maaf kalau ceritanya datar aja ya masih belajar....
ditengah kehijauan yang menghitam,
seorang anak kecil melangkah dalam hening dengan baju sobek sobek. semilir angin terasa seperti pisau yang menyayat kulit penuh luka dan darah seperti jarum es menusuk sampai tulang sum sum.hanya isak tangis yang terdengar samar diantara rimbunan pohon.
tak menghiraukan kaki yang penuh luka dan keram, terus melangkah dengan langkah kecil dengan langkah bimbang tanpa tujuan. dengan kejadian pembantaian yang terus datang dalam ingatan yang terus beruntun, terus membimbingnya tanpa ingat luka di tubuh.
kakinya terhenti dikala sungai didepanya memancarkan cahaya bulan. terpancar wajah cantik dan mulus dulunya penuh luka gores ringan dan berat. hatinya makin tersayat. air sungai yang membasuh muka tak sanggup menyamarkan lukanya.
setelah membersihkan tubuh. sosok gadis terlihat lebih segar walau wajah pucat terus makin terlihat jelas. duduk di atas batu menatap angkasa,bulan bintang menatap dengan perkasa,
menghantar dalam lamunan,andai ku bisa seperti dia semua orang kan menatap kagum dan iri menundukan kepala tanda hormat dan takut.
sementara itu tanpa sepengetahuan sepasang mata mengawasi dari seberang sungai sekitar jarak 10an meter di atas di belakang pohon,dengan jubah hitam legam wajah keriput dan rambut putih terlihat samar di antara pepohonan di hutan malam itu.
gadis itu tertidur di atas batu karna lelah yang teramat sangat tanpa mampu ditahan. rasa hangat dan nyaman menyadarkanya dari mimpi 'apakah aku sudah mati' gumamnya dalam hati.mata lebarnya terbuka melihat kiri kanan mengamati tempat asing itu. rumah dengan lantai batu dan dinding kayu serta hiasan sederhana terlihat menarik dengan tatanan yang pas. diatas ranjang kayu alas bulu domba ditata epik lembut dengan selimut lapis 2 menambah rasa hangat dan nyaman.luka itu telah dibalut dengan rapi. "aku dimana?" suara lirih parau tak mampu menghilangkan nada indah gadis itu. bajunya sudah diganti rapi warna hijau muda semakin terlihat anggun walau masih usia 10 tahun. rasa takut kembali menemani dalam sunyi. 'siapa yang membawaku kemari?','rumah siapa ini?'terus terucap dalam hati.
terlihat sub hangat di meja sebelah ranjang dan botol obat dengan selembar surat tanpa nama. fikiranya makin banyak pertanyaan tak terasa hampir setengah hari berlalu makin banyak pertanyaan tak ada seorang pun yang datang. iya bangkit dan melangkah keluar dengan susah payah setelah membuka pintu terdapat taman indah di tengah hutan dan sungai di sebelah taman itu. sangat asri seperti taman di tengah hutan belantara.
tanpa terasa kaki ini melangkah menahan sakit mengitari tempat itu. sampai di depan rumah besar seperti aula pelatihan desebelah tempat itu danau danau yang asri dan tertata bagus. iya duduk sejenak menikmati udara dan pemandangan yang belum belum pernah iya lihat sebelumnya. berusaha menghilangkan rasa dendam yang belum pernah menyingkir sedetikpun dari fikiranya. suara angin gemericik air membimbing dalam lamunan seperti melodi indah perkasa biru.
"kau belum sembuh sebaiknya istirahalah dulu supaya cepat sehat,aku tidak tau masalahmu tetapi tidak baik terus memaksa diri." gadis itu menoleh dan tetap tenang sorot mata haus darah terpancar membuat setiap mata merinding melihatnya. "engkau yang menolongku tuan?" suara lirih halus terdengar merdu dan dingin. "bukan tetapi kakek yang menolongmu waktu pingsan penuh luka. apakah anda disakiti hewan buas?maaf kalau kurang sopan." gadis itu kembali tertunduk diam. "gak papa gak usah dijawab, memang banyak hal yang tidak harus di bisa di ungkapkan, saya mengerti ." suara kembali terdengar dibelakang." saya di belakang rumah yang anda tempati jika ada perlu,oiya jangan lupa makan jaga kesehatan" sosok tersebut berjalan pelan menjauh.
tanpa terasa waktu menjelang sore gadis itu pindah di gubuk karna rintik hujan di sore itu berganti kabut menghilangkan indahnya senja di tepi danau. baju hijau muda diterpa angin semilir, seakan memberi pancaran keindahan tersendiri dengan wajah putih mulus hidung kecil dengan mata agak sipit berkaca kemerahan menatap kosong jauh. air mata juga sudah tak mau tumpah seakan sudah kering.
seorang wanita menatap ke sosok itu di dahan pohon agak jauh. cukup lama mengamati seakan hatinya tergerak iya mendekatinya "maaf dek ayo saya antar kembali ke kamar? sudah malam tidak baik untuk kesehatan."
YOU ARE READING
Dewi pedang
Actionseorang gadis bernama dewi harus pisah dari kampung halamanya karena desanya dihancurkan oleh orang tak dikenal, dengan membabibuta. semua orang dibantai kecuali dewi karna bisa kabur ke tengah hutan dan melewati segala rintangan akhirnya tubuh penu...
