Desir angin di taman rumah sakit menerbangkan helaian rambut seorang gadis yang sedari tadi duduk di bangku kayu taman itu. Matanya terpejam, menikmati suasana pagi hari yang menyejukkan pikiran dan hatinya. Hal itu telah menjadi rutinitasnya di pagi hari sejak enam bulan ini.
" Pagi," sapa seorang pemuda di belakang gadis tersebut. Gadis itu menengok kebelakang dan tersenyum.
" Masuk yuk? Aku bawain bubur buat sarapan. Bunda yang masakin, katanya spesial untuk si pretty angel," ajak pemuda itu yang meletakkan jaketnya di pundak gadis tersebut dan duduk berdampingan dengannya.
" Makasih," gadis itu tersenyum.
" You're wellcome," balas pemuda itu, " Eh, masuk yuk! Anginnya lagi kencang nih nanti takutnya kamu masuk angin ".
Gadis itu menggeleng. " Gak apa kali. Lagian anginnya gak terlalu kencang kok ".
" Tapi kan nanti kalo kamu sakit gimana?" pemuda itu menampakkan wajah khawatirnya.
" Kan emang udah sakit. Udahlah Jun, kamu gak perlu over protektif gitu. Lagian angin kek gini gak bakal buat aku mati," balas gadis tersebut.
Ada perasaan pilu ketika mendengar kata-kata gadis tersebut. Pemuda itu tahu betul apa yang telah dilalui gadis ini. Sudah dua tahun lebih ia mengidap penyakit itu. Penyakit yang mengharuskan ia merasakan hal yang selama ini ia benci. Hal yang mengubah dirinya menjadi dirinya yang sekarang.
Pemuda itu hanya bisa memandang wajah pucat gadis tersebut dalam tatapan sendu. Ia hanya diam. Bersenandika saat bersama gadis itu akan lebih baik dibandingkan harus membahas hal yang sudah ia tahu bahwa gadis itu tak ingin membahasnya. Jika ia membahas hal tersebut pasti pada ujungnya dia dan gadis itu akan bersawala sampai satu diantara mereka kehabisan kata-kata.
Pemuda tersebut dan gadis itu memiliki point of view tersendiri dalam memandang dunia. Mereka bagaikan pelangi dan petir. Tak bisa disatukan menjadi hal yang padu.
" Arun...," lirih pemuda itu.
" Jun, kamu tahu kan arti namaku itu apa?" tanya gadis tersebut.
" Dawn Paradise, " balas pemuda itu.
Gadis tersebut mengangguk pelan. " Tapi arti nama tersebut tidak tercermin dalam diriku. Benarkan ?" gadis itu menatap pemuda tersebut dengan senyuman palsunya. Senyuman yang dipaksakan.
" Bukankah kita pernah membahas ini ? " tanya pemuda itu.
" Aku hanya ingin mengingat kata-katamu saja," balas gadis tersebut.
" Untuk apa Run ? Bukankah kamu tidak suka mengingat kenangan masa lalu ? " tanya pemuda itu lagi.
" Tidak semuanya. Terkadang kita perlu mengingat masa lalu kan. Lagian tak semua masa laluku itu menyakitkan," ujar gadis tersebut.
" Waah kata-kataku itu, " pemuda itu meledek gadis tersebut. Gadis itu hanya tersenyum. " Seperti yang pernah aku katakan padamu Run. Bahwa nama adalah harapan dan do'a yang orang tua kita berikan. Apapun itu namanya. Baik yang namanya panjang atau singkat, yang penuh filosofi atau tidak, itu semua adalah bentuk kasih sayang dari orang tua kita. Saat orang tua kita memberikan kita sebuah nama, semesta juga ikut mendoakan kita. Percaya atau tidak itu semua tergantung personality " jelas pemuda itu.
Mendengar penjelas dari pemuda itu gadis tersebut tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya dari pemuda tersebut ke hamparan bunga krisan yang bermekaran di taman rumah sakit.
" Terkadang kata-kata adalah sebuah delusi yang nyata ya. Dengan kata-kata kita mampu memberikan harapan yang entah itu benar atau hanya sebatas omong kosong," ujar gadis tersebut.
Mendengar ucapan gadis tersebut pemuda itu tersenyum tipis. Ia sudah paham dengan sudut pandang gadis itu. Sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang miliknya.
