Selamat(?)

126 7 0
                                        

Lima hari menjelang NKRI genap 74 tahun, pukul 7 lewat 8 menit malam hari-usai ibadah isya', ponselku berdering. Disertai perasaan malas, kuhentikan kesibukanku merebahkan diri di atas sajadah. Kuambil ponsel, kuusapkan ibu jari untuk membuka kunci layar, lalu muncul pesan WhatsApp dari nomor yang tidak kukenal. Kutengok foto profilnya, tidak ada. Lantas kuarahkan fokus mataku ke tepi kanan layar ponsel, tidak ada nama.

"Mas Red," ucapnya dalam room chat.
Kubuka pesannya tanpa balas, kembali ke home screen lalu kumatikan layar ponsel. Entah kenapa, sejak dulu, aku terlalu malas menanyakan nama pemilik nomor yang tidak kukenal ketika mengirim pesan basa-basi.

Dua menit kemudian, kembali ponselku menerima pesan darinya, "Mas. Kok cuma read, sih?" tulisnya sambil melampirkan titik dua kurung buka di akhir kalimat.

"Ada apa?"

"Kenapa engga dijawab? Kenapa hanya dibaca?"

"Kenapa marah?" jawabku.

"Menyebalkan!"
Kata tersebut mengakhiri perbincangan kami. Kumatikan layar ponsel, melanjutkan rebahanku di atas sajadah yang sempat tersela sebelumnya.
Hampir tiga jam berlalu. Pesan dari nomor asing tadi membangunkan ponselku yang sempat sesaat terlelap.

"Mas, kudengar besok Jumat kamu sidang skripsi?"

"Dapat kabar dari siapa? Aku engga pernah memberi tahu siapa-siapa selain kawan kuliahku."

"Mas ga perlu tahu. Aku datang, ya?" tanyanya dalam kolom pesan.

"Ke mana?"

"Ke kampus, saat hari sidang skripsimu."

"Mau apa?"

"Kok 'mau apa'? Ke kampus. Selesai sidang, foto-foto. Aku bawain bingkisan," balasnya di WhatsApp.

"Halah! Tidak perlu foto untuk momen bahagiaku."

Ia membalas dengan tanya, "Lalu, bingkisan bunganya? Mas, itu bunga bentuk ucapan 'selamat' dariku. Engga mau terima?"

"Beberapa bahagia cukup diungkapkan saja, tanpa melalui perantara fisik. Kepada siapa pun itu, alamatkan bahagiamu dengan baik. Lagipula, bunga darimu hanya segar sesaat. Dalam waktu yang lama, ia layu-'selamat' darimu turut melayu."

Ia behenti sejenak. Sesaat kemudian, typing-nya mulai menampakkan diri. Orang tersebut kembali berceloteh,
"Mas, aku mau tanya. Kenapa mas ga suka melakukan apa yang sudah banyak orang lakukan? Contohnya, ga mau menerima bunga sebagai bentuk ucapan 'selamat'. Padahal itu hal yang umum dilakukan orang-orang."

"Harus aku melakukan hal yang sama seperti mereka?"

"Itu bentuk apresiasi untuk kamu, Mas. Ga takut dicibir orang? Kalau begitu, sama saja kamu menolak ketika guru memarahimu karena dalam pelajaran menggambar, kamu tidak mewarnai langit dengan warna biru."

"Dulu, ketika aku masih di Taman Kanak-kanak, dalam pelajaran menggambar, aku mewarnai langit dengan warna ungu. Guru memarahiku, mengatakan bahwa aku anak kecil bodoh, aneh, tidak punya kreasi. Kupikir, bukan aku yang bodoh dan aneh. Pemikiran orang-orang saja yang aneh; tumbuh bersama kebiasaan 'memberi bunga sebagai bentuk ucapan selamat usai sidang skripsi' pun meyakini statement bahwa langit dalam lukisan hanya boleh berwarna biru."
"Sejak dulu, manusia dewasa sudah aneh. Mereka membentuk anak-anak agar tumbuh seperti mereka, tanpa disadari bahwa manusia dewasa rindu untuk kembali menjadi anak kecil," balasku.

Short ConversationWhere stories live. Discover now