Aku dinar sigadis manis yang sedikit tomboy, maafkan kepedeanku hehehe. Saat ini aku sedang kuliah disalah satu universitas negeri di Bandung bersama dengan Diana sepupuku sendiri.
Diana anak dari adik mamaku, Diana cantik dan juga feminim, tidak heran banyak laki-laki dikampus yang mengincar dirinya, sayangnya Diana juga pilih-pilih sehingga walaupun cantik dia jauh dari kata playgirl.
Setiap manusia memiliki kisahnya masing-masing, termasuk tentang kehidupan asmara yang awalnya kuanggap tidak penting dan akhirnya aku terjerumus dan bukan membuatku tersenyum malah menorehkan luka.
Pagi telah menyapa dengan kicauan burung cantik peliharaan ayahku yang tak kutau jenis burung itu, kata ayah sih itu burung muarai batu namanya. Selain kicauan burung setiap pagi aku juga dibangunkan dengan bau harum nasi goreng buatan ibu yang menggugah selera dan hingga saat ini masih menjadi nasi goreng kesuakaanku, masakan ibu memang yang paling enak.
Setelah sarapan aku bergegas memanaskan mesin motorku lalu kembali ke kamar mengambil tas dan berangkat ke kampus, tak lupa mencium tangan ayah dan ibu yang masih duduk di meja makan.
Setiba dikampus seperti biasa aku memarkir motor, dan tiba-tiba dikagetkan dengan perempuat berambut panjang yang tak lain adalah sepupuku Diana. "tumben kekampus pagi-pagi, biasanya juga kamu nitip absen atau terlambat" kataku sambil menggodanya, "hehehe soalnya tadi pagi mama gak berenti bangunin, ya udah ayok masuk kelas" sambil menarik tanganku agar jalan berdampingan dengannya. Kebetulan jam kuliah kami sama walaupun kami bedah jurusan.
Diperjalanan kami berpisah kejurusan masing-masing. Dengan kecentilannya dia meninggalkanku sendiri berjalan diantara para mahasiswa yang lalulalang.
Ditengah perjalanan tiba-tiba pandanganku teralihkan dengan seseorang yang sedang asik membaca buku dengan headshet ditelinganya, dia sepertinya teman jurusan Diana. Dia berdiri dari duduknya membuatku kaget karena aku dan dia sempat bertatapan, yah karena gugup aku berlari dan tidak menoleh lagi kepadanya, namanya juga orang kepergok ngeliatin.
Tak sengaja aku menabrak Aldo yang juga terburu-buru, kutanya padanya "eh Do kamu ngapain sih buru-buru?", "kamu juga tuh yang buru-buru" balasnya padaku sambil memasang muka menjengkelkannya. "gak apa-apa ko', aku lagi pengen aja cepet-cepet kekelas, nah kamu tuh kenapa sih, lagian juga dosen bentar lagi masuk kelas" dengan sikapku yang agak grogi, masa juga aku ngaku kalau aku lihat seseorang sampai kepergok, kan gak mungkin. Dengan jawaban yang kulontarkan padanya dia langsung membalas "ouh ini aku lupa sesuatu dimobil jadi lari deh, nanti dosen keburu masuk, aku duluan ya, tungguin dikelas ya" sambil tersenyum dan berteriak kayak orang gila aja. Belum sempat ku balas dianya udah perdi duluan "dassar Aldo gila."
Namanya Aldo salah satu teman akrab dan menjadi sahabatku dikampus sekaligus sejurusan denganku, jadi kami lumayan dekat. Sering ngerjain tugas bareng, makan dan nonton bareng. Yah bisa dibilang kami sahabatan, walaupun banyak yang bilang kalau sebenarnya Aldo itu suka sama aku, tapi aku sih nanggapinnya biasa aja, karena aku tidak ingin persahabatanku dengan Aldo hancur karena sesuatu bagiku gak begitu penting yaitu cinta, hemmmmmm.
Setibanya dikelas aku sudah duduk rapi dikursiku sambil menunggu Aldo. Tidak lama kemudian Aldo muncul mengagetkanku sambil memperlihatkan makanan kearahku. Ternyata yang kelupaan adalah sarapan yang dibuat oleh mamanya dari rumah dan membawanya kekampus buat aku, dassar Aldo, kadang dia romantis juga, sungguh beruntung nanti wanita yang mendapatkannya.