" Tapi dengan kata-kata kita mampu mengungkapkan apa pun isi hati kita. Entah itu baik atau buruk. Daripada dipendam di hati nanti malah jadi pikiran, terus ujung-ujungnya jadi penyakit. Dengan kata-kata juga kita mampu mengubah sesuatu hal. Banyak hal yang dapat diubah Run, hanya dengan kata-kata. Termasuk hati," kata pemuda itu.
" Berarti sebab penyakit ini mungkin karena aku kehabisan kata-kata ya, Jun. Jadi semua unek-unekku terpendam jauh di dasar relung hati. Hati yang bahkan hambar dan hitam. Hati yang tak mampu merasakan lagi hal yang indah di dunia," tutur gadis tersebut.
" Tidak seperti itu, Run. Terkadang hal yang bahagia atau lara tak harus diungkapkan dengan kata-kata. Cukup bersenandika saja pun tak apa. Itu semua tergantung dengan pemikiran tiap individu. Dan untuk masalah hati... itu semua ada proses dan progresnya. Tiap insan memiliki jam terbang masing-masing dalam hidupnya, Run. Begitu pula dengan hati," jelas pemuda itu.
" Kata-katamu terlalu menenangkan. Manis tiada habis. Tapi tidak tahu nanti akan berakhir manis atau tragis," balas gadis tersebut. Pemuda itu hanya terkekeh. " Tapi tak semua orang sepertimu, Jun. Selalu saja memiliki pemikiran yang positif terhadap dunia".
" Kan aku udah bilang. Itu semua tergantung dengan personality. Tuhan menciptakan makhluk-Nya dengan segala kepribadian, watak, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Semua sudah ada takarannya tersendiri," ujar pemuda itu.
" Aku tahu itu, Juna," balas gadis tersebut yang kini menatap pemuda itu. Pemuda tersebut membalas dengan senyuman hangat kemudian mengalihkan pandangannya ke hamparan bunga krisan yang berwarna-warni.
" Zodiak kamu apa, Run?" tanya pemuda itu.
Gadis tersebut mengernyitkan alisnya.
" Bukannya kamu sudah tahu?" tanya gadis itu.
" Aku hanya ingin mendengarkan dari bibirmu saja," ujar pemuda itu.
Gadis tersebut memutar bola matanya malas. Ia heran dengan kelakuan pemuda itu. Untuk apa menanyakan hal yang sudah ia ketahui. Hanya dengan alasan : "Ingin mendengarkan langsung dari bibirnya". Sungguh kurang kerjaan. Seperti tak ada pertanyaan lain yang lebih penting lagi.
" Scorpio " jawab gadis tersebut.
" Si kalajengking dong ".
" Oh jadi ini maksud kamu nanyain hal yang gak penting itu. Hanya untuk ngeledek aku. Iya? Terus nanti kamu pasti bilang gini "Pantesan yah kamu galak dan susah dideketin, soalnya kamu punya bisa yang mampu melumpuhkan setiap makhluk hidup yang mencoba mendekatimu" gitu kan?"
" Apaan sih, Run? Sensi amat. Bukan gitu maksudku," ujar pemuda itu sembari menyentil pelan dahi gadis tersebut. Gadis itu mengaduh kesakitan.
" Ih Juna! " tegur gadis tersebut dengan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang ingin membeli es krim namun tidak diperbolehkan oleh orang tuanya dengan berbagai alasan.
" Hahaha... makanya jangan suka negative thinking. "
Gadis itu hanya
" Eh, tapi ada benarnya juga yah. Kamu tuh galak, ketus, cuek, terus jarang senyum lagi," sindir pemuda tersebut.
" Tuh kan! " gadis itu mencubit-cubit lengan pemuda tersebut. Pemuda itu mendesah kesakitan.
" Aw! Sakit geh"
" Bodo amat,"
YOU ARE READING
Bunga Asa
Teen FictionTeruntuk hati yang sudah lelah menghadapi kesenyapan yang terlalu lama singgah. Kisah ini mengantarkan kita kepada titik jenuh terhadap kondisi yang sering kali kita ciptakan sendiri. Titik jenuh yang membuat hati dan ego bersawala. Dan sebuah kepas...
