Warna jingga menghiasi langit di ufuk barat. Angin berhembus menerpa dedaunan kemudian menerbangkannya.
Sepasang mata menjadi saksi semua itu. Bibir pucatnya tak mengeluarkan sepatah kata. Bahkan resah dan gelisah, terlukis di wajahnya.
Di tempat sunyi ini, dia hanya ditemani bunga-bunga liar dan rumput tinggi kurus yang menandakan jika tempat ini tidak terurus.
Angin lembut kembali berhembus menggelitik wajah putihnya, menerbangkan anak rambutnya.
"Seharusnya kamu tidak disini."
Sebuah suara mengusik kesendiriannya. Sang pemilik suara ikut duduk tanpa menunggu untuk dipersilahkan.
"Kenapa kamu sendiri?" Suara yang tak asing itu kembali terdengar.
"Bukan urusanmu!" Matanya sedikitpun tak menoleh, dia tetap memandang lurus pemandangan yang ada dihadapannya.
"Aku tahu itu," ucapnya pelan "tapi mereka semua mengkhawatirkanmu. Sebaiknya kamu ... "
"Aku tidak meminta mereka untuk mengkhawatirkanku!" sergahnya cepat. "Lebih baik kau saja yang pulang!"sambungnya.
Diam..
Angin tak mampu lagi memberi kesejukan. Suasana resah semakin terasa. Yang terdengar hanya gemerisik daun diterpa angin dan alunan khas sore hari.
"Maaf..." Sosok itu memulai pembicaraan "jangan sia-siakan mereka, mengertilah bahwa mereka sangat menyayangimu. Karena kau adalah bagian terpenting dalam hidup mereka!" ucapnya khawatir.
Dia tersenyum kecut lalu menatap sosok itu. "Kau itu tahu apa tentangku?"
Sosok itu menundukkan kepala dan terdiam. Dalam hati kecilnya ia akui, ia tak tahu apapun tentang perempuan yang sedang berada disampingnya ini.
"Aku memang tidak tahu apapun tentangmu. Tapi aku tahu bagaimana rasanya selalu menyendiri dan diasingkan orang-orang. Seperti tak ada tempat yang pantas untuk kau tempati di dunia ini. Benar begitu bukan?" Sosok itu menatapnya lembut dan hanya membuatnya menunduk menatap ujung sepatunya. Ada rasa menyeruak menyapanya.
"Diamlah!" Suaranya tertahan. "Ada atau tidak aku di kehidupan mereka, itu tak akan memengaruhi apapun!" Dadanya terasa sesak, dengan susah payah dia menahan air matanya agar tidak menangis.
Sosok itu terenyuh. Ia tahu, bagaimana rasa kepedihan itu. Ya, sosok itu sangat mengerti bagaimana rasanya menyendiri.
"Mungkin bagi seseorang, kamu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Hanya saja kamu tak menyadari itu."
"Aku, bukanlah sesuatu yang berharga dalam hidup siapapun!" Dia terisak. Hingga kristal bening yang sedari tadi ia tahan berhasil keluar.
"Jika kamu ingin menangis, maka menangislah!"
Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya, sambil mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya.
"Pulanglah, aku ingin sendiri," ucapnya.
"Aku tidak akan pulang jika tak bersamamu!" Sosok itu memperbaiki posisi duduknya.
"Terserah kau saja!" desisnya.
Sosok itu menatap langit sambil tersenyum "Menyendiri itu gak enak ya? Yang ada hanya sepi dan sunyi. Meski sudah berada di keramaian saja, rasanya tetap sepi."
Hening..
Suara hewan-hewan mulai terdengar menandakan malam akan menjelang.
"Aku terbiasa untuk menyendiri. Aku juga tidak keberatan jika selamanya harus seperti itu." Dia menengadah, menatap mentari yang nyaris tenggelam.
"Boleh aku temani kesendirianmu itu?" Sosok itu menatapnya.
"Apa?"
Tanpa disengaja, pandangan mereka bertemu. Baru dia sadari, laki-laki yang ada di sampinya ini memiliki bola mata yang indah.
Deg!!
Dia langsung membuang pandangannya. Ada sisa-sisa desiran aneh saat dia menatap mata itu.
"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku yang membuatmu takut?" Sosok itu memperhatikan lawan bicaranya yang buang muka.
Deg!!
Apa ini??. Ada sesuatu yang aneh. Jantungnya berdegup dengan kencang dan wajahnya terasa hangat.
Dengan cepat dia menggelengkan kepala "T-t-tidak!" jawabnya.
"Jika tidak, lalu kenapa mengalihkan pandanganmu?" tanyanya lagi.
Matahari mulai tenggelam. Tempat sunyi itu hening. Burung-burung terbang pulang kesarang, diganti dengan rombongan kelelawar yang mengepak-ngepakkan sayapnya.
"A-aku tidak apa-apa." Dia kembali menunduk
Sosok itu tersenyum geli melihat wajah yang memerah. "Wajah kamu merah banget," ujarnya.
Dia mengangkat wajahnya. Pandangan mereka bertemu lagi.
"Ya, wajahmu merah banget!"
Lagi-lagi, dia membuang pandangannya kemudian mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya.
"Kau ini lucu sekali!" Sosok itu masih memperhatikannya. "Aku hanya ingin kau mulai peduli pada semuanya. Percayalah meski kau selalu sendiri, di luarsana pasti ada orang yang memperhatikan dan peduli padamu!" ungkapnya.
Ya, mungkin sosok itu benar. Dia hanya perlu peduli. Pada hidupnya, pada semuanya.
Hatinya terasa tenang dan damai. Terimakasih..
Aku terbiasa menyendiri. Tapi bersamamu, aku kini mengerti apa itu indahnya kebersamaan.
Yee...btw ini adalah cerpen yang gue buat pas awal masa SMK gue.
Eh maaf ya, pake 'gue' bahasanya 🙏
Maaf juga kalo ceritanya aneh, ada typo atau mungkin ga nyampe dihati 🙏
BINABASA MO ANG
My short story
Short StoryCuma kumpulan imajinasi yang tertuang dalam sebuah cerpen Selamat membaca buat yang mau baca 😊
