🥀Prolog: Bagaimana awalnya ...🥀

2.7K 191 33
                                        

Dentingan apik tercipta dari pergerakan rotasi roda jarum jam di atas dinding. Gema suara itu terlantun dengan sangat indah jika di dengarkan dalam kesunyian seperti yang terjadi di ruang makan milik keluarga Lee sekarang.

Beragam banyaknya jenis makanan sudah tertata dengan rapi di atas meja, wajar saja dikarenakan hari ini merupakan hari perayaan kelulusan putri tunggal mereka. Tidak banyak yang menghadiri pesta kecil-kecilan ini, hanya ada Tuan dan nyonya Lee, dan putri mereka.

Lee Ji Eun, putri tunggal dari seorang pengusaha property bernama Lee Joon Gi, di buat tak mengerti saat acara makan malaim ini tak kunjung di mulai. Wanita itu enggan bertanya, karena ibunya selalu mengajarkan untuk tidak bicara saat mereka duduk di hadapan makanan.

Dia terus menerka-nerka kapan sekiranya mereka akan mulai makan, mengingat lobster di hadapan seperti sudah memanggil nama Jieun berulang-ulang, meminta untuk di santap secepatnya.

Tidak kuat mengunggu lebih lama, pada akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk melihat kearah tuan Lee yang duduk di ujung meja. Belum sampai mengeluarkan suara, suara bariton milik sang ayah lebih dulu menyapa indra pendengarannya.

“Ji eun-ah, berapa usiamu sekarang?” ayahnya menanyakan pertanyaan yang membuatnya agak terkejut.

“Bulan depan akan naik menjadi 25, Appa.”

“Hmm, putriku sudah besar ternyata …” ujar tuan Lee tersenyum bangga, “Appa takut tidak akan bisa menemanimu lebih lama …,” tambah pria itu sedikit menyendu.

Di sisinya, sang istri mengelus pelan lengan suaminya, menatap pria itu dengan raut penuh kekhawatiran. Entah apa yang wanita paruh baya itu cemaskan, tentu saja hal itu membuat Jieun menatap tidak enak.

“Mengapa begitu?” tanya Jieun kebingungan, “Apa mungkin …”appa sedang sakitlanjut Jieun dalam hati. Dia tidak ingin menyuarakan apa yang ada di pikirannya saat ini, wanita itu terlalu takut, jika apa yang dia khawatirkan akan jadi kenyataan.

“Jangan mikir yang aneh-aneh,” tegur sang ibu, “semuanya tidak seperti yang kau bayangkan, nak,” sahut nyonya Lee seolah mengerti apa yang Jieun pikirkan.

“Lalu?”

“Boleh appa bertanya padamu?”

“Bukankan sedari tadi appa sedang menanyaiku?” ucapnya terlewat polos, tentu saja hal ini mendapat delikan tajam dari sang ibu, “hehe … maaf appa, aku hanya bercanda,” ujarnya meringis, dia tidak benar-benar mengucapkannya.

Maksudnya, wanita itu hanya bingung, bukankah sedari tadi ayahnya sudah bertanya. Lantas, mengapa saat ini sang ayah terkesan seperti meminta persetujan, itu yang membuat Jieun tidak mengerti.

Tuan Lee hanya tersenyum dalam menyikapi tingkah putrinya, dia memaklumi sifat sang anak yang periang dan suka bercanda.

“Selama tinggal di Hokaido, apa kau memiliki seorang kekasih?”

“Tidak, appa. Aku pergi kesana untuk menempuh pendidikan, bukan untuk cari jodoh.” Tegasnya.

“Pendidikan macam apa yang kau dapatkan dari jurusan yang hanya berkutat dengan gaya berbusana,” cibir sang ibu terkesan meremehkannya. Inilah yang tidak begitu ia sukai dari sifat ibunya, terlalu menyepelekan pencapaian seseorang.

“Pendidikan macam apa? sepertinya eomma melupakan fakta bahwa aku lulusan terbaik disana. Tidak mudah untuk menyelesaikan magister dengan usia yang semuda ini eomma, kau harus tau itu!”

“Huh, pride-mu hanya sebatas menjadi lulusan terbaik di universitas swasta, apa yang perlu di banggakan,” tambah ibunya. Jujur saja, nyonya Lee masih menyesalkan keputusan putrinya yang lebih memilih mengambil jurusan fashion design di negeri orang ketimbang jurusan sastra korea di negerinya.

✔️Made For Each Other | ViUStories to obsess over. Discover now