God's Hand

8 0 0
                                        

Gadis itu lagi -- si Pengemis masih ingat anak yang satu itu saat dia keluar dari pintu convenient store, membawa hembusan angin dingin dari AC bersamanya. Ia ingat karena gadis itu -- meskipun penampilannya tidak ubahnya mahasiswa biasa yang banyak berlalu-lalang di daerah sekitar kampus -- tatapan matanya sempat bersirobok dengan si bapa paruh baya, sebelum lantas ia alihkan lagi pandangannya. Hal seperti itu sudah biasa bagi si Pengemis. Orang-orang lebih memilih untuk menghiraukan keberadaannya di sana, yang tengah duduk beralas debu di atas tanah, di bawah rindangnya pohon di pinggir jalan.

Tapi gadis itu, setelah membereskan barang belanjaannya di tangan, ia kini menghampiri si Pengemis. Tatapan si bapa pun kini penuh harap. Dan dengan terdengarnya sebuah bisikan, mendaratlah lembaran terlipat 2000 rupiah ke dalam mangkuknya, di atas sejumlah kecil keping-keping koin.

Atas nama Tuhan, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang; demikian bisikan tersebut terlontarkan.

***

Saat kau melihat pengemis di pinggir jalan, jauh lebih mudah untuk menghiraukan keberadaan mereka. Teruslah menatap lurus ke depan, ingat masalah dan urusanmu sendiri. Ingat bahwa tidak semua pengemis itu juga baik -- siapa yang tahu apa saja yang mereka gunakan dengan uang yang kita sedekahkan? Ingat bahwa kau sendiri tidak bisa menghambur-hamburkan hartamu.

Semua itu jauh lebih mudah, dibandingkan menanggung beban rasa bersalah dari tatapan kosong yang mereka berikan padamu dari tempat mereka termangu di atas tanah.

Nasib jadi orang sensitif, pikirku pada diri sendiri. Tapi kini, setelah aku selesai berbelanja kebutuhan di mini market dan menatap sejumlah uang kembalian, sebersit perasaan terlintas. Sebuah dorongan, yang agar tidak terbuang sia-sia, baiknya kau turuti tanpa dipikirkan. Maka aku pun menghampiri si bapa pengemis yang masih duduk termangu di depan mini market, dan dengan basmallah, menaruh satu lembar dua ribuan.

Atas nama Tuhan, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dua ribu rupiah tidaklah banyak, namun saat aku intip isi mangkuk si bapa, aku tidak melihat yang lain selain beberapa keping koin. Dua ribu tidaklah banyak -- tapi ini adalah sebanyak yang dapat aku bagikan.

Sebuah hamdallah, demikian si pengemis tersebut membalas sedekahku -- tanpa aku menyangka akan mendengarnya.

Lantas aku pun pergi, berjalan pulang.

Segala puji bagi Allah.

Aku menemukan diriku termenung sepanjang jalan pulang. Apa yang baru saja aku alami, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sedekah kecil dari mahasiswa sederhana, untuk pengemis yang kebetulan lewat. Dua ribu tidaklah banyak -- aku tidak mampu membayangkan bisa bertahan bahkan sehari hanya dengan dua ribu. Tapi ucapan yang menyertai insiden kecil itu;

Atas nama Tuhan, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah.

Aku bukanlah orang yang religius kalau dibandingkan dengan teman-temanku. Sembahyang lima kali sehari pun belum kujalankan dengan sempurna. Maka, aku bahkan tidak bisa merasa bangga dengan 'sedekah' yang baru saja aku lakukan barusan. Alih-alih, perasaan yang sekarang melayang-layang di pikiranku ini...

Ah, I get it, pikirku akhirnya. Lega; perasaan lembut, yang merayakan sebuah kebahagian, kenikmatan kecil. Mungkin untuk si bapa pengemis.

Dan bila begitu, mungkin sejujurnya yang barusan memberi sedekah pada si bapa bukanlah tanganku.

God's HandStories to obsess over. Discover now