Aku tidak menyangka akan terjun ke dunia kesehatan, khususnya farmasi. Sejak dulu aku benci obat obatan. Ayahku meninggal karena terlalu banyak minum obat obatan yang seharusnya tak perlu diminum. Semenjak itu aku membenci obat. Bagiku, aku hanya minum obat ketika keadaanku sudah terbilang gawat (sampai tidak bisa sekolah lebih dari dua hari. Itu karena aku butuh surat sakit dari dokter). Aku hanya menyediakan beberapa pengobatan seperti minyak hangat dan obat penurun panas. Itupun kadang sampai kadaluarsa. Aku tak peduli, artinya keluargaku sehat. Aku tinggal dengan ibu dan adikku yang juga tidak terlalu menyukai minum obat. Mungkin kami semua belajar dari pengalaman.
Lima tahun yang lalu aku pergi ke apotek untuk membeli minyak hangat karena adikku Raka sedang sakit. Badannya sudah panas naik turun selama tiga hari. Aku dan ibu khawatir. Tapi apoteker di apotek itu menenangkan. Aku bercerita padanya tentang keluhan adikku. Dengan santai dan senyum yang menyenangkan ia menenangkanku dan berkata, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, adikmu pasti akan baik baik saja. Cukup berikan obat penurun panas dengan teratur sampai panasnya benar benar hilang."
Entah dari mana munculnya pikiran itu, aku terpana melihat senyumannya. Ini terdengar gila. Sangat gila. Ia memang sudah pasti punya tugas untuk menenangkan pasien dan beramah tamah. Tapi aku jatuh cinta padanya. Karena semenjak aku menuruti kata katanya, adikku sembuh. Karena semenjak aku melihatnya, hidupku berubah seratus persen.
Inilah kisah cintaku....
YOU ARE READING
I'm in love with my pharmacist
RomanceCinta diam diam seorang asisten apoteker , Karina dengan apotekernya, Stefan. Tapi rasa suka itu semakin lama goyah karena kedatangan adik Stefan, Chris.
