in 2028

646 63 45
                                        

Jakarta, 2019.

Aku menghela napas panjang, memperhatikan ratusan orang yang duduk di hadapanku. Sebagian memerhatikanku, sebagian lagi tidak.

Ini adalah kali pertamaku bernyanyi di hadapan banyak orang. Oh, tidak, tidak. Jangan berekspetasi terlalu tinggi terhadapku. Aku hanya seorang penyanyi cafe, dan tidak akan lebih dari itu.

Tanganku dingin, mungkin sebentar lagi membeku.

Namun, di tengah kepanikan ini, aku teringat perkataan seseorang. "Pejamkan lah matamu, maka kamu akan merasa waktu seakan berhenti untukmu. Pejamkan lah matamu, maka kamu akan melihat cahaya dalam kegelapan itu."

Maka aku pun memejamkan mata, dan mengambil napas panjang.

Benar saja, aku dapat merasakan waktu berhenti sejenak. Kini aku hanya mendengar desir angin.

Dan tepat saat itu, aku seperti mendengar angin berbisik kepadaku, "Jika kamu diberi kesempatan untuk menebak masa depan, apa yang akan kamu bayangkan?"

Aku tertegun, apa ya yang dapat aku bayangkan untuk masa depan?

- - -

Singapura, 2028

"Vanesa, apa sih sebutan buat fans boyband kesukaan kamu itu?"

Aku menoleh cepat ke arah Wiliam sambil mengerutkan dahi, "BTS?"

Wiliam mengangguk.

"ARMY. Emang kenapa sih?"

"Enggak. Jadi, besok tuh ada yang reservasi cafe kita untuk perayaan BTS. Aku nggak tahu perayaan apa."

Mataku membesar, "wah, bagus dong. Aku bisa jualan albumku di sana hahaha."

"Aku rasa kamu memang perlu membawa beberapa album itu. Aku juga sempat bilang kamu membuat album untuk BTS dan mereka berkata ingin mendengarmu menyanyikanya."

"K-kamu serius?."

Wiliam mengangguk, "ya sudah, persiapkan dirimu untuk besok malam ya," ujar Wiliam sambil berdiri dan mengacak-acak rambutku, lalu pergi.

Selepas Wiliam pergi, perasaanku menjadi campur aduk. Sekarang umurku sudah hampir berkepala tiga, sudah hampir sepuluh tahun aku menjadi ARMY. Meskipun setelah aku pindah ke Singapura, aku tidak terlalu mengikuti beritanya - ah, jangan marah padaku, aku hanya memprioritaskan kehidupan pribadiku terlebih dahulu, tapi BTS masih tetap mempunyai tempat di dalam hatiku.

Jujur saja, sekarang aku geli sendiri karena mengatakan hal yang cheesy.

Ngomong-ngomong soal album, lagi-lagi aku teringat dengan album ungu itu. Entah apa yang mendorongku waktu itu, tapi aku berhasil membuat tujuh lagu untuk BTS bersama ARMY seluruh dunia.

Itu menakjubkan, bukan?

Meskipun aku tidak tahu apakah lagu-lagu itu sudah sampai di telinga para member BTS atau belum. Lagipula, dibanding itu, setidaknya kami sudah membuat lagu ini dengan tulus, itu yang terpenting.

in 2028Where stories live. Discover now