"Maan, sepertinya hanya aku yang antusias menanti jumpa mu, sebenarnya kau berlabuh pada tepi lautan atau tidak?"
"Samara, maafkan aku. Bukan aku tidak ingin berjumpa, hanya saja hatiku mengkhianati aku kembali.
Sungguh, aku menyayangimu. Tapi aku mencintai hati lain, Samara."
"Maan, bukan kah kau bilang hanya ada aku di ruang hatimu? Kenapa kau mencari pelita lain? Tidak kah lilinku cukup terang untuk ruang hati yang kelabu?"
"Samara, maaf aku kembali membuat sayatan.
Sepertinya aku membutuhkan matahari dari pada lilin. Aku butuh hangat, sinar yang membakar.
Maafkan aku, Samara."
Hanya itu yang dapat ku ingat kala mendengar nama Maan disebut. Maan, pria yang luar biasa aku cinta namun dia pergi meninggalkan luka. Sebut saja cerita cinta ku terlalu dramatis, tapi sungguh. Ini yang ku rasakan.
Maan, pria yang ku cinta. Aku, terlalu mencintaimu.
Cukup dengan kejadian di awal cerita ini, sebelum kau memutuskan untuk membaca, aku memohon, tolong siapkan hatimu untuk ikut terluka bersamaku.
Bukan aku ingin kau merasakan luka hanya saja aku ingin kau turut mengerti apa yang terjadi pada hati kecil ini.
***
Selamat membaca Maan & Samara.
Ms Ray
YOU ARE READING
Tentang Aku Yang Bernama Bayangan
PoetryTernyata aku ada dalam masa depanmu, hanya untuk menjadi saksi betapa tidak adilnya dunia terhadap hatiku yang sangat rentan tersakiti.
