1. Ketika Bunga Kemuning Ingin Naik Pesawat Terbang (Pray for Air Asia QZ8501)

40 1 0
                                        


Di langit pemandangan sangat cerah. Bunga Kemuning pun tersenyum sumringah. Kelopak bunganya satu demi satu mulai terbuka. "Ah, aku ingin meminta permohonan untuk hari ini," gumam bunga Kemuning dalam hati. Dia pun memandang langit kembali, tampak sebuah pesawat terbang melayang tepat di atasnya. Bunga Kemuning sangat takjub melihatnya. Dia baru mulai mekar, dan tidak pernah melihat pesawat terbang sebelum ini.


"Hei, kenapa melihat ke atas terus ?" sekuntum bunga Kembang Sepatu menegurnya perlahan.

"Aku ingin bisa naik pesawat terbang," ucap bunga Kemuning begitu saja. Membuat semua bunga lain menengok ke arahnya.

"Naik pesawat terbang ? Itu terlalu tinggi. Sulit bagi kita di taman ini, bisa naik pesawat terbang," sahut bunga Matahari dengan mimik muka keheranan.

"Ya, kita bukan di toko bunga yang mungkin ada yang beli dan kemudian membawanya dengan pesawat terbang," bunga Lily menyambung.

"Mungkin bisa juga kamu naik pesawat terbang, tetapi harus sabar menunggu sampai ada orang yang mau memetikmu dan ikut bersamanya pergi naik pesawat terbang," kembang sepatu menengahi dengan bijaksana.

Bunga Kemuning diam saja mendengar perkataan teman-temannya, namun dalam hatinya semakin berharap bisa dapat naik pesawat terbang kapanpun. Hingga beberapa hari kemudian, ketika angin mulai sering bertiup sangat kencang. Bunga-bunga di taman itu pun menjadi ketakutan. Mereka tidak mau kelopaknya rontok satu demi satu. Terkecuali bunga Kemuning, dia hanya dia diam tegak menentang angin.

Berhari-hari ketika angin menghembuskan kekuatannya yang mampu meliuk-liukkan batang pohon, bunga Kemuning masih tetap tegak. Bahkan saat angin mulai menjatuhkan baju-baju yang tergantung di jemuran, bunga Kemuning tetap tidak perduli. Pun ketika ada baju yang jatuh menutupinya, bunga Kemuning masih kukuh dengan tegaknya. Sikapnya itu tentu saja membuat angin menjadi heran.

"Mengapa kamu tidak merunduk seperti teman-temanmu ?" tanya angin sambil menderukan suaranya ke arah bunga-bunga.

"Aku hanya ingin tetap bisa melihat pesawat terbang," jawab bunga Kemuning mengeraskan suaranya agar angin mampu mendengar suaranya.

"Pesawat terbang ? Aku tidak mengerti,"

"Ya, aku ingin naik pesawat terbang,"

"Hahahahahhahahha................,"

"Wahai angin yang perkasa, dapatkah menolongku membawaku ke pesawat terbang ?"

"Hemmmmmmmmm,"

"Sekali ini saja, aku ingin merasakan bagaimana rasanya naik pesawat terbang, tinggi jauh di angkasa,"

"Hemmmmmmmmmmmm,"

"Oh, berarti engkau bukanlah angin yang seperti aku bayangkan selama ini,"

"Lalu apa..............?"

"Aku membayangkan engkau begitu perkasa, ternyata tidak, engkau begitu baik mau menolong, ternyata tidak, engkau .....................,"

"Cukup, cukup, cukup, baiklah aku akan meniupmu hingga jauh ke atas, ke pesawat terbang yang sedang melintas,"

Sekejap..........wusssssssssssssssssss.......................bunga Kemuning pun melayang jauh ke atas, lebih jauh lagi, dan sangat jauh sekali........................ Hingga akhirnya bunga Kemuning perlahan menempel ke sebuah jendela di bagian belakang sebuah pesawat terbang. Pesawat terbang itu kebetulan sedang melayang jauh tinggi di atas awan.

Bunga Kemuning tentu saja sangat gembira. Dan dibalik jendela pesawat terbang itu, tampak seorang anak bayi kira-kira berumur 1 tahun. Anak bayi itu pun tertawa lebar sambil berusaha tangannya menggapai-gapai sekuntum bunga Kemuning di luar jendela.

(Dimuat dalam Kompasiana.com/burofa 14 Januari 2015)


KUMPULAN CERPENGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt