Keya terlonjak kaget dari tempatnya ketika mendengar suara seperti benda besar terlempar. Ia sudah berkonsentrasi penuh mengerjakan soal matematika, menjadi kacau karena ulah seseorang di sudut kelas sana. Sambil menghela napas pelan, ia berusaha tidak menoleh sedikitpun dan mengumpulkan ingatannya mengenai rumus apa yang tepat untuk soal di depannya.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Dimana murid-murid seharusnya sudah pulang, tetapi ia malah terjebak disini bersama seseorang di urutan pertama paling menyebalkan menurutnya. Kalau saja lelaki itu tidak membuat masalah dengan mengajaknya berdebat saat pelajaran pak Harto, guru matematika yang baik namun kejam kalau sudah marah, ia pasti sudah ada di kasurnya menikmati alam mimpi. Lihat saja puluhan soal yang harus dikerjakan dan dikumpulkan hari ini juga. Bukannya membantu, 'partner'nya itu malah asik melempar barang seperti miliknya saja.
Lemparan kedua kembali terdengar. Kali ini suara itu tepat berada di sampingnya, mau tak mau membuat Keya langsung menoleh. Hanya untuk melihat sebuah buku tebal tidak berdosa tergeletak mengenaskan, juga kursi di ujung sana tak jauh dari lelaki itu. Keya mengernyit sembari bersyukur buku itu tidak mengenai salah satu anggota tubuhnya.
"Artha pulang sana. Ganggu banget tau nggak." Protes Keya kesal. Matanya memicing marah. "Lama-lama nggak selesai ini soalnya."
Artha masih setia pada posisinya, berdiri dengan tangan terkepal erat. Tapi tidak ketika matanya menatap Keya. Ia butuh melampiaskan ledakan emosinya, dan Keya, termasuk satu-satunya orang yang ketiban sial ketika harus berada dalam satu ruangan dengannya.
Ia terlalu malu untuk menunjukkan emosinya di tempat umum. Karena dirinya sekalipun belum pernah kehilangan kendali, apalagi penyebabnya karena masalah sepele.
"Aku masih sangat marah sama kamu, Key."
Keya menggaruk pelipisnya. Disaat seperti ini, hasrat hendak menenggelamkan kepala orang dihadapannya itu menjadi besar. "Kalau ini soal Ana, aku nggak ikut-ikutan yah. Itu masalah kalian. Dan kenapa juga aku harus terlibat, terus berakhir jadi sasaran pelampiasan emosi kamu?"
"Karena kamu sahabatnya."
"Percaya deh, tha. Tanganku gatel banget mau lempar balik buku ini ke kepalamu." Sebelah tangannya sudah mengambil buku tebal kemudian ditunjukkan kepada lelaki itu, sambil bertopang dagu malas.
Artha melotot tajam. Tetapi tak lama mengusap wajahnya gusar. Baginya menghadapi Keya hanya membuang tenaga saja. Gadis didepannya ini sama sekali tidak ada takut-takutnya.
Akhirnya ia memilih mendekat kemudian menduduki kursi disebelah Keya. Ikut membaca soal lalu mengerjakannya dengan cepat. Tidak diragukan lagi, ucapan orang-orang mengenai betapa lancarnya otak dari keluarga Hadiwijaya sungguh bukan omong kosong belaka. Keya bersorak sorai dalam hati karena bebannya berkurang. Semoga saja tidak ada gangguan lagi.
"Harusnya aku inget, Ana nggak gampang dideketin."
"Ya, dia tahu mana cowok yang cuman menjadikan dia seperti piala penghargaan untuk dipamerin ke orang lain, tha, " jawab Keya. "Kan niat awal kamu mendekati Ana karena taruhan konyol itu. Jadi aku nggak heran kalau kamu berakhir ditolak mentah-mentah, bagus dia masih menjaga perasaanmu."
"Harga diriku jatuh. Dan sorry, pakai perasaan bukan caraku." Ketusnya.
Semua bermula dari temannya, Mike Hilda Guntoro, yang nencetuskan ide dan membuat taruhan untuk mendekati Ana. Ketiga teman lain beserta Artha awalnya tidak berminat, namun setelah mendengar hadiah apa yang diberikan Mike, tanpa ragu mereka setuju. Tidak tanggung-tanggung ia memilih hadiah berupa mobil keluaran terbaru miliknya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keya
RomanceKeya melalui kehidupan SMA seperti orang kebanyakan. Tetapi semua terasa berubah sejak ia menyadari ada kejadian-kejadian aneh yang menimpanya. Cover : pinterest
