"Pulanglah," Ten berucap malas pada pria bergigi bak kelinci didepannya "hubungi aku jika ada kemajuan tentang Taeyong," sambungnya lalu berbalik. Hendak meninggalkan Doyoung didepan asrama itu sendirian, namun dengan sigap lengannya dicekat seseorangㅡsiapa lagi kalau bukan sang kelinci jantan.

Mendengus kasar, Ten menatap Doyoung tajam "Apa lagi?" Cebiknya "kita sudah berkencan malam ini, sudah puas kau mengerjaiku?"

"Siapa yang mengerjaimu?" Pria yang lebih tinggi dari Ten menangkup wajah kecil sang atlet dengan kedua tangan besarnya. Menatap langsung kedua mata besar si mungil, Doyoung menggumam "Kau jelek."

Memutar bola mata malas, Ten menepis kasar lengan pria dihadapannya "Sudahlah, aku lelah." Ia melempar tatapan tajam pada Doyoung "kau hanya sahabat dari sahabatku, jadi jangan bertindak seolah kau telah dekat denganku."

"Ya...ya..." Doyoung berkata malas sambil mengibaskan tangan "masuk sana! Salam untuk Jaehyun, katakan padanya jika Taeyong tak ingin menemuinya," ia berkata lalu melirik kearah lain "salam juga untuk teman sekamar Jaehyun, katakan padanya jika aku merindukannya."

Mendesis sembari mengepalkan tangan, Ten hendak melayangkan pukulan pada bahu Doyoung. Namun, sebelum hal itu terjadi, sebuah tangan besar menghentikan aksinya.

"Bukankah kau mengunjungi kekasihmu yang sakit parah?"

Pria yang menggenggam pergelangan tangan Ten menatap Doyoung datar. Sedangkan sang empu hanya menoleh lalu meneguk ludah kasar "J-Johnny sunbae," cicitnya.

Johnny menarik paksa lengan Ten hingga badan mungil pria berdarah Thailand itu menghadap kearahnya "Lalu siapa pria ini? Apa dia selingkuhanmu huh?" tanyanya sembari melirik sesekali pada Doyoung.

"Aku kekasihnya," Doyoung berucap datar "aku memang sakit parah, tapi penyembuhnya akan segera mengobatiku."

Pria bergigi kelinci itu menarik Ten yang tak berdaya kedalam pelukannya, ia membalik paksa tubuh sang atlet kearahnya sebelum menarik tengkuk si mungil berdarah Thailand. Doyoung mengecup bibir tipis Ten tepat dihadapan Johnny, perlahan namun pasti ia melumat belahan benda kenyal sang empu.

Melepaskan tautan, ia menatap lamat wajah Ten yang memerah padamㅡkarena shock juga malu "Masuklah sayang, jaga dirimu baik - baik..." Ia melirik sekilas kearah Johnny yang sangat jelas tengah menahan keterkejutan "disini banyak perusak dan orang jahat," ucapnya pelan lalu mengusap surai hitam si mungil sebelum meninggalkan tempat itu.

"Ten? Kau sudah tidur?"

Jaehyun menganga tak percaya melihat sahabat mungilnya, ia tersenyum sembari menggelengkan kepala lalu kembali memusatkan atensi pada kekasihnyaㅡponsel pintar.

Jaehyun
Kau sudah sampai di rumahmu?

Ya

Sudah makan? Coba buka kulkasmu, pasti ada cokelat disana.

Tidak ada

Benarkah?

Tapi di rak kedua pintu kulkas ada dua bungkus cokelat

"Gila," Taeyong menggumam sembari menggenggam cokelat yang ia temukan di rak kedua pintu kulkas. Setelah mengganti pakaian menjadi setelan piyama bermotif Pokemon, ia yang merasa lapar sudah seperti pencuri di rumah sendiri. Berjalan mengendap endap karena takut membangunkan sang Ayah juga Ibu dengan alat penerangan seadanyaㅡhandphone, ia membuka kulkas setelah membaca pesan Jaehyun.

Meneguk ludah kasar, Taeyong cepat cepat berlari terbirit kearah kamar dengan dua bungkus cokelat ditangannya. Cahaya temaram lampu dapur membuat ia bergidik, belum lagi kemampuan Jaehyun yang membuatnya semakin tak percaya hingga ingin memukul kepalanya sendiri.

Distance | Jaeyong ✓Where stories live. Discover now