihat situasi disekitar, aku ditengah sebagai pengawas kiri dan kanan sedangkan Bima mengawasi bagian belakang karena hanya Bima yang mempunyai kaca spion di motornya.

Sepanjang perjalanan selain mengawasi kami tetap mencari apa yang akan kami cari, sekitar 15 menit di perjalanan. Akhirnya kami sampai di hamparan tanah yang luas dipenuhi rumput-rumput yang segar, ya itulah yang kami cari yaitu rumput, kami adalah anak seorang petani dan orang tua kami juga memelihara hewan ternak seperti ayam dan sapi, setiap sore kami selalu bersama-sama mencari rumput untuk sapi-sapi kami, tidak ada kata lelah dalam hidup kami sebagai anak seorang petani dan peternak untuk menjalani hidup dimana seusai sekolah kamipun langsung bersiap-siap untuk mencari rumput.

Setelah satu jam lamanya, akhirnya keranjang yang kami bawapun sudah terisi penuh dengan rumput yang segar. Kami beristirahat sambil bercerita dan mendengar cerita, keasyikan cerita hingga kami lupa waktu dan matahari sudah setengah bersembunyi dibalik bumi, bersiap-siap untuk pulang dan kami tidak lupa menyusun formasi kembali, tak lama menjauh dari tempat kami bergerak, Agus mengangkat tangannya, aku dan Bima terkejut langsung serentak memijak rem.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 21, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tiga SerangkaiStories to obsess over. Discover now