Sudah sekitar dua jam aku duduk menatap kosong pada arah pintu masuk kafe ini, berharap dia yang aku tunggu akan muncul dari balik pintu kayu tersebut, namun harapan semakin memudar, bayangnya tidak menghampiri aku. Sedangkan handphone di dalam saku jaket aku terus bergetar, namun sengaja aku abaikan, tidak bisa aku pungkiri, aku mencintai sosok yang aku nantikan kehadirannya tetapi di balik semua itu ada orang di seberang sana yang tidak ingin aku dan dia menjalin kasih, yakni orangtuaku.
Terus berharap menanti kehadirannya seolah ingin membuktikan pada diri ini bahwa keberadaan aku di sini dan mengabaikan panggilan masuk di handphone adalah sesuatu yang benar. Di luar hujan mulai redah, namun gerimisnya tetap ada seakan enggan untuk meninggalkan aku seorang diri.
“Mau pesan apa?” untuk kesekian kalinya pelayan kafe menghampiriku, karena malu aku menjawab “Chocolate hangat dan kentang goreng! Maaf jika aku mengganggu!” yah jujur aku merasa bersalah. Tetapi pelayan itu tetap ramah, dia tersenyum dan mengangguk ramah. Setelah pesanan makanan datang pun sosok itu belum hadir, aku mulai menimbang berbagai opini dalam hati, namun aku harus mencicipi makanan ini dan membayarnya serta bergegas pergi dari kafe ini, ketika menyadari banyak mata penuh tanda tanya yang tertuju padaku.
Setelah membayar tagihan, aku mengayunkan kaki ini keluar dari kafe, pikiranku kosong, sepeti sedang dihianati, sedangkan aku sudah mengabaikan orang penting dalam hidupku demi dia. Tujuanku berada di kafe ini hanya ingin menunjukan kepada orangtuaku bahwa dia yang aku tunggu akan datang padaku dengan segala ketulusannya yang dapat mengalahkan alasan di balik rasa tidak setuju dan alasan mereka menentang hubungan kami.
Aku tidak berdaya, isi di kepalaku seakan berlomba-lomba saling mengalahkan, suara hiruk pikuk di sekitarku membuatku seperti merasa terasingkan di tengah keramaian, sedangkan rintik lembut air dari langit tetap membasahiku. Masih belum bisa menerima kenyataan ini, aku melangkahkan kaki menuju tempat yang biasa kami kunjungi bersama, namun bayangnya tak kutemui, kini tak lagi gerimis, hujan semakin lebat membasahi tubuhku kini kurapuh dalam kesendirian, aku menangis berteriak kepada dunia, kepada hujan, menyalahkan semesta dan membenci diriku, karena tetap menyayanginya.
Ku arahkan kakiku pulang ke rumah dalam segala keputus asaan. Memilih pulang berarti tidak ada pertemuan lagi bagi kami. Walaupun aku memilih dia tetapi hidup aku masih bergantung pada orangtuaku, aku masih hanyalah seorang mahasiswa teknik yang pada saat ini merasa gagal menjadi wanita teknik yang kuat. Tujuan aku menantinya di kafe adalah untuk mengajaknya membuktikan ke orangtuaku bahwa walau berbeda, dia bisa mencintaiku dengan tulus begitu pun sebaliknya, namun itu hanyalah khayalanku saja, mungkinkah dia tidak mengharapkan akan hari indah esok bersamaku? Apa cinta ini hanya cinta monyet di bangku kuliahnya? Tetapi hatiku menolak opini itu.
Ku pandang pintu rumahku dari balik pagar, rumah seakan sepi tanpa penghuni, apakah saya sudah menjadi anak duraka bagi orangtuaku? Ku beranikan diri membuka pagar rumahku, rumah penuh sejuta kenangan, ku raih gagang pintu dan duniaku seakan berhenti berputar,
“Gabriela!” suara mama terkejut memandangku. Aku berdiri terpaku melihat pemandangan di depanku, serta apa yang barusan aku dengar dari perbincangan mereka, semua mata tertuju padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Di ruang tamu rumahku ada Marvin dan kedua orangtuangnya. Papa berlari ke arahku dan memelukku.
“abaikan semua yang kau dengar, ada papa dan mama di sisihmu, duniamu luas sayang” kata papa.
“Gab!” Marvin tampak berdiri dan melangkah ke arahku, namun
“Stop! Jangan lanjudkan langkahmu! Aku membencimu!" ku lepaskan diriku dari pelukan papa dan berlari keluar dari rumah ke dalam pelukan sang hujan, aku membenci hari ini, sangat membenci apa yang barusan saya dengar.
“Gab!” suara Marvin mengejarku, namun aku tetap berlari semampuku, namun kekuatannya melebihi kekuatanku, dari arah belakang ia meraih tanganku, dan membawa aku ke dalam pelukannya. Ada suara dalam diriku yang mengharapkan berada dalam pelukanya sekarang, namun kekecewaanku, luka di hatiku karena goresan piluh yang barusan ku alami membuatku berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan dia, namun dia tetap memelukku erat.
