Secret 1 - Bahan Gosip

31 8 15
                                        

Arsya yang baru selesai dengan pekerjaannya duduk santai di depan bartender. Gadis itu menelungkupkan kepalanya di meja. Tidak peduli dengan suara musik yang memenuhi seluruh penjuru bar. Hingar bingar musik itu tidak berhasil mendistraksi pikiran Arsya yang juga sama riuhnya

Benaknya dipenuhi dengan ingatan perihal obrolan antara dirinya dengan Erina dan Kanaya kemarin malam. Pertanyaan itu masih terngiang, seperti gema yang tidak mau berhenti di kepala Arsya.

"Saat kamu dihadapkan dengan dua pilihan, mana yang akan kamu dahulukan?"

Suara Erina terdengar tenang, tapi justru karena itu Arsya tahu, pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Tapi ada makna dalam dibaliknya.

Saat itu, Kanaya pun hanya diam dan menatapya lama, seolah menunggu jawaban yang bahkan sebetulnya Arsya sendiri tidak yakin. Begitu juga dengan Kanaya dan Erina sendiri.

Arsya tersenyum singkat, senyum tipis yang punya banyak makna. Ada jeda cukup lama sebelum Arsya menjawab.

"Gue? Ya gue pilih yang paling nguntungin lah," sahut Arsya santai. Jawabannya terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang ternyata justru terpatri kuat dalam ingatannya.

"Heh! Malah tiduran di sini. Itu ruang VIP minta tambahan minuman," seru salah satu pegawai yang termasuk sudah senior, Disty namanya. Memaksa Arsya untuk kembali ke realita.

Arsya menoleh dengan lesu, gadis itu benar-benar tidak berminat untuk melakukan pekerjaan lagi. Kakinya sudah sangat pegal sekarang, karena harus memakai sepatu dengan hak yang cukup tinggi. Belum lagi ditambah dengan pakaiannya yang cukup ketat. Arsya sebetulnya benci harus berpenampilan seperti ini.

"Sebentar," sahut Arsya pelan dan beranjak dari duduknya. Walaupun enggan dia tetap melakukan pekerjaannya. Bukan apa-apa, hanya pekerjaan ini yang bisa dia lakukan sekarang untuk menambah uang tabungannya. Setidaknya dengan begini dia tidak akan terlalu membebani Erina yang sudah terlalu banyak membantunya.

"Senyum Arsya, jangan buat tamu gue kesal karena lo nggak senyum. Mereka itu tamu VIP." Baru juga selangkah, Arsya sudah di tegur Adrian karena tidak tersenyum.

"Iya, ini gue senyum," ucap Arsya sebal sembari memamerkan senyum paksa dengan kedua jarinya yan menarik sudut bibir ke atas agar terlihat sedang tersenyum.

"Good, semangat anak manis. Nanti gue kasih bonus," ucap Adrian yang langsung dibalas senyum lebar oleh Arsya. Dan itu bukanlah yang pertama kali Arsya lakukan, tapi hampir setiap saat. Hanya agar dirinya bisa memperoleh bonus dari Adrian dengan cuma-cuma.

Adrian hanya bisa menggeleng kepala, dia takjub pada pegawainya satu itu. Karena hanya Arsya yang berani berbicara santai padanya, bahkan kadang kala malah membantah perintahnya. Satu hal yang Adrian pahami dari Arsya, gadis itu hanya akan tunduk pada uang. Terbukti dengan gadis itu yang langsung tersenyum lebar saat Adrian mengatakan akan memberinya bonus.

"Bisa-bisanya si bos masih memperkerjakan Arsya, kelakuannya aja nggak jelas kayak gitu, mata duitan pula," bisik salah seorang pegawai yang sedang membersihkan meja, tak jauh dari tempat Adrian duduk.

"Iya, mana sama Pak Bos ngomongnya nggak ada sopan-sopannya pula. Padahal kan dia paling muda di sini," balas pegawai lain masih dengan berbisik.

"Tapi anehnya tuh Pak Bos sama sekali nggak pernah tegur dia. Padahal kalau pegawai lain ada kesalahan dikit aja, pasti langsung dipanggil," imbuhnya memprovokasi rekan kerjanya.

"Apa jangan-jangan Arsya suka rayu Pak Bos, makanya dia jadi kesayangan."

"Pasti sih. Lihat aja tuh, dia langsung dikasih duit cuma-cuma."

Secret TasteStories to obsess over. Discover now