08.30
Tiga puluh menit sebelum jam sembilan. Waktu krusial bagi Dania untuk persiapan terakhirnya. Satu minggu ia melatih caranya berdialog. Sejak menerima panggilan dari nomor berawalan +6221. Sebuah nomor yang tidak ada di kontak handphone-nya. Meski demikian, ia tau, nomor asing itu sangat penting baginya.
Setelah menerima surat kelulusan dan mengirim scan surat tersebut ke email perusahaan-perusahaan, insting Dania memang mulai terasah. Setiap panggilan dari nomor tidak dikenal, ia asumsikan dengan panggilan interview pekerjaan.
Ini sudah kesebelas kalinya ia duduk di tempat yang sama, di waktu yang sama. Pagi hari, tepat pukul delapan lebih tiga puluh menit, Dania duduk sejenak di samping air mancur. Mengistirahatkan kaki yang menopangnya berdesakan di trans Jakarta. Celingak - celinguk mengamati kondisi sekitarnya. Setelah memastikan tidak banyak orang dan tak ada yang memedulikan keberadaannya, Dania pun segera mengganti sandal buluknya menjadi sepatu dengan hak tinggi.
Dania sudah siap menghadapi pertanyaan yang sama. Untuk kesekian kalinya. "Apa kelebihan Anda?" Sesungguhnya ia sudah hampir muak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi ia tak mau lengah. Tak boleh 1% pun antusias dan keseriusannya berkurang. Dania benar-benar menginginkan bisa bekerja di gedung ini. Ia pun memastikan penampilan dan mentalnya siap 100%++.
*****
12. 07
Sayup-sayup terdengar alunan nada piano dari speaker yang dipasang entah di sudut mana. Dania memutar-mutar gelas di depannya. Ada dua minuman di atas meja. Isi dari gelas plastik bertuliskan namanya sudah sedikit berkurang. Satu gelas lagi masih sama seperti sejak diserahterimakan oleh mas-mas berjambang tipis di balik meja bertanda "pick up here". Dania masih sibuk memutar gelas itu. Galau mencari sudut pandang yang tepat agar tulisan "my best support system" menjadi kejutan manis bagi Kei.
Saat pintu kedai kopi terbuka, Dania langsung melambaikan tangannya. Sedari tadi memang mata Dania tak bisa lepas memandang pintu dua sisi itu. Menunggu kehadiran Kei yang lima menit lalu memberi sinyal akan segera tiba. Dan seperti biasa, Kei selalu tampak begitu menarik. Rapi. Kali ini dengan kacamata di posisi selayaknya mahkota di atas rambut indahnya.
"Eh... ini kopi gue ya?" saat Kei hendak meraih caramel machiato di depannya, Dania menahan. Mengisyaratkan agar Kei melihat lebih seksama. Kei membaca tulisan di gelas kopinya dan tersipu bahagia. Reaksi imut Kei membuat Dania merasa senang.
"Jadi gimana tadi? Lancar?" tanya Kei sesaat sebelum menyeruput minuman favoritnya.
"Menurut gue sih begitu... Nggak tau deh kalau menurut bos lo," semangat Dania masih terpancar begitu kuat meski esensi dari jawaban yang ia lontarkan adalah keraguan.
"Hmmm... Lo masih semangat banget ya? Obsesi lo sungguh membuat gue tercengang," melihat senyuman Dania, Kei pun melanjutkan bicaranya, "by the way... Lo tadi lewat mana?"
"Lewat jalur biasa lah Kei..."
"Lewat air mancur?"
Dania mengangguk kecil.
"Jadi udah berapa kali lo lewat jalur itu?"
"Ehm... ini kesebelas... eh kesembilan kalinya. Kan yang awal-awal gue lewatnya belakang, yang banyak kang jualan," Dania menjawab begitu ceria.
"Hah? Jadi lo udah wara - wiri interview di komplek gedung ini, sebelas kali?"
"Iya... Baru sebelas,"
"BARU?! Kayaknya masih sanggup kalau nambah lagi ya?" ujung kata Kei disambut tawa serempak dari dua sahabat yang duduk di sofa paling tengah kedai kopi modern itu.
"Eh tapi yang kali ini beda Kei... Yang kali ini, gue pasti dapet! Harus dapet!"
Tatapan Kei memberi karpet merah pada Dania untuk meneruskan celotehannya. Mengungkap semua yang ia alami hari ini. Kali ini, semuanya begitu tepat. Kualifikasi pendidikan, sudah sangat cocok. Satu minggu jeda membuat persiapan Dania begitu mantap. Semesta pun sepertinya mendukung. Perjalanan Dania hari ini begitu lancar. Dari antrian nasi uduk depan kost yang tidak cukup panjang. Hingga temuan uang seratus ribu di saku celananya yang kini Dania gunakan untuk mentraktir temannya. Dan yang paling penting, perusahaan kali ini adalah perusahaan yang jadi incaran pertama Dania. Tak berhenti di situ. Posisi sebagai Junior Marketing akan membawanya begitu dekat dengan Dewa. Obsesi yang sebenarnya.
"Gila lo, Nya! Segitu banget lo suka sama Dewa?" sekali lagi Kei terpana dengan niat kuat sahabatnya, "Tapi nggak apa-apa deh Nya! Gue juga kepengen lo keterima. Biar gue ada temennya!"
****
YOU ARE READING
LOVE EVACUATION
Teen FictionDania, gadis yang freak banget soal penyelamatan diri. Tiap datang ke tempat baru, hal pertama yang dia cari tau adalah jalur evakuasi. Tapi bagaimana dengan perasaan? Dia tidak pernah menyangka, tak ada jalur evakuasi bagi hatinya saat bertemu Dewa...
