Namaku Humaira Putri.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil, aku dibesarkan oleh kedua orang tuaku dengan limpahan kasih sayang. Ayah mengajariku bahwa perempuan yang baik bukanlah perempuan yang paling cantik, melainkan perempuan yang paling menjaga akhlaknya. Sementara Bunda selalu berpesan, bahwa sebaik-baiknya perhiasan di dunia adalah hati yang selalu bergantung kepada Allah.
Aku memiliki seorang adik laki-laki bernama Muhammad Hafiz Ansyari. Usia kami terpaut dua tahun. Sejak kecil kami sering bertengkar hanya karena hal-hal sepele, tetapi di balik itu, Hafiz adalah adik yang sangat menyayangiku.
Hari ini...
Rumah kami dipenuhi bunga, tawa, dan doa-doa baik.
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Hafiz.
Hari pernikahannya.
"Maira... tolong kamu ambilin cincin Hafiz di kamarnya. Anak itu cincin nikahnya sendiri saja sampai lupa," gerutu Bunda sambil tersenyum geli.
"Iya, Bun. Maira ambil dulu. Bunda ke depan saja, temui keluarga yang ikut mengantar Hafiz."
Aku segera berlari menaiki tangga.
Di kamar Hafiz, suasana masih berantakan. Jas tergantung di lemari, peci putih tergeletak di atas meja, dan sebuah kotak beludru kecil berada tepat di samping mushaf Al-Qur'an.
"Astagfirullah... benar-benar pelupa," gumamku pelan sembari mengambil kotak itu.
Tanganku berhenti sesaat.
Aku memandang cincin berwarna perak itu.
Sederhana.
Namun sebentar lagi akan menjadi saksi sebuah janji suci.
Aku tersenyum.
Lalu entah mengapa... senyum itu terasa berat.
"Ka, kamu sudah ketemu cincinnya belum?"
Suara Hafiz dari bawah membuatku tersadar.
"Sudah! Ini Kakak bawa!"
Aku menuruni tangga sambil menggenggam kotak kecil itu erat-erat.
Begitu sampai di ruang tamu, Hafiz langsung menyambutku dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Maaf ya, Kak. Aku memang ceroboh."
Aku menggeleng sambil menyodorkan cincin itu.
"Mulai hari ini jangan ceroboh lagi. Sudah ada yang bakal ngingetin."
Hafiz tertawa kecil.
"Siap, Kak."
Aku menepuk pelan bahunya.
"Semoga menjadi imam yang baik."
Matanya berkaca-kaca.
"Aamiin... Doain Hafiz ya."
"Selalu."
Tak lama kemudian rombongan keluarga mulai bersiap menuju masjid tempat akad dilaksanakan.
Aku membantu merapikan kerudung Bunda, memastikan semua perlengkapan sudah dibawa.
Di dalam mobil, suasana dipenuhi lantunan selawat.
Semua terlihat bahagia.
Dan aku...
Aku juga bahagia.
Benar-benar bahagia.
Setidaknya itulah yang ingin kutunjukkan.
YOU ARE READING
Ku Tunggu Ta'arufmu
RomanceMelihat orang-orang datang dan pergi menuju pelaminan, sementara namaku masih setia menunggu dipanggil oleh takdir. Ada kalanya hati bertanya, "Ya Allah... bilakah giliranku?" Namun aku percaya, cinta yang baik tidak lahir dari tergesa-gesa. Ia tumb...
