Setiap aku memasuki kelas, mereka semua menatapku. Walaupun aku tak melihat kearah mereka, aku bisa merasakan jika mereka menatapku. Beberapa siswi di kelasku mungkin membicarakanku. Aku ingin bertanya pada mereka, kenapa menatapku? Tapi sepertinya pertanyaan itu tidak penting, toh aku sudah tau penyebabnya, pasti gosipnya sudah menyebar. Memangnya mereka tidak pernah merasakan jatuh cinta? Aku memang anak yang agak pendiam di kelas, tak memiliki banyak teman, bahkan temanku menjauhiku. Tapi, aku bukan anak yang mudah untuk dibully, aku bisa melawan mereka, aku juga bukan anak yang penakut.
Lagi lagi ada yang membuat tulisan aneh diatas mejaku. Tulisannya masih sama, pasti dia lagi yang membuat tulisan ini. Si ketua kelas yang tidak berguna, tak mencerminkan 'ketua kelas', bahkan aku pernah memergokinya merokok. Kenakalannya ditutupi oleh wajah polos dan lugunya, seperti kutu buku, dasar munafik.
"Kau terlihat lelah, apa kau habis bermain dengan kekasihmu itu? Hahaha" ucap salah satu murid
Aku hanya diam. Mengambil sebuah buku tebal lalu melemparnya kehadapan murid itu.
"Ya, aku habis bermain dengan kekasihku, itu, kekasihku" ucapku sambil menunjuk buku yang aku lempar
"Semalam aku mengerjakan tugas, tak ada satupun soal yang aku lewati, aku bermain dengan baik bukan?" lanjutku
Mengambil buku lalu kembali ke tempat dudukku. Dia hanya bisa diam.
Sepulang sekolah, ia sudah menungguku di seberang gerbang sekolah. Dia adalah ayah angkatku, namanya Son Hyunwoo. Kami hanya tinggal berdua, karena setahun yang lalu istrinya meninggal dunia. Mereka belum mempunyai anak, lalu mereka memutuskan untuk mengadopsiku, tiga tahun yang lalu.
"Sudah lama menungguku?" tanyaku sembari masuk ke dalam mobil, begitupun dirinya
"15 menit yang lalu"
"Begitu"
"makan yang banyak" ucap ayah
"Aku mau diet, aku sudah terlihat gemuk saat ini"
"Tak usah diet diet, mau kau kurus atau gemuk tetap saja tak ada yang mau denganmu" ejek ayah
"Jangan mengejekku! Aku ingin beli make up"
"Pakai saja uang jajanmu"
"Pelit sekali"
Aku membuka pintu saat mendengar ada yang mengetuk. Kihyun, ia orang yang pernah menyatakan cintanya padaku, namun belum aku jawab. Entah karena menunggu jawaban dariku atau ia hanya ingin bertemu denganku, ia sering datang kerumahku. Ya walapun ayahku sering memarahiku karena membawa seorang lelaki ke rumah.
Saat ini ayah sedang tidak ada dirumah, jadi aku menyuruh Kihyun untuk masuk saja.
Aku tak keberatan ia memasuki kamarku, toh tak akan melakukan apapun, hanya mengerjakan tugas dan mengobrol biasa, walaupun kadang ia menggodaku.
Keesokan harinya kami berangkat bersama. Aku dan Kihyun tak satu kelas namun kelas kami bersebelahan. Lagi lagi aku mendapatkan tatapan itu. Mungkin Kihyun satu satunya temanku saat ini. Aku harap ia tidak mempercayai gosip tentangku, atau ia juga akan menjauhiku.
Aku dan Kihyun duduk di bangku dekat kolam ikan setiap istirahat. Kami menjadi lebih dekat sekarang. Aku harap Kihyun tetap mau berteman dengaku walaupun ia mengetahui gosip itu. Aku benar benar mengutuk si penyebar gosip.
"Kihyun"
"Ya?"
"Apa kau sudah mendengar gosip?"
"Gosip? Gosip apa?"
"Benar kau tidak tau?"
Kihyun mengangguk
"Ya, aku tak tau, aku tidak suka menggosip, lagipula aku tak peduli soal gosip, bahkan apa yang mereka bicarakan juga belum tentu benar kan?" ucapnya
Syukurlah jika ia tak mengetahui gosip itu.
Seperti biasa. Ayahku sudah menunggu di seberang gerbang sekolah untuk menjemputku. Kali ini Kihyun akan pulang bersamaku karena kami sama sama ada tugas, dan akan mengerjakannya bersama.
Entah kenapa, aku merasa jika ayah tak suka pada Kihyun. Ya, aku tau ia khawatir jika Kihyun macam macam, tapi, menurutku ia anak yang baik, bukan anak nakal yang selalu diam di sebuah gang untuk menindas siapapun yang melewati gang itu, bahkan wajahnya tak mendukung jika ia menjadi seorang preman haha, ia sangat imut. Hei apa aku mulai menyukainya?
"Maaf Kihyun, aku tak suka jika ada seorang pria asing dirumahku berlama lama" ucap ayahku
"Ah, iya, aku mengerti" ucap Kihyun sambil membungkukkan tubuhnya
"Ayah ia temanku, bukan orang asing, jangan seperti itu padanya" ucapku membela Kihyun
Ayahku hanya menatapku dingin lalu naik ke atas.
Aku merasa tak enak pada Kihyun karena perkataan ayahku tadi. Ia pasti merasa sakit hati. Seharusnya jika ada teman anaknya yang berkunjung ke rumahnya, ibu atau ayahnya akan menyambut dengan hangat, tapi ayahku berbeda, ia tidak suka jika ada orang lain yang berkunjung ke rumah berlama lama.
Aku dan Kihyun memutuskan untuk mengerjakan tugas di kamarku.
Penjaga toko itu terlihat terkejut saat aku membeli sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak dibeli oleh anak seusiaku, ya walaupun tidak sedikit anak perempuan yang membeli ini. Penjaga toko itu menatapku aneh. Aku bisa mengerti, jadi aku tak protes. Bahkan pembeli di belakangkupun membicarakanku.
Aku melihat benda itu menunjukan dua buah garis, yang artinya positif. Aku tak terkejut, karena aku sudah menduga pasti ini akan terjadi. Aku tak tau reaksi ayahku saat mengetahui ini. Dan bagaimana aku bilang pada Kihyun, apa ia akan tetap menerimaku atau tidak. Apapun yang mereka putuskan aku akan menerimanya.
Aku tau, kenapa ayah melarangku membiarkan orang asing berkunjung ke rumah terlalu lama, apalagi jika seorang pria. Ia tidak suka jika aku bersama dengan seorang pria. Ia takut jika apa yang kami lakukan terbongkar. Dan, ia cemburu jika aku bersama dengan teman laki lakiku.
Aku menghampiri ayah. Ia tengah terlelap. Aku membaringkan tubuhku disampingnya. Memeluk tubuhnya, dan berkata padanya
"Hyunwoo, kau akan menjadi seorang ayah"
End
