Satu

5 0 0
                                        

Halo dan hai, salam kenal.

Aku masih pemula, jadi mohon berikan komentar yang mendukung ya.

Kritik dan saran sangat kutunggu, jadi berikan pendapatmu.

Aku suka menggambarkan latar secara rinci, menurutmu bikin bosen ga? Wkwk semoga tidak ya.

Dan, selamat membaca ceritaku yang amatir ini ya :)
.
.
.

Meskipun aku menolak, berkali kali menolak, pada akhirnya ibu tetap memaksaku. Ya, aku terbangun di sini, di atas kasur super empuk dan masih tidak percaya dengan keberadaanku di tempat ini. Cahaya matahari menyorotiku dari kaca jendela, wajahku terasa panas.

-

Aku melangkahkan kaki memasuki gerbang masuk, sebuah pedang maha besar menancap di tengahnya. Aku berjalan lurus melewati lorong setelahnya. Di ujung lorong, sebuah lapangan terhampar luas. Dikelilingi gedung sekolah, mengitarinya membentuk lingkaran sempurna. Tepat berada di tengahnya, sebuah patung ksatria berwarna merah tua, terlihat usang, begitu pula zirah yg dipasangkan di badannya. Berdiri dengan tegap, menghadap ke pintu masuk. Pemandangan ini begitu asing bagiku, terlihat antik dan indah.

"Nic?"

Sebuah tepukan di pundak menghentikan lamunanku. "Felix?"

Mencoba memelukku, bak seorang sahabat yang lama tidak bertemu. "Hei bung, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?"

Aku menahan dadanya, menolak pelukannya. "Lama? Baru dua minggu yang lalu kau berkunjung ke rumahku"

"Ayolah, aku merindukanmu." Mencoba memelukku untuk kedua kalinya

Aku hanya diam dan menunjukkan ekspresi yang mengiyakan. Pada akhirnya dia tetap memelukku.

Felix bertanya, "Jadi, pada akhirnya kamu menuruti ibumu?".

Kami berjalan bersama menuju patung raksasa.

"Yaaa, mau bagaimana lagi. Percuma saja aku menolaknya. Beliau juga pasti tetap memaksaku."

"Haha, dasar Nico. Tapi iya juga sih, ibumu memang menyeramkan. Ingat ketika aku menolak untuk ikut sarapan di rumahmu? Benar-benar menyeramkan."

"Bahkan itu hanya karena kamu menolak sarapan, bagaimana denganku?"

Kami tertawa dan terus berjalan.

Kami terhenti. Seorang gadis melewati kami. Rambut hitamnya diikat rapi seperti ekor kuda. Kulitnya putih bersih. Matanya tampak sipit, dengan ekspresi yang tidak menunjukkan kebahagiaan maupun kesedihan. Seragamnya berbeda dengan yang kami kenakan, jubah hitam polos, dan ada garis menyilang berwarna merah gelap di punggungnya. Dia terlihat anggun dan gagah, dengan pedang di pinggangnya. Baunya masih tertinggal, manis seperti lemon. Mataku terpaku melihatnya.

"Felix?" Aku bertanya pada Felix dengan mata masih terpaku pada gadis itu.

"Ya?"

"Bagamana menurutmu?" mataku masih terpaku pada gadis itu

"Wangi seperti lemon."

"Aku harus tau namanya."

"Oke, tapi Nic." Felix membuat kepalaku menengok.

"Apa?"

Felix menunjuk ke tengah lapangan, tepat ke arah patung kesatria. Pandanganku teralih.

"Lihat kerumunan itu, bukankah mereka mengenakan seragam sama dengan yang kita kenakan? waktunya berkumpul. Mungkin?"

"Ah kau benar Felix."

Gadis itu menghilang, tapi aku masih ingat wajahnya, pun bau wangi lemon yg masih terasa di hidungku. Bau yang akan selalu ku ingat.

Kami pun berjalan ke arah para murid berkumpul. Dari kejauhan terlihat seseorang berdiri di depan patung raksasa. Memberi aba-aba agar kami  berkumpul.

Sebuah lonceng didengungkan, kami terhenti untuk kedua kalinya, mencari sumber suara tersebut.

Lapangan tiba tiba menjadi sepi, masing masing murid memasuki ruangan kelas di sekeliling lapangan, dan yang tersisa hanya sekitar 20 orang dengan seragam berwarna putih. Ya, seragam yang kami kenakan.

"Ayo." Felix merangkulku, dan kami berjalan menuju tengah lapangan.

The Red SwordStories to obsess over. Discover now