"heeeeiiiiiiii, mau sampai kapan kamu ngelamun senyum-senyum liatin aku kayak gini" ucapnya sambil menepuk pundakku yang sedari tadi menatapnya tanpa kusadari. Balasku sambil ngeles "sorry, aku Cuma kangen aja sama tante, udah lama gak kerumahmu nemuin dia". Dia hanya tersenyum memperhatikanku dan menyodorkan makanan yang sedari tadi dibukanya untukku. Karena dosen sudah ada dalam kelas, jadi makanannya kusimpan dalam tas untuk kuhabiskan saat istrahat nanti. "Terima kasih Aldo" bisikku sambil tersenyum padanya lalu dibalas dengan muka nyengirnya padaku. Seperti biasa Aldo selalu punya cara membuatku tertawa.
hari ini kelasku hanya satu, aku berjalan keparkiran untuk pulang duluan setelah pamit dengan Aldo yang masih ingin tinggal dikampus. Karena Cuma mau beli novel baru aku buru-buru balik duluan. Jadi sekedar informasi tentang diriku, kalau aku itu suka banget baca buku tentang love strory walaupun aku yang sedikit tomboy tapi tak kupungkiri kalau aku suka banget sama cerita romantis dan satu lagi, gak banyak orang tau,mungkin yang tau cuma Diana bahkan Aldo pun tak tau.
Kuberjalan menyusuri jalan keluar kampus dengan sepedamotorku. Gayaku yang casual dengan dibalut jaket jeans dan kaos didalamnya membuatku terlihat keren dan santai.
Aku melihat-lihat setiap judul buku dengan sekali-kali membaca synopsis dan penerbitnya siapa. Aku sangat suka ke toko buku walaupun tak membeli dan hanya mampir sebentar lalu pergi, eits tapi tidak dengan mencintai ya, karena cinta harus tetap tinggal agar kebahagiaan menghampiri.
Setelah melihat-lihat novel aku berjalan ke barisan buku yang isinya semua tentang filsafat. Dari dulu aku bercita-cita ingin membaca beberapa dari mereka tapi aku tak pernah bisa, karena kecintaanku yang besar pada buku novel tak seperti pada buku filsafat.
Lorong-lorong buku kulalui sambil membaca setiap judul tiba-tiba melihat dia yang menunduk membuatku kaget. Dia yang tadi pagi membuat duniaku berhenti sejenak dan hanya berfokus padanya kini berada lagi tetap depan mataku, dengan wajah yang sama, dengan detak jantung sama. Siapa dia, aku juga tidak tau, yang kutau dia sejurusan dengan Diana sepupuku, aku hanya sekali melihatnya dan langsung merasa ada yang aneh denganku, ini kedua kali aku melihat dan masih merasakan hal yang aneh dengan diriku.
"hay..........", lamunanku terbangun dengan suaranya.....
"i....a....... kenapa?" jawabku yang sedikit grogi karena kepergok melamun didepannya.
"kamu mau liatin buku atau liatin aku?" jawabnya dengan ekspresi yang sedikit lucu tapi sedikit menyebalkan.
"eh sorry....tadi aku Cuma ngingat kayanya kita pernah ketemu deh, satu kampus kan kita?"
"ia....tadi pagi kita sempat papasan kan" sambil meyakinkanku tentang kejadian tadi pagi
"hehehe ia......" kusodorkan tanganku "Dinar"
"Muhammad Malik Akbar, panggil aja Malik"
"wah islami banget ya namanya gak kayak penampilannya, tapi nama yang bagus" penampilannya yang agak seperti cowok badboy yang pendiam dan acuh banget dengan sekitanya (menurutku saat pertama kali melihatnya).
"kamu juga Dinar, namanya feminim tapi orangnya....yah gitu deh" balasnya sambil meledekku
"ouh ia kamu suka baca buku juga ya?" usahaku memulai pembahasan.
"ia suka, tapi biasa aja sih, kalau lagi pengen aja, eh kamu juga suka ya?, suka buku apa aja?"
"aku sih suka novel romantis gitu, kalau buku ginian aku gak terlalu tertarik" kataku yang sedikit malu-malu.
"beda ya yang keliatan sama kesukaan" ngeledeknya lagi yang membuat aku tersipu malu.
"makanya jangan nilai dari luar dong, kan belum tau aslinya gimana" balasku sambil ketawa.
"emmm ia deh sorry"
"oh ia Lik, kamu gak usah ribut-ribut soal aku suka baca novel romantis ya, aku gak mau orang-orang tau,yahh.... Maksud aku gak penting juga kan mereka tau"
"memang kenapa mereka gak boleh tau, kan aku juga sudah tau?"
"yahh aku Cuma gak mau, kehidupan pribadiku banyak yang tau, itu aja sih, dan untuk kamu yang tau, biarin aja udah terlanjur juga kan"
"ok, gak penting juga aku bahas ini ke orang-orang. Oh ia aku duluan ya"
"hemmmm ia deh, okay hati-hati, aku masih mau cari buku lagi"
Dia perlahan meninggalkanku di antara lorong buku sendirian dengan senyumanku yang masih tak percaya bisa berkenalan dengannya sambil ngobrol akrab.
YOU ARE READING
Aku Pergi
Short StoryKarena cinta yang mebuatku menemukannya, dan cinta pula yang membuatku melupakannya. Akankah malik menjadi cinta terakhir -Rasa dalam balutan rahasia part 5- Say No To Plagiarism
