Azzura's POV.
***
Langkah kaki itu selalu terdengar seirama dengan langkah kaki milikku. Saat aku mencoba melambatkan langkahku, langkah kaki itu mengikutinya dengan ikut melambatkan langkah kaki miliknya juga. Saat aku mencoba berlari, langkah kaki itu ikut berlari mengejarku. Tetapi saat aku menoleh ke belakang, langkah kaki itu tidak lagi terdengar mengiringi langkah kaki milikku. Ini terus terjadi, sudah 10 tahun berlalu dan langkah kaki itu terus mengikutiku.
* *
Hai! Namaku Azzura Putri Cintami, seorang siswi dari salah satu SMA terkemuka di Jakarta yaitu SMA Wirantyo. Aku sekarang duduk di bangku kelas 1 SMA. Seorang Azzura Putri Cintami merupakan perempuan yang memiliki rambut hitam sebahu, memiliki bola mata yang belo dengan bulu mata yang sedikit lentik, memiliki hidung yang kecil dan sedikit mancung, serta bentuk bibir kecil dan tipis. Tapi aku masih kalah populer dengan para perempuan cantik di SMA Wirantyo. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang berasal dari ekstrakurikuler cheerleader, theater dan marching band. Aku? Aku hanyalah salah satu dari sedikit anak lainnya yang tidak memiliki ekstrakurikuler apapun. Sekolah saja membuatku lelah, aku tidak sanggup lagi jika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Seseorang yang sangat biasa saja seperti aku ini tetap mempunyai pengagum rahasia. Kunamai dirinya 'My Mysterious Secret Admirer' karena dia benar-benar pengagum rahasiaku yang begitu misterius. Seseorang yang sampai saat ini tidak kuketahui nama beserta wajahnya, tetapi langkah kakinya selalu terdengar seirama dengan langkah kaki milikku. Hanya itu yang aku ketahui. Aku tidak mengetahui sejak kapan ia mulai mengikutiku, namun yang aku tahu sejak saat itu aku merasakan setiap gerak-gerik yang aku lakukan ada yang mengawasi.
"Azzura," panggil seorang lelaki yang membuat diriku tersadar dari lamunanku. Lelaki itu adalah teman sekelasku, Janu namanya. Raden Janu Syahreza.
"Kenapa, Nu?" tanyaku. Dia hanya tertawa kecil, mungkin karena melihat ekspresi diriku yang aneh ini. Raden Janu Syahreza merupakan salah satu anggota OSIS di sekolahanku. Setidaknya dia lebih terkenal dari diriku.
"Nanti jadi ngumpul kan?" Tanyanya dengan suara yang lembut. Janu benar-benar tipe lelaki idaman para wanita menurutku. Dia adalah anak yang sangat sopan. Aku mengangguk sebagai balasan atas pertanyaannya. Dia ikut mengangguk lalu berpamit kepadaku untuk pergi ke ruang OSIS. Lagi-lagi aku sendirian lagi dan terhanyut dalam lamunanku kembali.
Aku mencoba untuk mengingat kembali kenangan dimana aku selalu saja ditinggalkan oleh lelaki yang mencoba mendekati diriku. Masa PDKT memanglah masa yang paling indah menurutku, tetapi selalu saja berakhir tragis. Mereka pada akhirnya selalu menjadi orang yang meninggalkan sedangkan diriku menjadi orang yang selalu ditinggalkan. Buruk memang.
Lamunanku ternyata membuatku tersadar bahwa bel masuk telah berbunyi dan itu menandakan bahwa istirahat telah usai.
*
Sekarang waktunya pulang sekolah, aku sedang menunggu teman-temanku di parkiran sekolah karna kami akan berangkat bersama ke cafe dimana biasanya kami nongkrong bersama. Aku memainkan kaki ku karena merasa bosan menunggu temanku datang. Tak lama setelahnya aku merasakan ada langkah kaki yang mendekat ke arahku. Aku menengadah untuk melihatnya, aku pun tersenyum. Dia adalah Aksa, Aksa Reinaldo. Dia adalah salah satu dari beberapa temanku yang membuat diriku harus menunggu mereka dengan sangat bosan. "Mana yang lain?" tanyaku kepadanya.
Dia menunjuk ke belakangnya, "Ada di belakang, mereka kan emang suka lelet." Aku tersenyum mendengar ucapan Aksa. Tak lama teman-temanku yang lain datang juga. Mereka adalah Janu, Hanny, Vinta dan Wira. Kami pun menuju cafe tempat tongkrongan kami yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolahku.
Saat kami memasuki pintu cafe, aku dapat melihat kembali lelaki yang selalu ada di sana setiap kami datang ke cafe. Dia selalu duduk di tempat paling sudut dekat jendela dengan ice americano dan croissant di atas mejanya. Aku sebenarnya tidak ingin berpikir yang tidak-tidak tentangnya, namun ia selalu melihat ke arahku dengan ekspresi yang sulit aku jelaskan. Aku merasa takut, curiga, dan penasaran terhadapnya. Selalu memakai kemeja flannel dengan kacamatanya dan memesan makanan serta minuman yang sama. Selalu.
YOU ARE READING
My Mysterious Secret Admirer
Mystery / ThrillerSudah 10 tahun berlalu, tetapi aku masih merasakan keberadaannya dekat denganku. Langkah kaki miliknya yang seirama itu membuatku tahu betul bahwa dia sampai saat ini tetap berada di dekatku, tetap mengikuti diriku, tetap mengawasiku. Tetapi sudah 1...
