A love that grows slowly like a flower that takes time to bloom and produces a beauty--
from me, a girl who loves flower than you.
Truely from my ideas. Don't copy my works! Be a wise readers! Thank you!
Regards,
Devis
“Aku tidak tahu, semenjak kapan Cinta tumbuh hingga menduri di dalam hati. Pasalnya, aku ini duri, dan kau kelopaknya. Aku datang untuk menyakiti, tapi kau datang untuk memperindah. Kita beda, tapi melengkapi. Dan aku menyukai itu.” —dvs
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hwang Daisy ; 황데이시
Aku keteteran.
Ini adalah hari ketujuh saat bisnis florist ku baru saja ku resmikan untuk dibuka. Dan aku benar-benar keteteran. Proses belajar yang ku tempuh bertahun-tahun tidak kuduga akan berjalan selancar ini. Padahal, baru seminggu bisnis ku dibuka.
Puji Tuhan, ini semua berkat kerja kerasku dan doaku. Tuhan tidak pernah tidak adil. Dan aku bersyukur, meski banyak hambatan saat aku sedang berjuang. Tapi percayalah, Tuhan akan memberikanmu apa yang kau inginkan jika kau bekerja keras dan juga taat dalam beribadah.
Aku mengaitkan papan bertuliskan "Close" di depan pintu kiosku. Sudah waktunya tutup dan juga waktunya untuk beristirahat.
Setelah semua telah kupastikan bersih, aku bergegas untuk pulang. Aku melangkah pergi dari kios kecilku dengan sesekali memijat leherku. Lelah, tentu saja.
Baru saja aku mengenakan helm kebanggaanku dan baru beberapa detik menumpangi motor, salah satu ingatan yang hampir aku lupakan datang begitu saja. Aku sudah siap untuk meluncur pulang, tapi dengan bodohnya aku melupakan pesanan buket bunga yang baru tadi aku selesaikan.
"Betapa bodohnya aku." ingin menangis rasanya karena aku benar-benar ingin segera pulang. Tapi dengan berat hati aku harus mengantarkan pesanan buket itu.
Toko ku tidak menerima pesanan cash on delivery, tapi pemesan ini sangat membutuhkan ku untuk mengantarkan bunganya langsung ke rumahnya dengan jaminan bayarannya di naikkan tiga kali lipat.
Dia kaya, tentu saja. Orang biasa di pedesaanku tidak akan mau untuk membayar karyaku ini sebanyak tiga kali lipat. Dan, tentu saja aku mau. Aku menerima tawaran itu, untuk pertama dan terakhir.
Aku berjalan seraya mencari kunci kiosku, tepat saat sampai di depan pintu aku baru menemukannya.
Setelah menemukan buket harga tiga kali lipat itu aku membungkusnya dengan plastik besar dan membawanya dengan susah payah.
Ini yang aku tidak mau untuk mengambil tawaran COD. Ribet! Di tambah lagi aku tidak tahu alamat mereka dan harus menggunakan maps untuk menemukannya. Aku bersumpah ini adalah cod terakhirku.
Setelah menempuh waktu dua puluh menit lamanya, sepeda motorku berhenti tepat di depan rumah berpagar kayu yang sangat amat tinggi. Maps yang aku gunakan juga memberi tahuku jika aku sudah sampai di tujuan.
Aku mengambil ponselku untuk menelepon orang yang memesan ini.
"Bu, ini saya dari Daisy Florist mengantar buket yang ibu pe-"
"Tolong bawa masuk saja ya, gerbangnya tidak di kunci."
Bip!
Aku melongoh masih memandangi layar ponselku tidak percaya akan apa yang barusan aku dengar. Memang benar, dia membayarku lebih. Tapi aku tidak di bayar untuk menjadi kurir seperti ini!
"Aku tahu dia kaya. Tapi apakah orang kaya selalu seenaknya seperti ini? Cih!"
Dengan emosi yang ku tahan aku membuka gerbang raksasa rumah itu dan masuk dengan memasang wajah yang super duper badmood.
"Rumahnya besar, halamannya luas, mobil nya bagus tapi etika nya tidak semewah ini semua." gumamku masih tidak terima akan perlakuan customer ini.
Kakiku melangkah lebih dalam dan membuka pintu utama rumah ini. Dan benar-benar tidak terkunci.
Maling pun sepertinya mudah untuk membobol rumah ini. Semuanya serba tidak di kunci.
Awalnya aku berniat kagum dengan isi rumah ini tapi kembali lagi dengan sifat pemiliknya yang membuatku menahan amarah.
Aku melangkah lebih dalam, dalam, dan dalam lagi hingga aku bertemu ruangan yang sepertinya ruangan tengah. Karena terdapat sofa-sofa super empuk dan juga Tv LED yang besar di tengahnya. Aku berjalan ke arah sofa dan meletakkan buket bunga itu di atas sofa dan ingin segera pergi.
"Siapa kau?!" teriak seseorang dari arah belakangku. Aku terjingkat kaget.
Aku hendak membalikkan badanku tapi tiba tiba kakiku membeku, leherku tidak mau bergerak. Heol, aku ini mengantarkan pesanan, bukan maling. Tapi aku merasa seperti maling sekarang ini.
"Apa kau tuli hah?!-"
Seseorang di belakang ku menarik kedua pundakku dan membalikkan badanku. Di tambah lagi, dia mendorongku dengan kuat.
Keseimbanganku hilang. Badanku hampir tergelimpung dan terhempas di atas sofa. Aku menarik tangan orang itu untuk menyeimbangkanku tapi dia juga tidak cukup seimbang. Waktu di dunia ini cepat, secepat saat aku benar-benar terhempas di atas sofa...
Dan...
Orang itu terjatuh tepat di atasku.
Saat waktu di percepat dua kali, orang itu menindih badanku, dan aku merasa bibirku membentur sesuatu yang kenyal saat itu.
Aku membelalakan kedua mataku, darahku berdesir kencang. Dadaku sesak karena berat yang menindih badanku. Badan pria itu benar benar sangat menempel dengan badanku. Bukan menempel lagi tapi sudah menindih badan kecilku ini. Dan yang paling mengerikannya lagi, bibirnya memyentuh bibir perawanku.
Waktu seakan di perlambat berpuluhan kali.
"ASTAGA!" teriak seorang wanita di belakang.
Dan saat mendengar teriakan itu pria yang menindih badanku berjinggat kaget lalu berdiri. Meninggalkan badan lemasku di atas sofa.
🌼🌼🌼TBC🌼🌼🌼
Park Jimin
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hwang Daisy
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.